Siswi SD Manggarai Timur tulis surat untuk Prabowo. Soroti distribusi MBG yang belum merata dan kondisi sekolah yang rusak.
JAKARTA, KalderaNews.com – Di balik perbukitan Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur, suara langkah kecil Myscha memecah kesunyian subuh.
Setiap hari, siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles ini harus menaklukkan jalanan mendaki sejauh 1 kilometer. Bukan dengan sepatu mengkilap, melainkan alas kaki seadanya yang sudah mulai rusak.
Myscha adalah potret nyata anak petani di wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal). Di saat pemerintah pusat gencar menyuarakan Program Makan Bergizi Gratis (MBG), bagi Myscha dan kawan-kawannya, program itu masih sebatas bayangan di layar kaca.
BACA JUGA:
- Viral di Media Sosial, Wali Murid Sekolah Elite Tolak Program MBG, Warganet Ramai-ramai Mendukung
- P2G: Guru Ikut Urus MBG, Makin Perberat Beban dan Pangkas Jam Pelajaran!
- Viral! Pelajar di Nias Minta Bantuan Prabowo untuk Bangun Jembatan ke Sekolah, Warganet Ikut Tersentuh
Kondisi ekonomi keluarga Myscha jauh dari kata mewah. Ayahnya hanyalah seorang petani yang mengandalkan sawah dan kebun di pelosok NTT. Rumah mereka sangat sederhana; berlantai tanah dengan dinding bambu yang mulai rapuh.
Bagi Myscha, jarak satu kilometer menuju sekolah bukan sekadar angka. Setiap pagi, siswi kelas 5 SDI Compang Ngeles ini harus menaklukkan jalanan mendaki di pelosok Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT).
Dengan sepatu yang mulai menganga dan seragam yang memudar, ia berjalan kaki melintasi medan yang tak jarang licin saat hujan turun.
Myscha adalah anak seorang petani. Di rumahnya yang berlantai tanah dan berdinding bambu, suara rintik hujan seringkali terdengar lebih keras karena atap seng bekasnya penuh lubang.
Namun, bukan kemiskinan itu yang membuatnya gelisah belakangan ini. Lewat sebuah surat yang ditujukan kepada Presiden Prabowo Subianto, Myscha menyuarakan kejujuran yang menyesakkan dari wilayah 3T (Terdepan, Terluar, Tertinggal).
Antara Harapan dan Ketakutan Keracunan
Di layar televisi dan YouTube, Myscha melihat teman-teman sebaya di kota lain sudah menikmati Program Makan Bergizi Gratis (MBG).
Namun, di sekolahnya yang tersembunyi di pelosok Desa Rana Gapang, aroma makanan bergizi itu bahkan belum tercium sama sekali.

Menariknya, Myscha tidak sekadar menagih janji. Ada ketakutan yang jujur dalam goresan penanya. Berita tentang kasus keracunan massal yang menimpa siswa di daerah lain menghantuinya.
“Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan,” tulis Myscha (26/4/2026).
“Kasih Uangnya ke Mama Saja”
Sebagai anak pelosok yang akrab dengan kemandirian, Myscha menawarkan solusi realistis. Ia meminta agar anggaran makan tersebut diberikan langsung kepada orang tua atau sekolah.
Baginya, tangan dingin seorang ibu jauh lebih tepercaya daripada distribusi paket makanan yang rentan rusak di perjalanan jauh.
“Kami paling tahu kami mau makan apa. Kami juga tahu rasa masakan Mama paling enak dan aman,” ungkapnya.
Selain menghindari risiko keracunan, ia khawatir anggaran tersebut akan dipotong oleh oknum tidak bertanggung jawab jika harus melalui birokrasi yang panjang.
Realita Sekolah di Ujung Negeri
Lebih dari sekadar urusan perut, Myscha menggunakan suratnya untuk memotret kondisi pendidikan di SDI Compang Ngeles yang memprihatinkan:
- Fasilitas Rusak: Atap bocor, meja kursi yang tak layak, hingga perpustakaan yang sepi buku.
- Kesejahteraan Guru: Ia meminta pemerintah memperhatikan nasib Bapak dan Ibu gurunya yang tetap mengabdi meski hidup dalam keterbatasan.
- Kebutuhan Dasar: Permohonan sederhana untuk bantuan tas, sepatu, dan seragam bagi anak-anak petani yang belum memilikinya.
Bagi Myscha, sekolah yang bagus dan guru yang sejahtera jauh lebih penting daripada sekadar satu porsi makan siang.
“Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar. Nggak perlu takut keracunan juga,” tambahnya.
Menanti Jawaban dari Istana
Surat Myscha kini menjadi perbincangan di media sosial, menjadi pengingat keras bagi pemerintah pusat bahwa distribusi kebijakan seringkali terhambat oleh kondisi geografis yang ekstrem di wilayah Timur Indonesia.
Tragisnya, hingga saat ini belum ada tanggapan resmi dari otoritas terkait di Manggarai Timur.

Namun, dari secarik kertas yang ditulis seorang anak petani di bawah atap seng bocor, Indonesia diingatkan kembali: bahwa keadilan sosial seharusnya tidak berhenti di gerbang kota besar, tapi sampai ke kaki bukit tempat Myscha berdiri.
Isi Lengkap Surat Myscha untuk Prabowo
Berikut ini isi lengkap surat Myscha untuk Presiden Prabowo yang diterima KalderaNews.com. Myscha adalah siswi kelas 5 di SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur
Kepada Yth.
Bapak Presiden Prabowo Subianto
Di Jakarta
Assalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh,
Salam sejahtera untuk Bapak Presiden.
Nama saya Myscha. Saya murid kelas 5 di SDI Compang Ngeles, Desa Rana Gapang, Kecamatan Elar, Kabupaten Manggarai Timur. Sekolah saya jauh di pelosok, Pak. Termasuk daerah 3T.
Bapak Presiden, saya mau cerita. Di TV dan YouTube saya sering lihat berita tentang Program Makan Bergizi Gratis (MBG) dari Bapak. Katanya program Bapak bagus sekali.
Tapi Pak, sampai hari ini MBG belum sampai di sekolah kami. Teman-teman di daerah lain sudah lama makan, tapi kami di sini belum.
Bapak, saya juga sering lihat berita anak-anak keracunan habis makan MBG. Saya jadi takut, Pak. Takut pusing dan sakit perut. Takut keracunan kayak di TV.
Kalau suatu saat MBG masuk ke sekolah saya, saya tidak mau makan, Pak. Saya takut.
Bapak Presiden, boleh tidak kalau uangnya saja yang dikasih langsung ke sekolah atau ke Mama Bapak saya? Biar kami yang atur sendiri. Soalnya kami yang paling tau kami mau makan apa. Kami juga tau rasa masakan Mama paling enak dan aman.
Selain itu Pak, menurut saya lebih baik uangnya dipakai untuk:
- Beli tas, buku, sepatu, seragam, sama perlengkapan sekolah lainnya buat kami yang belum punya.
- Kasih gaji yang cukup buat Ibu Bapak Guru kami. Guru saya baik-baik, Pak. Tapi kasian, mereka juga butuh hidup layak.
- Benerin sekolah kami. Atap dari seng bekas, dinding rapuh, kursi meja banyak yang rusak, dinding dan atap kadang bocor. perpustakaan kekurangan buku, dan masih banyak lagi kekurangan lainnya, Pak.
Saya yakin kalau guru sejahtera dan sekolah bagus, kami pasti jadi pintar, Pak. Nggak perlu takut keracunan juga.
Itu saja surat dari saya, Pak Presiden. Maaf kalau ada kata-kata saya yang salah. Saya cuma anak SD yang ingin sekolah dengan aman dan nyaman.
Tolong bantu sekolah kami di pelosok ya, Pak. Kami juga anak Indonesia. Kami juga mau pintar buat bantu Bapak bangun Indonesia.
Terima kasih Bapak Presiden.
Wassalamu’alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh.
Hormat saya,
Myscha
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply