
Gletser di perbatasan Nepal-Tibet runtuh dan memicu banjir bandang. Apa yang terjadi pada mikroba saat gletser mencair?
JAKARTA, KalderaNews.com- Banjir bandang terjadi di kawasan perbatasan Nepal dan Tibet setelah diduga terjadi keruntuhan massa gletser di wilayah tersebut.
Peristiwa ini menjadi perhatian karena tidak hanya berpotensi menyebabkan bencana hidrometeorologi, tetapi juga berkaitan dengan dampak pencairan gletser terhadap mikroorganisme yang selama ini hidup di dalam maupun di sekitar lapisan es.
Mengutip keterangan dari akun X @daryono_eq_talk, citra satelit Planet Labs merekam terlepasnya bagian lidah gletser dengan luas sekitar 200.000 meter persegi.
BACA JUGA:
- Wamen Stella Dorong Budaya Riset STEAM di SMA Kolese Gonzaga
- Apa Urgensi Riset Jauh-Jauh Sampai Antartika BRIN-NASC Ukraina?
- Ketika Ekspektasi Riset Canggih BRIN Bertemu Genteng dan Keripik
Gletser tersebut berada di ketinggian sekitar 5.200 meter di atas permukaan laut. Massa es itu kemudian jatuh secara vertikal hingga sekitar 1.200 meter dan menghantam dasar Lembah Lhende.
Keruntuhan massa es tersebut diduga menjadi salah satu pemicu terjadinya banjir bandang di kawasan perbatasan Nepal-Tibet.
Namun, pencairan dan keruntuhan gletser juga menimbulkan perhatian lain, khususnya terkait mikroba yang tersimpan di dalam lapisan es.
Ratusan Ribu Ton Mikroba Bisa Terlepas
Penelitian menunjukkan bahwa pencairan gletser dapat menyebabkan mikroorganisme yang selama ini berada di dalam es ikut dilepaskan ke lingkungan.
Dilansir dari The Guardian, studi mengenai air lelehan gletser menemukan adanya puluhan ribu mikroba dalam setiap mililiter air. Mikroorganisme tersebut kemudian dapat terbawa aliran air menuju wilayah hilir.
Para peneliti sebelumnya mengambil sampel air lelehan permukaan dari delapan gletser yang berada di Eropa dan Amerika Utara. Sampel juga dikumpulkan dari dua lokasi di lapisan es Greenland.
Hasil penelitian memperlihatkan bahwa pencairan gletser dapat melepaskan bakteri dan alga dalam jumlah yang sangat besar. Diperkirakan sekitar 650.000 ton karbon yang berasal dari mikroba dapat dilepaskan setiap tahun selama 80 tahun ke depan di belahan bumi utara.
Perkiraan tersebut belum mencakup kawasan Himalaya Hindu Kush karena sampel dari wilayah tersebut belum tersedia.
Pelepasan karbon dari mikroorganisme tersebut juga berpotensi memberikan kontribusi terhadap peningkatan emisi karbon dioksida (CO2), meskipun diperkirakan berlangsung dalam tingkat yang moderat dan berkelanjutan.
Pengurangan Emisi Bisa Kurangi Pelepasan Mikroba
Peneliti dari Universitas Aberystwyth di Wales, Dr Arwyn Edwards, mengatakan pengurangan emisi karbon dapat membantu memperlambat laju pemanasan global dan pencairan gletser.
Dengan berkurangnya pencairan es, jumlah mikroba yang dilepaskan ke lingkungan juga diperkirakan menurun.
Menurut Edwards, pengurangan emisi dapat menekan massa mikroba yang dilepaskan dari gletser hingga sekitar sepertiga.
Ia menggambarkan kondisi gletser saat ini sebagai sebuah proses yang sedang berlangsung di depan mata. Pencairan es tidak hanya mengubah bentang alam, tetapi juga memengaruhi mikroorganisme yang hidup di dalamnya dan berpotensi memberikan dampak terhadap lingkungan sekitar.
Meski demikian, para ilmuwan hingga kini masih belum memiliki cukup informasi untuk memahami seluruh manfaat maupun potensi ancaman dari mikroba yang dilepaskan akibat pencairan gletser.
Salah satu kekhawatiran yang kerap muncul adalah kemungkinan adanya mikroorganisme patogen yang selama ini terperangkap di dalam es.
Edwards menilai kemungkinan munculnya patogen berbahaya dari pencairan gletser sangat kecil, tetapi bukan berarti risikonya dapat dianggap nol. Karena itu, diperlukan penelitian dan penilaian risiko lebih lanjut terhadap berbagai jenis mikroorganisme tersebut.
Keanekaragaman Mikroba Gletser Masih Minim Diteliti
Pengetahuan mengenai spesies mikroba yang hidup di lingkungan gletser juga masih terbatas. Para peneliti bahkan terus menemukan spesies baru dari kawasan yang tertutup es.
Ekspedisi ilmiah melalui Vanishing Glaciers Project (VGP) saat ini dilakukan untuk mengumpulkan sampel dari berbagai gletser di dunia. Penelitian tersebut bertujuan mempelajari keanekaragaman hayati mikroorganisme yang hidup di lingkungan gletser.
Penelitian mengenai mikroba gletser menjadi semakin penting seiring dengan meningkatnya laju pencairan es akibat perubahan iklim.
Selain berperan dalam ekosistem, mikroorganisme yang dilepaskan dari gletser juga dapat membawa dampak yang hingga kini belum sepenuhnya dipahami oleh para ilmuwan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply