Program PJJ rencananya akan diperluas ke 34 provinsi untuk membantu anak putus sekolah kembali bisa belajar.
JAKARTA, KalderaNews.com – Program Pendidikan Jarak Jauh (PJJ) untuk jenjang pendidikan menengah kini diperluas ke 34 provinsi sebagai langkah pemerintah dalam memperluas pemerataan akses pendidikan bagi Anak Tidak Sekolah (ATS) di seluruh Indonesia.
Sebelumnya, program ini telah diuji coba pada 2025 bagi anak-anak pekerja migran Indonesia di Malaysia. Setelah dinilai berjalan efektif, Direktorat Jenderal Pendidikan Menengah dan Pendidikan Khusus Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) memperluas cakupannya secara nasional dengan target menjangkau sekitar 3.500 ATS agar kembali memperoleh layanan pendidikan.
Kebijakan ini menjadi bagian dari upaya menghadirkan pendidikan yang inklusif, adil, dan berkualitas, terutama bagi remaja usia 16 hingga 18 tahun yang belum mengakses pendidikan formal.
BACA JUGA:
- Syarat Usia Kelas 10 SMA dan Cara Daftar PJJ bagi Anak Tidak Sekolah
- Kesempatan Kuliah Gratis S1 PJJ untuk Guru dan Ustadz, Ini Syaratnya
- Isi Lengkap SE Mendiktisaintek tentang PJJ Mahasiswa dan WFH Dosen
Berdasarkan data Pusdatin Kemendikdasmen, saat ini terdapat sekitar 1,13 juta ATS jenjang pendidikan menengah dari total sekitar 4 juta anak tidak sekolah di Indonesia.
PJJ diprioritaskan untuk daerah dengab kategori ini
Pelaksanaan PJJ diprioritaskan bagi wilayah tertinggal, terdepan, dan terluar (3T), daerah dengan angka ATS tinggi, kawasan rawan bencana, serta Sekolah Indonesia Luar Negeri (SILN) yang melayani anak pekerja migran.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah, Abdul Mu’ti, menegaskan bahwa program ini merupakan komitmen pemerintah untuk memastikan seluruh anak Indonesia mendapatkan akses pendidikan tanpa terhambat kondisi geografis, ekonomi, maupun sosial.
“Kita harus menekankan bahwa pendidikan tidak lagi dipandang hanya sebatas kegiatan formal di ruang kelas, melainkan sebagai proses pembelajaran yang dapat menjangkau seluruh lapisan masyarakat. Dengan paradigma tersebut kami ingin menjangkau yang mereka yang tidak terjangkau sehingga PJJ ini menjadi solusi nyata untuk menjawab tantangan pemerataan akses pendidikan,” ungkap Abdul Mu’ti.
Ia juga menyoroti pentingnya teknologi digital dalam mendukung keberhasilan program, termasuk pengembangan sistem pembelajaran berbasis teknologi dan pembangunan studio pembelajaran agar guru terbaik dapat mengajar secara real-time ke berbagai daerah.
Tantangan implementasi PJJ
Meski demikian, Abdul Mu’ti mengakui implementasi PJJ tetap memiliki tantangan, khususnya dalam mengintegrasikan metode pembelajaran jarak jauh dengan pendekatan Pembelajaran Mendalam yang tidak hanya menekankan transfer pengetahuan, tetapi juga pengembangan karakter, kemampuan kognitif, dan kompetensi peserta didik secara menyeluruh.
“Sekolah induk dan sekolah mitra terpilih memiliki peran penting bukan hanya sekadar menekan angka ATS, melainkan juga bagaimana membentuk karakter mereka dan mengembangkan kompetensi yang kuat. Semoga program ini menjadi langkah strategis dalam memperluas akses pendidikan berkualitas,” pungkas Abdul Mu’ti.
Pada 2026, program ini akan melibatkan 21 sekolah induk, termasuk Sekolah Indonesia Kota Kinabalu (SIKK), serta 62 sekolah mitra yang berfungsi sebagai pusat dukungan belajar lokal, penyedia tutor, dan fasilitas pembelajaran luring bagi peserta didik.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply