Tragis! Siswa SD di Lombok Tewas Usai Tiru Freestyle Game yang Viral

Permainan dalam gadget menjadi pelarian utama remaja untuk dapat tetap di rumah saja hingga dapat berujung menjadi adiktif. (KalderaNews/Ist)
Permainan dalam gadget menjadi pelarian utama remaja untuk dapat tetap di rumah saja hingga dapat berujung menjadi adiktif. (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Siswa SD di Lombok Timur meninggal usai meniru freestyle gim Free Fire viral. Guru luruskan fakta dan imbau orang tua awasi anak.

LOMBOK, KalderaNews.com – Seorang siswa kelas 1 sekolah dasar di Lombok Timur meninggal dunia setelah diduga menirukan aksi freestyle ekstrem yang tengah viral di media sosial.

Siswa tersebut terinspirasi dari gim Free Fire (FF). Peristiwa tragis ini memicu keprihatinan luas, terutama terkait pengawasan anak terhadap tren digital berbahaya.

Wali kelas korban di SDN 3 Kalijaga Baru, Kecamatan Lenek, Sakiatun Nisa, meluruskan berbagai informasi keliru yang beredar di media sosial.

Ia menegaskan insiden tersebut tidak terjadi di lingkungan sekolah sebagaimana banyak narasi viral yang tersebar.

“Untuk kejadian di sekolah tidak ada yang seperti dibilang sama media sosial itu, ada dibilang ketika jam olahraga terus patah tulangnya itu informasi tidak benar, kejadiannya juga tidak terjadi di sekolah. Ini kejadiannya di rumah,” terang Nisa.

BACA JUGA:

Guru klarifikasi sekolah dikaitkan dengan kematian siswa

Nisa juga menyampaikan kekecewaannya atas penggunaan foto siswanya yang dipadukan dengan gambar lain oleh sejumlah kreator konten hingga menimbulkan kesan menyesatkan.

Menurutnya, unggahan awal hanya berisi ucapan belasungkawa, namun kemudian dimanfaatkan secara berlebihan oleh pihak lain.

“Saya sangat menyayangkan sekali karena yang pertama posting itu adalah saya wali kelasnya dan fotonya itu fotonya ketika duduk di bangku untuk mengambil kenang-kenangan untuk ditempel di hiasan dinding kelas. Setelah saya unggah tapi caption-nya yang saya tulis hanya berbelasungkawa saja, tapi oleh orang lain di media sosial foto yang saya upload itu berdampingan dengan foto-foto lain yang freestyle dan ironisnya lagi pakai baju sekolah, kemudian itu yang viral,” ujar Nisa.

Selama di sekolah, pihak guru mengaku tidak pernah melihat korban melakukan aksi berbahaya seperti yang ramai diperbincangkan. Ia menduga aksi tersebut dilakukan di rumah, di luar pengawasan sekolah.

“Kalau di sekolah tidak pernah ada kami lihat. Di kelas 1 tidak ada, anaknya ini termasuk dia lugu juga yang meninggal ini. Tetapi kemungkinan aksi freestyle ini dilakukan di rumahnya, kalau itu kan di luar pengawasan kami. Kami juga tidak tahu freestyle ini seperti apa, baru setelah berita ini viral kami cari tahu di internet,” ucapnya.

Sekolah lakukan sosialisasi terkait bahaya meniru konten ekstrem

Pasca kejadian, pihak sekolah segera melakukan sosialisasi kepada siswa dan orang tua terkait bahaya meniru konten ekstrem dari media sosial. Sekolah meminta keluarga lebih aktif mengawasi aktivitas digital anak-anak di rumah.

“Sudah kami lakukan sosialisasi, ini menjadi pembelajaran supaya tidak terulang lagi kasus serupa. Kami sudah kami sampaikan ke wali murid juga supaya anak-anak kita diawasi dan dijaga ketika di rumah terutama dari pengaruh media sosial,” kata Nisa.

Kapolsubsek Lenek, Ipda Alam Prima Yogi, mengungkapkan korban bernama Hamad Izan Wadi meninggal dunia setelah mengalami cedera serius pada bagian leher usai melakukan aksi freestyle tersebut.

“Korban masih kelas 1 SD, meninggal dunia pada 3 Mei yang lalu. Korban bernama Hamad Izan Wadi. Korban meninggal dunia setelah melakukan aksi freestyle yang sedang viral,” kata Yogi.

Menurut Yogi, tren ini dipicu oleh pengaruh konten digital dan gim online yang menampilkan gerakan ekstrem sehingga rentan ditiru anak-anak tanpa memahami risikonya.

“Ada gim online menampilkan gaya yang ekstrem, itu yang diikuti oleh anak-anak zaman sekarang,” jelas Yogi.

Peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa tren viral di dunia digital dapat membawa dampak fatal jika tidak diawasi dengan baik.

Orang tua, guru, dan lingkungan sekitar memiliki peran besar dalam memberikan edukasi agar anak-anak lebih bijak dalam menyaring konten yang mereka konsumsi.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*