Viral Kabar 60 Ribu Calon Maba Tak Daftar Ulang SNBP, UKT Jadi Pemicu

Sharing for Empowerment

Kabar 60 ribu calon mahasiswa tidak daftar ulang SNBP ramai diperbincangkan. Panitia SNPMB buka suara terkait kabar tersebut.

JAKARTA, KalderaNews.com– Belakangan ini muncul informasi yang menyebut sekitar 60 ribu calon mahasiswa yang lolos melalui jalur Seleksi Nasional Berdasarkan Prestasi (SNBP) tidak melakukan daftar ulang.

Narasi tersebut memicu perhatian publik karena dianggap menunjukkan banyak kursi perguruan tinggi negeri (PTN) yang tidak terisi.

Berdasarkan data yang beredar, puluhan ribu calon mahasiswa disebut memilih tidak melanjutkan proses registrasi setelah dinyatakan lolos seleksi.

Jumlah tersebut kemudian memunculkan berbagai pertanyaan terkait efektivitas sistem penerimaan mahasiswa baru, mulai dari faktor pilihan jurusan hingga persoalan ekonomi.

BACA JUGA:

Faktor ekonomi jadi salah satu pemicu calon maba tidak daftar ulang

Fenomena ini mendapat sorotan dari Komisi X DPR RI. Anggota Komisi X DPR RI, Sofyan Tan, meminta Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemdiktisaintek) melakukan penelusuran lebih mendalam mengenai alasan calon mahasiswa tidak melanjutkan proses registrasi.

“Apakah 60 ribu itu memilih jurusan yang salah atau memang diloloskan pada jurusan yang tidak dia berkenan? Yang kedua apakah dia diterima di perguruan tinggi negeri yang lain yang menurut yang bersangkutan lebih sesuai?” ujar Sofyan Tan.

Menurut Sofyan, ada sejumlah kemungkinan yang melatarbelakangi keputusan tersebut. Selain faktor ketidaksesuaian jurusan dan pilihan kampus, ia juga menyoroti kemungkinan adanya kendala ekonomi yang membuat calon mahasiswa batal melanjutkan pendidikan tinggi.

“Yang paling dikhawatirkan adalah yang ketiga bahwa yang lolos ini karena tidak bisa dibiayai lewat KIP Kuliah, maka mereka itu tidak melanjut. Nah, karena itu yang terakhir ini harus didalami dan disurvei untuk mencari apakah betul yang seperti ini yang dugaan banyak orang,” imbuhnya.

Kekhawatiran mengenai biaya pendidikan memang menjadi salah satu isu yang sering muncul dalam proses penerimaan mahasiswa baru.

Sebagian calon mahasiswa mengandalkan bantuan pendidikan seperti Kartu Indonesia Pintar (KIP) Kuliah untuk melanjutkan studi. Ketika bantuan tersebut tidak diperoleh atau tidak mencukupi kebutuhan pendidikan, sebagian peserta berpotensi mengurungkan niat untuk mendaftar ulang.

Panitia SNPMB buka suara terkait data 60 ribu peserta SNBP tidak melakukan daftar ulang

Meski demikian, Panitia Seleksi Nasional Penerimaan Mahasiswa Baru (SNPMB) menegaskan bahwa informasi yang menyebut 60 ribu peserta SNBP tidak melakukan daftar ulang tidak sepenuhnya benar.

Ketua Umum Tim Penanggung Jawab SNPMB 2026, Eduart Wolok, menjelaskan bahwa angka 60 ribuan tersebut merupakan akumulasi peserta yang tidak melakukan daftar ulang dari seluruh jalur seleksi pada pelaksanaan SNPMB 2025, bukan hanya jalur SNBP.

“60 ribuan itu (10% dari data total awal) yang tidak daftar ulang semua jalur (SNBP, SNBT, dan Mandiri) di SNPMB 2025,” jelasnya melalui konfirmasi kepada detikEdu, Rabu (24/6/2026).

Ia menambahkan bahwa tingkat registrasi ulang peserta yang diterima melalui jalur SNBP sebenarnya cukup tinggi.

“Untuk SNBP sendiri persentase daftar ulang dari yang diterima ada di angka 92%,” kata Eduart lagi.

Jadi evaluasi untuk penyelenggaraan SNPMB pada tahun-tahun berikutnya

Eduart menyebut berbagai masukan terkait alasan calon mahasiswa batal melakukan registrasi ulang akan menjadi bahan evaluasi untuk penyelenggaraan SNPMB pada tahun-tahun berikutnya.

“Menjadi masukan untuk pelaksanaan berikutnya, termasuk sosialisasi dan pemahaman akan pilihan yang diambil harus yang benar-benar diminati oleh peserta,” ungkapnya.

Selain itu, panitia mengingatkan bahwa tingkat daftar ulang peserta juga dapat memengaruhi kuota SNBP bagi sekolah asal di masa mendatang.

Apabila banyak siswa yang telah diterima namun tidak mengambil kesempatan tersebut, kuota penerimaan untuk sekolah terkait berpotensi dikurangi.

“Banyak siswa dari sekolah lain yang ingin, sangat ingin untuk mendapatkan kuota tersebut,” ucapnya.

“Kita mengurangi kuota sekolah itu ketika kuota sekolah itu yang kita berikan itu tidak diambil. Jadi kita tidak ingin memberikan kuota kepada sekolah yang nantinya tidak akan diambil juga oleh siswa yang lulus,” kata Eduart.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


216 views