Heboh seleksi Paskibraka Sulsel, Cathlyn dicoret diduga karena tak fasih bahasa daerah, PPI soroti transparansi penilaian.
MAKASSAR, Kalderanews.com – Seleksi calon Paskibraka tingkat Sulawesi Selatan menjadi sorotan publik setelah nama Cathlyn Yvaine Lesmana yang semula masuk tiga besar calon wakil ke tingkat nasional tiba-tiba tergeser.
Siswi asal Makassar tersebut kemudian digantikan oleh peserta lain dari Jeneponto. Polemik ini ramai dibahas di media sosial dan memunculkan pertanyaan mengenai transparansi proses seleksi yang dilakukan panitia tingkat provinsi.
Ketua Purna Paskibraka Indonesia (PPI) Makassar, Muhammad Fahmi, mengaku mempertanyakan mekanisme penilaian yang dinilai berlangsung tertutup.
BACA JUGA:
- Pendaftaran Paskibraka Resmi Dibuka Februari, Ini Syarat dan Cara Daftarnya Buat Kelas X SMK/SMA
- Berapa Honor Paskibraka yang Didapat? Inilah Kisaran Gaji yang Didapat oleh Petugas Paskibraka
- Banyak Tuai Kritikan, 18 Anggota Paskibraka Putri Dipastikan Kembali Berhijab saat Upacara 17 Agustus
Diduga Cathlyn Yvaine Lesmana tidak bisa bahasa daerah
Menurutnya, selama proses kegiatan berlangsung di GOR Sudiang, seluruh tahapan terlihat terbuka, namun proses penentuan akhir justru tidak dilakukan secara transparan.
“Tim penilai kan banyak unsur, dari informasi kami himpun. Teman-teman tidak bisa masuk dalam ruang penilaian,” ujar Muhammad Fahmi saat dihubungi, Senin (25/5/2026).
Ia juga menyoroti adanya dua kali proses pengumuman hasil penilaian yang dianggap membingungkan.
“Tapi penilaian pengumuman ini kenapa tertutup dan dua kali dilaksanakan. Satu kali dulu, baru di keluarkan pendamping. Penilaian selanjutnya baru diumumkan. Kita tidak permasalahkan siapapun lolos,” kata Muhammad Fahmi.
Fahmi kemudian menyinggung dugaan adanya penilaian kemampuan bahasa daerah dalam proses seleksi. Hal itu disebut berdampak pada posisi Cathlyn yang diketahui fasih berbahasa Inggris dan Mandarin.
“Masa kalah karena tidak bisa bahasa daerah. Ini kita pertanyakan apakah bahasa daerah jadi indikator wajib dikuasai?,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa aturan baris-berbaris di tingkat nasional tetap menggunakan Bahasa Indonesia, bukan bahasa daerah.
“Tidak ada aturan baris berbaris menggunakan bahasa daerah, di pusat pun pakai bahasa Indonesia,” kata Fahmi.
Menurut Fahmi, nilai Cathlyn sebenarnya hampir sempurna dan dinilai aman secara kemampuan. Oleh karena itu, ia heran ketika nama Cathlyn justru turun dari posisi tiga besar dan digantikan peserta lain yang disebut tidak masuk 10 besar sebelumnya.
“Dari perankingan, adik kita mendekati sempurna nilainya. Hampir seratus, artinya secara kemampuan aman. Tapi pas mengusulkan 3 besar justru turun diganti yang tidak masuk 10 besar,” lanjutnya.
Selain soal penilaian, Fahmi juga menyoroti isu dugaan rasisme karena Cathlyn diketahui beretnis Tionghoa.
Kesbangpol Sulsel berikan tanggapan
Menanggapi polemik yang berkembang, Kepala Badan Kesatuan Bangsa dan Politik (Kesbangpol) Sulawesi Selatan, Bustanul Arifin, menegaskan proses seleksi telah berjalan sesuai aturan dan membantah adanya titipan maupun diskriminasi rasial.
“Dari awal kami pastikan pelaksanaan seleksi utusan kabupaten/kota ke provinsi berjalan objektif dan transparan. Tidak ada titipan, apalagi diskriminasi rasial,” kata Bustanul Arifin dalam keterangannya, Senin (25/5/2026).
Menurutnya, penilaian peserta menuju tingkat nasional tidak hanya berdasarkan nilai PWK dan TIU, tetapi juga mempertimbangkan sejumlah aspek lain seperti kesamaptaan, peraturan baris-berbaris (PBB), keterampilan, hingga kepribadian peserta.
Ia menjelaskan, proses seleksi dilakukan langsung oleh tim pusat yang terdiri atas unsur Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP), DPPI Pusat, TNI, Polri, hingga Sekretariat Militer Presiden (Setmilpres).
Bustanul juga menilai isu etnis seharusnya tidak dibawa dalam polemik seleksi tersebut.
“Yang agak lucu kenapa yang dipersoalkan adalah utusan kota Makassar yang kebetulan etnis Tionghoa. Padahal Kota Makassar mengirim tiga utusan putri, dan dari hasil seleksi utusan putri dari Makassar, utusan yang lain lebih tinggi (nilainya) dari utusan dimaksud (Cathlyn), harusnya yg lebih tinggi nilainya itu yg diperjuangkan” katanya.
“Tidak ada menganulir sepihak atau penggantian, logikanya kalau ada anggapan menganulir pengumuman atau ada penggantian, harusnya ada pengumuman awal dan diganti dengan pengumuman baru, tunjukkan ke saya mana pengumuman yang dianulir atau diganti tersebut” lanjutnya.
Walaupun Cathlyn batal berangkat ke tingkat pusat, ia disebut tetap akan bertugas sebagai anggota Paskibraka di tingkat Provinsi Sulawesi Selatan nantinya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply