SMPN 4 Randudongkal buka suara terkait siswanya yang tewas diduga menjadi korban bullying. Sekolah mengaku tak pernah menerima laporan.
PEMALANG, KalderaNews.com– Kasus siswa di Pemalang yang dikabarkan meninggal dunia karena diduga jadi korban perundungan memasuki babak baru.
Pihak sekolah yang diketahui adalah SMP Negeri 4 Randudongkal, Kabupaten Pemalang, akhirnya memberikan penjelasan terkait meninggalnya salah seorang siswa kelas VII berinisial AAF (13) yang diduga menjadi korban perundungan.
Kepala SMPN 4 Randudongkal, Indah Palupi, mengatakan hingga saat ini sekolah tidak pernah menerima laporan mengenai dugaan kekerasan maupun perundungan yang dialami korban selama kegiatan belajar mengajar berlangsung.
BACA JUGA:
- Siswi SD di Padang Meninggal Diduga Korban Bullying, Keluarga Tuntut Keadilan
- Heboh Dugaan Kasus Bullying Siswa MTs di Pati, Korban Sampai Kehilangan 2 Jari
- Miris! Siswa SMP di Pemalang Tewas Diduga Jadi Korban Bullying
Sekolah akui laporan dugaan perundungan tidak pernah masuk
Menurut Indah, selama dua pekan awal masuk sekolah, pihaknya juga tidak mengetahui adanya pertengkaran atau kekerasan fisik yang melibatkan AAF.
Ia menyebut sekolah meyakini tidak ada tindakan bullying yang terjadi di lingkungan sekolah karena tidak pernah menerima informasi ataupun pengaduan terkait hal tersebut.
Indah juga menegaskan bahwa pengawasan terhadap anak merupakan tanggung jawab bersama antara sekolah, orang tua, dan masyarakat.
Oleh karena itu, ia berharap setiap persoalan yang dialami siswa dapat segera dikomunikasikan kepada pihak sekolah agar dapat ditindaklanjuti sejak dini.
Ia menambahkan, orang tua sebaiknya segera berkoordinasi dengan sekolah apabila menemukan permasalahan yang dialami anak. Di sisi lain, sekolah juga harus memberikan respons terhadap setiap keluhan yang disampaikan oleh wali murid.
Di tengah mencuatnya kasus tersebut, kegiatan belajar mengajar di SMPN 4 Randudongkal disebut tetap berlangsung normal. Indah menjelaskan para siswa tetap mengikuti pembelajaran seperti biasa dan situasi sekolah masih kondusif.
Ia juga menyampaikan bahwa bentuk kenakalan siswa yang selama ini ditemukan umumnya hanya berupa aksi mencoret fasilitas sekolah atau membolos, yang menurutnya masih dapat ditangani oleh pihak sekolah.
Meski demikian, Indah membenarkan bahwa sejumlah siswa memenuhi panggilan penyidik Polres Pemalang untuk dimintai keterangan terkait kasus tersebut. Ia memperkirakan ada sekitar 10 hingga 11 siswa yang menjalani pemeriksaan.
Polisi periksa saksi dan tunggu hasil autopsi
Sementara itu, Satreskrim Polres Pemalang masih mendalami dugaan perundungan yang diduga berkaitan dengan meninggalnya AAF. Penyidik telah memeriksa sejumlah saksi, termasuk ibu korban dan teman-teman sekolahnya.
Kasat Reskrim Polres Pemalang AKP M. Faizal Wildan Umar mengatakan Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) masih melakukan proses klarifikasi terhadap para saksi untuk mengumpulkan fakta-fakta yang dibutuhkan dalam penyelidikan.
Selain meminta keterangan kepada ibu korban, polisi juga telah memanggil 10 teman AAF guna mencocokkan informasi yang diperoleh selama proses penyelidikan.
Hingga kini, penyidik belum dapat memastikan apakah terdapat unsur penganiayaan dalam kasus tersebut. Polisi menyatakan seluruh keterangan dan bukti masih didalami sebelum menarik kesimpulan mengenai penyebab kematian korban.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply