Selain Unram, Nobar Film Pesta Babi di UIN Mataram Juga Dibubarkan

Film Pesta Babi. (Ist.)
Film Pesta Babi. (Ist.)
Sharing for Empowerment

Nobar film Pesta Babi di UIN Mataram dibubarkan satpam kampus setelah baru tayang 3 menit, memicu sorotan soal kebebasan akademik.

MATARAM, KalderaNews.com – Pemutaran film dokumenter Pesta Babi karya Dandhy Dwi Laksono kembali menuai kontroversi setelah acara nonton bareng (nobar) di Universitas Islam Negeri (UIN) Mataram dibubarkan pihak kampus pada Jumat (8/5/2026) malam.

Puluhan mahasiswa yang telah berkumpul sejak sore untuk mengikuti pemutaran film di lingkungan kampus harus menghentikan kegiatan mereka hanya beberapa menit setelah film diputar.

Acara tersebut merupakan kolaborasi antara Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin dan Studi Agama (FUSA) bersama Badan Kegiatan Mahasiswa (BKM).

BACA JUGA:

Baru tiga menit berjalan, nobar Pesta Babi dibubarkan

Sejak awal, kedatangan mahasiswa disebut telah diawasi ketat oleh petugas keamanan kampus. Beberapa peserta bahkan dimintai keterangan terkait tujuan mereka memasuki area kampus.

“Ditanya ada kegiatan apa, apalagi kawan-kawan terus berdatangan,” kata Ketua Senat Mahasiswa FUSA UIN Mataram, Raden Turmuzi.

Meski persiapan pemutaran telah dilakukan, termasuk pemasangan layar proyektor di halaman belakang fakultas, acara tersebut hanya berlangsung singkat sebelum dihentikan secara paksa oleh satpam kampus.

“Baru tiga menit film berjalan, tiba-tiba sejumlah satpam datang dan langsung menekan tombol power proyektor kami. Film dimatikan, mereka bilang film dilarang dan nobar dibubarkan,” kata Turmuzi.

Mahasiswa sempat berupaya melakukan negosiasi dengan pihak keamanan, namun petugas tetap menghentikan pemutaran dengan alasan film tersebut dianggap tidak etis.

Dalam rekaman video mahasiswa, satpam menegaskan tindakan mereka dilakukan demi menjalankan tugas pengamanan kampus.

Ancam kebebasan akademik

Mahasiswa kemudian mempertanyakan dasar pelarangan tersebut, terutama karena tidak ada larangan tertulis dari pihak kampus.

Menurut keterangan satpam, pembubaran dilakukan atas instruksi langsung dari Rektor UIN Mataram, Masnun Tahir.

Turmuzi menilai tindakan tersebut bertentangan dengan fungsi kampus sebagai ruang akademik yang seharusnya terbuka terhadap diskusi dan pertukaran gagasan.

“Kalau kampus takut pada film, lalu siapa lagi yang mau merawat ruang adu gagasan? Kampus mestinya jadi tempat mengadu beda pendapat, saling menguji argumen lewat diskusi, tulisan, riset, atau bahkan film. Bukan membubarkan nobar hanya karena isi film dianggap mengganggu kondusivitas,” kata Turmuzi.

Pihak rektorat belum buka suara

Setelah perdebatan berlangsung cukup lama, kegiatan nobar akhirnya resmi dibubarkan. Hingga berita ini mencuat, pihak rektorat UIN Mataram belum memberikan pernyataan resmi terkait alasan penghentian acara tersebut.

Insiden ini menambah daftar pembubaran pemutaran Pesta Babi di kampus-kampus Mataram, setelah sebelumnya kejadian serupa juga terjadi di Universitas Mataram dan Universitas Pendidikan Mandalika.

Kontroversi ini memperlihatkan bagaimana film dokumenter bertema sosial-politik dapat memicu perdebatan serius mengenai kebebasan berekspresi, ruang akademik, dan sensitivitas isu Papua di lingkungan pendidikan tinggi. Alih-alih meredam perhatian publik, pembubaran berulang justru membuat film ini semakin menjadi sorotan nasional.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*