Tragis! Saham Barito Grup ambruk masif bikin harta Prajogo Pangestu lenyap Rp49 triliun. Cek posisi terkaya RI sekarang!
The Path to Financial Freedom, EduFulus – Peta ekosistem konglomerasi di Indonesia kembali mengalami pergeseran besar. Konglomerat papan atas sekaligus pendiri Grup Barito, Prajogo Pangestu, kini dilaporkan tidak lagi bertengger di posisi pertama sebagai orang terkaya di Indonesia versi Forbes.
Berdasarkan data Forbes Real Time Billionaires per Kamis (21/5/2026), harta kekayaan Prajogo menyusut tajam hingga 16,97%.
Nilai kekayaannya menguap sekitar US$ 2,8 miliar atau setara dengan Rp 49,6 triliun hanya dalam hitungan hari (asumsi kurs Rp 17.719 per dolar AS).
SIMAK JUGA: Ini Daftar Terbaru 10 Orang Terkaya Indonesia, Ada Sosok Perempuannya
Penurunan masif ini menyisakan total kekayaan bersihnya di angka US$ 13,7 miliar (sekitar Rp 242,75 triliun), yang membuatnya terlempar ke peringkat ketiga orang terkaya di Indonesia.
Daftar Terbaru Orang Terkaya di Indonesia
Anjloknya kekayaan Prajogo Pangestu otomatis menaikkan posisi para konglomerat senior lainnya. Berdasarkan pergerakan data real-time bursa, berikut adalah peta terbaru tiga besar miliarder tanah air:
- R. Budi Hartono (Grup Djarum): Menempati posisi nomor satu dengan estimasi kekayaan mencapai US$ 15,58 miliar atau setara Rp 276 triliun.
- Low Tuck Kwong (Bayan Resources): Berada di posisi kedua dengan total kekayaan sebesar US$ 15,2 bah atau setara Rp 269 triliun.
- Prajogo Pangestu (Barito Grup): Kini harus puas di urutan ketiga dengan sisa kekayaan sekitar US$ 13,7 miliar.
Penyebab Ambruknya Kekayaan: Saham Inti Mengalami Guncangan
Penyebab utama dari merosotnya kekayaan Prajogo tidak lain adalah performa buruk emiten-emiten andalannya di lantai bursa yang mengalami aksi jual massal oleh investor.
Sentimen negatif ini dipicu oleh keputusan strategis MSCI (Morgan Stanley Capital International) yang mengeluarkan sejumlah saham emiten grup Barito dari indeks global mereka.
Hal ini memicu kekhawatiran besar di pasar mengenai potensi penarikan dana asing secara pasif (passive fund outflow), mengingat banyak manajer investasi global menjadikan MSCI sebagai acuan utama portfolio mereka.
Berikut adalah rincian koreksi tajam saham-saham inti Grup Barito pada perdagangan Kamis (21/5/2026):
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Menjadi yang paling tertekan setelah anjlok 14,66% ke level Rp 2.270 per saham.
- PT Barito Renewables Energy Tbk (BREN): Ambruk hingga 10,75% menuju level Rp 2.490 per saham. Kapitalisasi pasar BREN kini menyusut ke kisaran Rp 335,9 triliun, berbanding jauh dari posisi puncaknya di akhir 2025 yang sempat menyentuh Rp 1.298 triliun.
- PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk (CUAN): Merosot sebesar 9,32% ke posisi Rp 535 per saham.
- PT Barito Pacific Tbk (BRPT): Ikut melemah hingga 9,59% ke posisi Rp 1.555 per saham.
- PT Petrosea Tbk (PTRO) & PT Chandra Daya Investasi Tbk (CDIA): Masing-masing terkoreksi dalam sebesar 11,50% dan 7,59%.
Secara akumulatif, total nilai kapitalisasi pasar (market cap) dari enam emiten inti terafiliasi Prajogo Pangestu diperkirakan telah menyusut lebih dari Rp 1.400 triliun dari posisi puncaknya yang pernah menembus angka Rp 2.300 triliun.
Efek Domino Terhadap Ambruknya IHSG
Koreksi parah yang dialami oleh saham-saham berkapitalisasi pasar jumbo milik Prajogo ini menjadi salah satu biang kerok utama yang menyeret Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ke zona merah. Pada sesi pertama perdagangan, IHSG terpukul jatuh hingga 2,76% ke level 6.144.
BRI Danareksa Sekuritas menjelaskan bahwa kejatuhan IHSG didorong oleh kombinasi faktor domestik dan eksternal:
- Sektor Domestik: Kebijakan Bank Indonesia yang mendadak menaikkan BI Rate sebesar 50 bps menjadi 5,25% menimbulkan kekhawatiran pasar terkait pengetatan likuiditas dan peningkatan biaya modal emiten (cost of capital). Ditambah lagi dengan pelemahan nilai tukar rupiah di kisaran Rp 17.600 per dolar AS yang memicu risiko penarikan modal asing (capital outflow).
- Sektor Eksternal: Sikap bank sentral AS (The Fed) yang tetap condong hawkish berdasarkan risalah FOMC terbaru, ditambah ketegangan konflik geopolitik di Timur Tengah, semakin memperkeruh sentimen pasar saham global.
Fenomena jatuhnya kekayaan Prajogo Pangestu hingga kehilangan takhta sebagai orang terkaya nomor satu di RI menjadi bukti nyata tingginya volatilitas pasar modal di era ketidakpastian makroekonomi saat ini.
Bagi para pelaku pasar, pergerakan ini menegaskan pentingnya kewaspadaan terhadap rotasi indeks global seperti MSCI dan sensitivitas emiten berkapitalisasi besar terhadap sentimen suku bunga domestik.
SIMAK JUGA: Daftar 50 Orang Terkaya di Dunia 2026, Ada dari Indonesia?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply