
Wisatawan asal Sumatra Selatan kabur saat tur di Korea Selatan. Pakar sebut modus kabur pakai visa wisata sudah ada sejak 90-an.
JAKARTA, KalderaNews.com – Aksi nekat dua wisatawan asal Empat Lawang, Sumatra Selatan, yang melarikan diri dari rombongan tur di Korea Selatan mendadak viral dan memicu gelombang amarah publik.
Kejadian ini terkuak setelah pemilik agen perjalanan melalui akun Threads @_rhatys membeberkan kronologinya pada Senin (12/10/2026).
Kedua peserta berangkat menggunakan visa grup wisata pada 17 September 2026 dengan izin tinggal 15 hari.
BACA JUGA:
- Bikin Gempar! Dua WNI Kabur dari Rombongan Tur dan Overstay di Korea Selatan
- Viral! Siswa SD Salatiga Study Tour ke Jakarta Carter Pesawat Garuda
- Unik! SMP di Sumut Adakan Study Tour ke Makkah dan Madinah Lewat Program Umrah Edutrip
Namun, bukannya menikmati liburan, keduanya sengaja memisahkan diri dan terbukti melakukan overstay. Aksi tak bertanggung jawab ini berdampak fatal, menyebabkan kerugian operasional dan penalti finansial mencapai ratusan juta rupiah yang harus ditanggung oleh penyedia jasa tur serta provider visa.
Keadaan makin memanas saat salah satu terduga pelaku justru membalas teguran pihak agen perjalanan dengan nada menantang: “kan bayar melok trip bukan modal hawo” (kan bayar ikut trip, bukan modal hawa/kosong).
Meski memicu kemarahan netizen yang khawatir proses pengajuan visa Korea akan semakin diperketat bagi WNI, fenomena kaburnya peserta tur di luar negeri ternyata bukanlah hal baru.
Berikut adalah penulisan ulang dalam 2 alinea:
Sebelum insiden wisatawan asal Sumatra Selatan tersebut memicu sorotan publik, kasus serupa telah terjadi pada pertengahan tahun 2026 dan menimpa agen travel Berani Backpacker.
Kejadian ini melibatkan seorang pemuda berusia 22 tahun asal Madiun bernama Femas, yang terdaftar sebagai peserta open trip menuju Korea Selatan.
Kasus yang sempat diungkap oleh akun Threads @sarjanabackpacker ini menjadi bukti lain maraknya aksi peserta tur yang memanfaatkan visa wisata untuk menghilang di negara tujuan.
Modus Berulang Sejak Dekade 1990-an
Beberapa waktu yang lalu Ketua Umum Indonesian Tour Leaders Association (ITLA), Robert Alexander S. Moningka, menegaskan bahwa praktik kabur dari rombongan wisata memanfaatkan visa turis sudah berlangsung sejak puluhan tahun lalu.
“Modus seperti ini itu sebenarnya sudah sejak lama, sejak tahun 90-an. Peserta tour ikut rombongan dengan alasan berwisata, setelah itu memisahkan diri tanpa memberitahukan kepada tour leader,” ujar Robert.
Sebagai pimpinan asosiasi profesi yang berfokus pada pengembangan kompetensi dan standar tour leader nasional, Robert membagikan pengalaman pribadinya saat mendampingi rombongan ke Jepang pada tahun 1996.
- Pengalaman Ekstrem: Robert pernah kehilangan belasan peserta sekaligus dalam satu perjalanan ke Jepang akibat tren bekerja secara ilegal yang sedang tinggi saat itu.
- Destinasi Favorit: Pada dekade 90-an, Jepang dan Korea Selatan menjadi tujuan utama modus ini. Namun saat ini, pergeseran juga terjadi ke negara lain seperti Arab Saudi melalui program umrah.
- Motif Utama: Faktor ekonomi dan keinginan bekerja tanpa prosedur resmi (unprocedural) menjadi dorongan terbesar di balik aksi nekat tersebut.
Bukan Kasus Tunggal di Tahun 2026
Kejadian yang diungkap akun @_rhatys menambah daftar panjang kasus serupa sepanjang tahun ini. Sebelumnya, akun @sarjanabackpacker juga pernah menyoroti peserta tur yang hilang kontak di Korea Selatan.
Marketing Manager Berani Backpacker, Wiky, membeberkan kronologi serupa pada Juni 2026. Seorang peserta tur asal Madiun bernama Femas (22) mendadak menghilang di kawasan Myeongdong, Seoul, saat diberi waktu bebas pada malam pertama kedatangan.
Dampak Sistemik Bagi Traveler Indonesia
Sikap egois para oknum ini memicu kekesalan mendalam dari masyarakat dan pelaku industri pariwisata. Beberapa tanggapan netizen mencerminkan kekhawatiran kolektif:
@kikeydira: “SUMPAH sebel banget sama orang egois gini. Kita yang beneran niat cuma liburan jadi RIBET proses visa perkara orang kaya gini.”@iduyhawsuga: Mengkritik bahwa aksi seperti inilah yang menjadi “Salah satu sebab paspor Indonesia lemah.”@maygantii: Memberikan saran agar korban segera melaporkan foto paspor pelaku ke imigrasi Korea Selatan agar cepat dilacak dan dideportasi.
Kejadian berulang ini menjadi peringatan keras bagi ekosistem pariwisata nasional. Pentingnya integritas serta kesadaran hukum saat melawat ke negara orang tidak hanya menjaga nama baik pribadi, tetapi juga melindungi akses kemudahan visa bagi seluruh warga negara Indonesia di masa depan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply