Profil Rifaldy Fajar dan Prihantini, Sosok di Balik Kasus Riset Palsu

Rifaldy Fajar (Kalderanews/Instagram @rifaldyfajar)
Rifaldy Fajar (Kalderanews/Instagram @rifaldyfajar)
Sharing for Empowerment

Inilah profil Rifaldy Fajar dan Prihantini, dua orang yang diduga menjadi sosok kasus riset palsu dalam konferensi ilmiah internasional.


JAKARTA, KalderaNews.com-  Nama Rifaldy Fajar dan Prihantini menjadi sorotan publik setelah muncul dugaan pemalsuan riset dalam konferensi ilmiah internasional.

Kasus ini ramai dibahas di media sosial usai sejumlah akademisi menemukan kejanggalan dalam penelitian yang dipresentasikan pada ajang ISPPD 2026 di luar negeri.

Dugaan tersebut pertama kali diungkap akun Threads @mandharabrasika. Dalam unggahannya, akun itu menyoroti lokasi penelitian yang dinilai tidak masuk akal karena dilakukan di berbagai negara, tetapi seluruh penelitinya berasal dari Indonesia tanpa kolaborator lokal maupun informasi persetujuan etik penelitian.

BACA JUGA:

“Lokasi riset tidak masuk akal:Peruvian Andes, dataran tinggi Ethiopia, dataran tinggi Guatemala, Lebanon, Jordan, Bangladesh, South Sudan, Philippines, Kenya, Nepal, Malawi, India utara Tapi perisetnya semua Indonesia, tanpa kolaborator setempat, tanpa keterangan persetujuan etik,” tulis akun Threads @mandharabrasika.

Tak hanya itu, lembaga penelitian yang dicantumkan dalam publikasi juga diduga tidak terdaftar atau fiktif.

“Bahkan afiliasinya: Al-BioMedicine Research Group, IMCDS-BioMed Research Foundation, Jakarta, Indonesia tidak ditemukan,” tulisnya lagi.

Seret dua nama, Rifaldy Fajar dan Prihantini

Dugaan tersebut kemudian menyeret nama Rifaldy Fajar. Ia diketahui merupakan lulusan Program Studi Matematika Universitas Negeri Yogyakarta (UNY) angkatan 2014. Semasa kuliah, Rifaldy dikenal sebagai mahasiswa berprestasi dan pernah meraih predikat Mahasiswa Berprestasi Utama UNY pada 2017.

Rifaldy disebut aktif mengikuti berbagai konferensi internasional dan mempresentasikan karya ilmiah di sejumlah negara. Namun, setelah dugaan kejanggalan penelitian mencuat, namanya ikut ramai diperbincangkan di media sosial.

Selain Rifaldy, nama Prihantini juga ikut terseret dalam polemik tersebut. Sosok yang akrab disapa Titin itu disebut kerap menghadiri konferensi ilmiah luar negeri dalam rentang waktu yang berdekatan.

Prihantini merupakan lulusan sarjana dari Universitas Negeri Yogyakarta (UNY). Saat menempuh pendidikan S1, ia tercatat sebagai penerima beasiswa Bidikmisi.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan magister melalui beasiswa LPDP di Institut Teknologi Bandung (ITB) jurusan Matematika.

Di media sosial, Prihantini juga aktif membagikan aktivitas dan dokumentasi keikutsertaannya dalam konferensi internasional melalui akun Instagram dan TikTok pribadinya.

Dalam unggahan lain, akun @mandharabrasika menuding riset yang dipresentasikan Prihantini dan tim diduga dibuat menggunakan kecerdasan buatan atau AI.

“Bukan hanya identitas, risetnya pun palsu! Dibuat dengan AI dan/atau fabrikasi data. Risetnya dibuat terlihat sangat hebat. Padahal risetnya tidak pernah ada. Datanya palsu di generate AI, gambar dan tulisan nya juga.” tulis @mandharabrasika.

Modus tersebut diduga dilakukan untuk mendapatkan pendanaan perjalanan atau travel grant ke luar negeri. Hingga kini, polemik dugaan pemalsuan riset tersebut masih menjadi perbincangan hangat di media sosial.

Rifaldy Fajar buka suara terkait tudingan di media sosial

Di tengah ramainya kritik dan perbincangan di media sosial terkait dugaan pemalsuan riset, Rifaldy akhirnya buka suara mewakili timnya. Ia menyampaikan klarifikasi setelah isu tersebut terus berkembang dan menjadi sorotan publik.

Melalui pernyataannya, Rifaldy mengaku sebenarnya telah berencana memberikan penjelasan mengenai polemik yang muncul. Namun, sebelum klarifikasi itu disampaikan, situasi disebut semakin memanas akibat berbagai unggahan lanjutan yang beredar di media sosial.

“Saya Rifaldy, yang mewakili teman-teman tim yang saat ini sedang berkaitan dengan informasi yang tengah viral,” bunyi pernyataan pembuka yang disampaikan Rifaldy.

Rifaldy menjelaskan, sejak isu tersebut viral, kondisi mental anggota timnya disebut cukup terganggu. Ia menilai sebagian komentar warganet sudah tidak lagi disampaikan secara bijak dalam menyikapi persoalan yang sedang terjadi.

Selain itu, Rifaldy mengungkapkan salah satu rekannya, Prihantini, mengalami peretasan akun media sosial. Ia mengatakan akun-akun tersebut kini sudah tidak dapat diakses dan dikhawatirkan berpotensi disalahgunakan oleh pihak tertentu.

“Kami juga tidak mengetahui apabila nantinya akun tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kondisi ini tentu membuat kami sangat terpukul dan tertekan secara mental.Kami juga tidak mengetahui apabila nantinya akun tersebut disalahgunakan oleh pihak tertentu. Kondisi ini tentu membuat kami sangat terpukul dan tertekan secacara
mental,” tulisnya.

Tak hanya menyinggung tekanan psikologis yang dialami timnya, Rifaldy juga menyayangkan tidak adanya upaya tabayyun atau klarifikasi secara langsung sebelum isu tersebut menyebar luas ke publik.

Ia pun meminta masyarakat agar menyikapi polemik tersebut dengan lebih bijaksana dan tidak melakukan serangan personal terhadap pihak-pihak yang terlibat.

“Kami mohon kepada semua pihak untuk dapat menyikapi persoalan ini dengan lebih bijak, tidak melakukan serangan personal, dan tidak menggiring kebencian yang dapat merugikan pihak lain secara mental maupun privasi,” lanjutnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*