
Krisis iklim & El Nino sebabkan sungai besar dunia mengering. Simak dampaknya bagi ekosistem & ekonomi.
JAKARTA, KalderaNews.com – Kemarau berkepanjangan dan gelombang panas ekstrem akibat perubahan iklim global kini bukan lagi sekadar ancaman di atas kertas.
Krisis ini telah menjelma menjadi bencana riil yang memicu kekeringan luas, mengancam mata pencaharian, hingga merusak jaringan ekosistem air tawar di berbagai belahan dunia.
Ulasan dari berbagai laporan media terpercaya serta kajian lembaga riset mencatat bahaya nyata dari menyusutnya debit air hingga mengeringnya jalur-jalur perairan vital di bumi.
BACA JUGA:
- Sungai Kapuas dan Barito Mengering, Alarm Krisis Iklim dan Urgensi Transisi Energi
- Serem! El Nino Sangat Kuat Terjang RI! Musim Panas Sampai Awal 2027?
- El Nino 2026 Capai Level Kuat, Ini Wilayah Siaga Kekeringan Ekstrem
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai lima sungai besar dunia yang terdampak kekeringan parah akibat krisis iklim:
1. Sungai Ciliwung (Indonesia)
Sungai Ciliwung merupakan salah satu urat nadi perairan terpenting di Pulau Jawa dengan panjang aliran utama mencapai 120 kilometer. Berhulu di mata air Gunung Gede, Gunung Pangrango, serta Telaga Saat (perbatasan Kabupaten Bogor dan Cianjur), aliran Ciliwung melintasi Kota Bogor, Depok, hingga bermuara di pantai utara DKI Jakarta.
Akibat kemarau panjang, debit air Sungai Ciliwung dilaporkan mengalami penurunan tajam:
- Pos Pemantau Katulampa: Tinggi muka air di Bendung Katulampa pernah menyentuh titik terendah yaitu 0 cm pada periode Juli dan Agustus lalu.
- Dampak: Penurunan debit air ini mengancam ketersediaan air bersih serta pasokan air baku bagi jutaan warga di kawasan Metropolitan Jabodetabek.
2. Sungai Eufrat (Asia Barat)
Sungai Eufrat, salah satu peradaban tertua di dunia yang mengalir melintasi Turki, Suriah, dan Irak—kini berada dalam kondisi kritis. Cekungan fisiknya juga melayani kebutuhan air bagi Yordania dan Arab Saudi.
Berdasarkan analisis dari Center for Strategic and International Studies (CSIS) dan laporan Greenmatters:
- Penurunan Debit Air: Aliran rata-rata tahunan Sungai Eufrat dan Tigris telah merosot hingga hampir separuh pada tahun-tahun kering.
- Peringatan Resmi: Kementerian Sumber Daya Air Irak memperingatkan bahwa sistem sungai Tigris-Eufrat berisiko mengering total pada tahun 2040.
- Dampak Sosial: Jutaan warga terancam kehilangan akses terhadap air minum, irigasi pertanian, dan peternakan.
3. Sungai Amazon (Amerika Selatan)
Sebagai kawasan paru-paru dunia, wilayah Amazon tidak luput dari dampak fenomena cuaca ekstrem El Niño dan pemanasan global. Curah hujan di Amazon utara berada jauh di bawah rata-rata historis, memicu kekeringan hebat pada sungai dan anak-anak sungainya.
Organisasi masyarakat adat Amazon (Apiam), yang mewakili 63 suku, melaporkan kondisi darurat sebagai berikut:
- Kematian Masal Satwa: Ratusan lumba-lumba sungai khas Amazon serta jutaan ikan mati terdampar akibat suhu air naik dan debit air menyusut.
- Krisis Air & Isolasi: Air sungai menjadi berlumpur dan tidak layak konsumsi. Kerusakan akses transportasi sungai juga menyulitkan bantuan medis mencapai desa-desa terpencil.
- Tuntutan: Masyarakat adat mendesak pemerintah lokal dan internasional untuk segera mendeklarasikan Keadaan Darurat Iklim Global.
4. Sungai Doubs (Prancis & Swiss)
Di Eropa Barat, Sungai Doubs yang mengalir di perbatasan Prancis timur dan Swiss barat mengalami penyusutan drastis. Perairan yang dahulunya dalam dan berarus deras kini berubah menjadi hamparan bebatuan kering.
- Penurunan Muka Air: Permukaan air tercatat merosot hingga 11 meter di bawah rata-rata normal.
- Saut du Doubs: Air terjun terkenal setinggi 27 meter di bagian hilir berhenti mengalir sejak awal musim panas.
- Dampak Ekonomi & Pariwisata: Sektor pariwisata lokal terpukul hebat dengan penurunan jumlah wisatawan mencapai 65% selama empat tahun berturut-turut.
5. Sungai Kapuas dan Sungai Barito
Di dalam negeri, fenomena serupa mengguncang Pulau Kalimantan. Dua sungai utama, Sungai Kapuas dan Sungai Barito, mengalami pendangkalan dan kekeringan parah hingga menyebabkan kapal tongkang pengangkut batu bara kandas di dasar sungai.
Direktur Eksekutif Walhi Kalimantan Tengah, Janang Firman Palanungkai, menegaskan bahwa kekeringan ini merupakan dampak langsung dari eksploitasi ruang masif. Sekitar 60% dari total 15,3 juta hektare wilayah Kalteng telah dikuasai oleh konsesi industri ekstraktif (pertambangan batu bara dan perkebunan monokultur).
So, mengeringnya sungai-sungai besar dari Ciliwung, Eufrat, Amazon, Doubs, hingga Kapuas dan Barito adalah peringatan keras bagi peradaban manusia.
Tanpa komitmen nyata dalam menghentikan pembiayaan industri fosil dan memulihkan daya dukung lingkungan, krisis air akan memicu rantai bencana ekologis serta krisis ekonomi global yang tak terhindarkan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply