
Tim dokter RSCM pastikan siswi Karo korban keracunan MBG tidak hilang ingatan, melainkan alami trauma berat dan serangan panik.
JAKARTA, KalderaNews.com – Penanganan medis terhadap dua siswi korban keracunan massal program Makan Bergizi Gratis (MBG) asal Kabupaten Karo, Sumatera Utara, menunjukkan perkembangan yang sangat positif.
Dirawat secara intensif di Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) sejak pertengahan September 2026, kondisi Febiona Purba dan Agnesia Paruliana Silitonga kini dilaporkan hampir siap untuk pulang dan kembali bersekolah.
Sebelumnya, kasus ini sempat memicu kekhawatiran luas di tengah masyarakat menyusul dugaan dari pihak keluarga bahwa kedua remaja tersebut mengalami kerusakan fungsi otak, hilang ingatan, hingga penurunan fungsi ginjal yang parah.
BACA JUGA:
- Wakil Ketua OSIS SMK di Karo Amnesia 70 Persen Usai Keracunan MBG
- Tidak Sedikit Lho Ini! JPPI Soroti 43.838 Kasus Keracunan MBG
- Miris! Sepanjang 2025, KPAI Ungkap 12.658 Anak di 38 Provinsi Alami Keracunan MBG, Terbanyak Jawa Barat
Namun, tim dokter spesialis RSCM mematahkan berbagai spekulasi tersebut melalui penjelasan medis yang komprehensif.
Kondisi Membaik dan Siap Rawat Jalan
Kedua pasien tiba di RSCM sejak Sabtu, 12 September 2026. Setibanya di rumah sakit rujukan nasional tersebut, tim medis memastikan bahwa Febiona dan Agnesia tidak berada dalam kondisi kritis, sehingga tidak memerlukan perawatan di ruang intensive care unit (ICU).
Keduanya ditempatkan di ruang perawatan VIP standar Kencana RSCM untuk memastikan kenyamanan fisik maupun pemulihan psikologis mereka.
Direktur Medik dan Keperawatan RSCM, Dr. dr. Renan Sukmawan, menyampaikan bahwa kondisi kedua pasien sudah jauh lebih baik dan dapat berkomunikasi dengan normal.
Pihak rumah sakit menargetkan agar mereka dapat segera dipulangkan untuk menjalani rawat jalan mulai akhir pekan ini agar tidak tertinggal pelajaran di sekolah.
Penjelasan Medis: Tidak Ada Hilang Ingatan Maupun Kerusakan Otak
Isu mengenai hilangnya sebagian ingatan sempat mencuat setelah keluarga meluapkan kekecewaan atas hasil pemeriksaan awal di daerah.
Ibunda Febiona, misalnya, sempat menyebut putrinya kesulitan mengenali anggota keluarga dan teman sekolah saat dirawat di RSUP H Adam Malik Medan.
Menanggapi hal tersebut, Dokter Spesialis Anak Konsultan Neurologi Anak RSCM, Prof. Dr. dr. Setyo Handryastuti, menegaskan bahwa hasil pemeriksaan klinis, fisik, dan penunjang medis berupa rekam gelombang otak (electroencephalography atau EEG) menunjukkan hasil yang baik.
- Memori Stabil: Ingatan jangka pendek maupun jangka panjang Febiona terpantau sangat baik.
- Hasil EEG Normal: Pemeriksaan gelombang otak tidak menunjukkan adanya gangguan ataupun kerusakan organ otak.
- Bukan Epilepsi: Gejala kejang yang sempat dialami dikategorikan sebagai paroksismal non-epileptiform event—yakni serangan tiba-tidaknya bukan disebabkan oleh kelainan organik pada otak.
Murni Trauma Berat dan Serangan Panik
Dari sisi kejiwaan, Departemen Psikiatri RSCM turut mendalami kondisi Febiona yang sempat dirujuk dengan dugaan mengalami kondisi psikotik hingga kesulitan membedakan realitas.
Konsultan Psikiatri Anak dan Remaja RSCM, Prof. Dr. dr. Tjhin Wiguna, menyatakan bahwa dugaan gangguan psikotik tersebut terbantah setelah pemeriksaan mendalam.
Kondisi emosional Febiona murni dipicu oleh tekanan mental dan trauma berat usai insiden keracunan yang menimpanya.
“Adanya beberapa serangan panik dalam waktu satu bulan ini. Sehingga ketika dia mengalami tekanan yang besar, lalu kepanikan itu muncul, lalu diduga sebagai sesuatu yang seperti psikotik,” jelas Tjhin.
Secara kognitif, Febiona sadar sepenuhnya akan identitas, waktu, dan tempat tanpa ada masalah pada memori kerjanya.
Pemulihan Fungsi Ginjal Agnesia
Sementara itu, pasien kedua yakni Agnesia Paruliana Silitonga, yang sebelumnya didiagnosis mengalami penurunan fungsi ginjal akut akibat keracunan sejak pertengahan Agustus lalu, juga menunjukkan hasil pemulihan yang gemilang.
Dokter Spesialis Anak Konsultan Nefrologi Anak RSCM, Dr. dr. Henny Adriani Puspitasari, memastikan bahwa organ ginjal Agnesia telah merespons pengobatan dengan sempurna.
Berdasarkan evaluasi laboratorium dan ultrasonografi (USG), fungsi ginjalnya kini telah kembali normal. Agnesia bahkan sudah mampu berdiri, berjalan, dan beraktivitas secara mandiri di ruang rawat.
Menjelang kepulangan mereka ke Sumatera Utara, pihak RSCM mengimbau publik dan media untuk memberikan ruang privasi yang cukup.
Dukungan moril dan ketenangan lingkungan sangat dibutuhkan agar kedua siswi ini dapat kembali bersekolah dengan nyaman tanpa beban psikologis lanjutan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply