
Tim Fisika IPB ungkap fenomena kuantum baru lewat eksperimen celah ganda asimetris. Simak hasil risetnya di sini!
BOGOR, KalderaNews.com – Sebuah terobosan ilmiah penting dalam ranah fisika kuantum kembali lahir dari buah pikir peneliti Indonesia. Tim peneliti dari Divisi Fisika Teori, Departemen Fisika IPB University, berhasil mengungkapkan fenomena peralihan ketidakpastian dalam sistem kuantum melalui rekayasa bentuk geometri pada eksperimen celah ganda.
Temuan berskala internasional ini dipublikasikan dalam jurnal ilmiah ternama Physica Scripta (doi: 10.1088/1402-4896/ae8e53) dan berpotensi membuka jalan baru bagi penguasaan teknologi kuantum masa depan.
Penelitian mutakhir ini dipimpin langsung oleh Guru Besar Fisika Teori IPB University, Prof. Husin Alatas, bersama tim peneliti yang terdiri dari Fauzani Muhammad, Hendradi Hardhienata, dan Faozan Ahmad.
BACA JUGA:
- Inilah Sosok Bocah Jenius 15 Tahun Laurent Simons Raih PhD Kuantum, Ambisinya Ciptakan ‘Manusia Super’ dan Kalahkan Kematian
- Nobel Kimia 2023 Disabet Moungi G. Bawendi, Louis E. Brus dan Alexei I. Ekimov untuk Penemuan dan Sintesis Titik-titik Kuantum
- Inilah 5 Murid Terbaik Indonesia yang Berlaga di IPhO Kolombia
Berbeda dengan eksperimen konvensional yang umumnya menggunakan dua celah berukuran identik, tim IPB mengambil pendekatan unik dengan merancang celah ganda asimetris, yaitu dua celah yang sengaja dibuat tidak sama lebar.
Pendekatan baru ini terbukti memicu munculnya perilaku kuantum yang belum pernah terpeta sebelumnya.
Geometri Alat sebagai ‘Kemudi’ Ketidakpastian Kuantum
Penggunaan celah ganda asimetris membuktikan bahwa variasi sederhana pada lebar dan jarak antarcelah mampu merubah tingkat ketidakpastian kuantum secara signifikan.
Jika selama ini geometri hanya dipandang sebagai batas fisik atau sekadar rancangan alat eksperimen, riset ini menegaskan bahwa bentuk geometri itu sendiri secara aktif ikut memengaruhi sifat dasar partikel yang melintasinya.
Dengan kata lain, bentuk geometri perangkat kini dapat dimanfaatkan sebagai alat pengendali keadaan kuantum (quantum state).
Secara teoritis, riset ini bersandar pada model statistik mekanika kuantum yang dikembangkan oleh fisikawan Indonesia, Agung Budiyono, bersama Daniel Rohrlich.
Keberhasilan tim dalam memformulasikan fenomena ini turut memperluas cakrawala pemahaman terhadap Prinsip Ketidakpastian Heisenberg, sebuah fondasi utama fisika kuantum yang telah bertahan selama hampir satu abad.
Temuan ini menjadi bukti kuat bahwa manipulasi spasial dapat menjadi kunci dalam mengurai kompleksitas dunia subatomik.
Solusi Sederhana untuk Fondasi Teknologi Kuantum 2.0
Kemampuan untuk mengendalikan koherensi kuantum merupakan tantangan terbesar dalam pengembangan era Teknologi Kuantum 2.0, yang mencakup sistem penginderaan berpresisi tinggi (high-precision sensing), komputer kuantum, hingga jaringan komunikasi kuantum yang ultra-aman.
Selama ini, pengendalian koherensi membutuhkan skenario dan instrumen yang sangat rumit. Hasil riset IPB ini menawarkan alternatif yang jauh lebih sederhana: memanfaatkan rekayasa geometri perangkat untuk mengatur perilaku sistem kuantum secara presisi.
Eksperimen ini juga membuka peluang aplikasi luas pada berbagai protokol kuantum modern, seperti:
- Eksperimen Which-Way Presisi: Menentukan lintasan partikel tanpa merusak pola interferensi.
- Protokol Pengukuran Lemah (Weak Measurement): Teknik pengamatan kuantum dengan gangguan minimal.
- Tomografi Kuantum: Proses rekonstruksi keadaan kuantum secara utuh.
Dari Riset Fundamental Menuju Kemandirian Teknologi Nasional
Meski temuan ini masih berada pada ranah kajian teoritis dan memerlukan pembuktian eksperimental di laboratorium, sejarah mencatat bahwa teknologi raksasa selalu lahir dari riset dasar yang mendalam.
Penemuan penting seperti transistor, sinar laser, hingga pemindai medis Magnetic Resonance Imaging (MRI) semuanya berakar dari pemahaman konsep-koncept dasar fisika kuantum. Riset fundamental inilah yang menjadi fondasi utama bagi kemandirian ilmu pengetahuan dan teknologi suatu bangsa.
Fakta bahwa tim peneliti di Bogor mampu memprediksi fenomena kuantum yang belum pernah dilaporkan di dunia—dengan bertumpu pada model teori yang juga dirumuskan oleh fisikawan Indonesia menjadi bukti nyata kapasitas intelektual anak bangsa.
Penemuan ini mempertegas optimism bahwa Indonesia tidak hanya mampu menjadi pengguna teknologi, tetapi juga berpotensi besar menjadi pionir pengembang teknologi kuantum di tingkat global.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply