IHSG babak belur ke level 6.442 mirip masa COVID. Kapitalisasi pasar menguap hingga Rp5.278 triliun!
The Path to Financial Freedom, EduFulus – Pasar saham Indonesia tengah menghadapi tekanan hebat yang memicu kekhawatiran di kalangan investor. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG hari ini) babak belur setelah mencatatkan kejatuhan tajam hingga 4,18% ke level 6.442 pada perdagangan intraday, Senin (18/5) pukul 10.29 WIB.
Penurunan tajam ini memaksa wajah bursa domestik kembali bernostalgia dengan masa COVID-19 silam, tepatnya pada periode tahun 2021 di mana indeks kerap bertengger di level 6.000-an akibat hantaman ketidakpastian pandemi.
Aktivitas perdagangan domestik terpantau sangat masif dengan volume saham yang diperdagangkan mencapai 16,21 miliar lembar saham, membukukan nilai transaksi agregat sebesar Rp8,72 triliun.
SIMAK JUGA: Sukanto Tanoto Kangkangi Kekayaan Prajogo Pangestu yang Ambles Efek MSCI
Tekanan jual yang begitu masif membuat posisi pasar saham sangat timpang; tercatat hanya 69 saham yang berhasil menguat di zona hijau, sementara sisanya rontok berjamaah ke zona merah.
Dari All-Time High Menuju Kenyataan Pahit: Rp5.278 Triliun Menguap
Hanya dalam kurun waktu kurang dari empat bulan, kekayaan di pasar saham Indonesia terkikis drastis. Sebagai kilas balik, pada 20 Januari 2026 yang lalu, IHSG sempat menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah atau All-Time High (ATH) di level 9.134. Saat itu, kapitalisasi pasar (market cap) bursa RI mencatatkan angka fantastis mencapai Rp16.590 triliun.
Namun kini, posisi psikologis tersebut runtuh. Akibat IHSG anjlok berturut-turut belakangan ini, nilai kapitalisasi pasar menyusut drastis menjadi hanya Rp11.312 triliun.
Artinya, sejak menyentuh level tertinggi di awal tahun, kapitalisasi pasar saham Indonesia telah menguap hingga Rp5.278 triliun atau merosot sedalam 31,8%.
Kondisi ini mencerminkan fenomena derating pasar yang sesungguhnya telah membayangi bursa dalam dua tahun terakhir. Berdasarkan analisis dari Syailendra Capital, valuasi pasar saham dalam negeri diperkirakan tetap tertahan pada level minus 0,5 kali standar deviasi (-0,5 SD) untuk tahun 2026.
Meskipun demikian, Syailendra Capital memproyeksikan bahwa pertumbuhan laba per saham (Earnings Per Share/EPS growth) pasar saham Indonesia akan berada di kisaran 8%–10% pada tahun 2026. Secara fundamental murni (adjusted JCI), level wajar IHSG dinilai rasional berada di kisaran 6.500 untuk tahun ini, yang berarti posisi saat ini sebenarnya mencerminkan nilai wajar fundamentalnya.
Guncangan Global: Risiko Suku Bunga AS hingga Sentimen Risk-Off
Mengapa bursa RI bisa terlempar kembali ke zaman krisis ekonomi mirip masa COVID-19? Faktor pemicu utamanya tidak lepas dari gejolak makroekonomi global dan kebijakan moneter ketat di Amerika Serikat.
Saat ini, fokus para pelaku pasar global tertuju pada laporan keuangan raksasa teknologi Nvidia serta rilis risalah rapat Federal Open Market Committee (FOMC Minutes).
Investor global bergerak agresif memburu aset aman (safe haven) menyusul rilis data inflasi AS yang secara mengejutkan melesat lebih tinggi dari ekspektasi pasar. Kondisi ini memicu kekhawatiran bahwa suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama (higher for longer).
Di saat yang sama, restrukturisasi struktural terjadi di Bank Sentral AS seiring konfirmasi Senat AS terhadap Kevin Warsh sebagai Ketua The Fed yang baru menggantikan Jerome Powell.
Sentimen negatif ini diperparah oleh eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, di mana harga minyak mentah Brent melonjak hingga menyentuh US$111 per barel akibat ancaman Presiden AS Donald Trump terhadap Iran.
Analis Doo Financial, Lukman Leong, menegaskan bahwa penguatan dolar AS yang signifikan saat ini ditopang oleh aksi jual massal (sell-off) pada instrumen berisiko di seluruh belahan dunia.
“Rupiah berpotensi kembali melemah merespons sentimen risk-off global. Dolar AS menguat cukup besar di tengah sell-off seluruh aset,” ujar Lukman. Aksi jual ini melanda obligasi, saham, mata uang kripto, hingga mata uang negara berkembang.
Kurs Rupiah Alami Level Terlemah Sepanjang Sejarah
Dampak langsung dari fenomena sell-off global ini merembet kuat ke sektor nilai tukar.
Kurs rupiah melemah hebat mendekati level Rp17.700 per dolar AS pada perdagangan pagi ini. Posisi ini menorehkan catatan kelam baru sebagai level terlemah sepanjang sejarah runtuhnya nilai mata uang Garuda.
Guna meredam volatilitas yang semakin liar, pasar kini menaruh harapan besar pada hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia (RDG BI) yang dijadwalkan pada 20 Mei 2026. Mayoritas konsensus pasar memproyeksikan Bank Indonesia akan mengambil langkah konservatif dengan menahan suku bunga acuan (BI Rate) di level 4,75%.
Selain keputusan BI Rate, investor juga menunggu rilis data pertumbuhan kredit, transaksi berjalan kuartal I-2026, serta jumlah uang beredar (M2) untuk mengukur kekuatan internal ekonomi domestik.
Tanggapan Presiden Prabowo: “Masyarakat di Desa Tidak Pakai Dolar”
Meskipun kondisi pasar saham domestik babak belur dan rupiah terdepresiasi ke titik terendah, Pemerintah mengimbau masyarakat untuk tidak panik secara berlebihan.
Presiden Prabowo Subianto menegaskan bahwa fluktuasi nilai tukar yang terjadi di pasar keuangan tidak perlu mengkhawatirkan masyarakat luas, khususnya di sektor riil.
“Selama Purbaya (Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa) bisa senyum, tenang saja tidak usah khawatir. Mau dolar berapa ribu (rupiah) kek, kalian di desa-desa tidak pakai dolar,” kata Presiden Prabowo saat peresmian operasionalisasi 1.061 unit Koperasi Desa Merah Putih di Nganjuk, Jawa Timur.
Presiden menambahkan bahwa pihak yang cenderung khawatir dan pusing terkait kurs rupiah adalah orang-orang yang sering melakukan perjalanan ke luar negeri.
Ia optimistis bahwa fundamental ekonomi Indonesia tetap kuat menahan guncangan eksternal ini. “Orang mau bilang apa, Indonesia kuat. Percaya pada kekuatan kita, percaya kepada rakyat kita,” tegasnya.
Melihat Peluang di Tengah Koreksi Dalam
Sama seperti periode krisis masa COVID-19 tahun 2020–2021 yang lalu, kejatuhan pasar saham yang dalam sering kali membuka peluang akumulasi bagi investor jangka panjang.
Syailendra Capital dalam risetnya menyebutkan bahwa tahun 2026 akan menjadi titik momentum penting di mana pasar memiliki ekspektasi atas pemulihan pendapatan (earnings recovery) yang lebih tinggi dibandingkan tahun 2025.
Bagi investor ritel, situasi volatilitas tinggi ini menuntut kecermatan dalam memilih saham-saham berfundamental sehat yang telah terdiskon secara tidak wajar (undervalued).
SIMAK JUGA: Geser Prajogo Pangestu, Pham Nhat Vuong Jadi Orang Terkaya di ASEAN
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply