Viral! Perawat RSUD Bima Diduga Dianiaya Keluarga Pasien yang Meninggal

Penganiayaan
Penganiayaan (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Viral dugaan penganiayaan perawat RSUD Bima oleh keluarga pasien. Simak kronologi dan kesaksian pilu rekan sejawat di sini.

BIMA, KalderaNews.com – Jagat media sosial dihebohkan oleh kabar dugaan penganiayaan yang menimpa seorang tenaga kesehatan (nakes).

Seorang perawat Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Bima berinisial AR diduga menjadi korban amuk massa oleh pihak keluarga pasien yang meninggal dunia saat tengah dirujuk.

BACA JUGA:

Peristiwa tragis ini memicu simpati sekaligus kecaman luas dari warganet, memicu kembali diskusi publik mengenai perlindungan keselamatan bagi tenaga medis yang bertugas di lapangan.

Kronologi Kejadian yang Viral di Media Sosial

Dugaan penganiayaan ini pertama kali mencuat dan menjadi viral setelah diunggah oleh akun Facebook bernama Umi Quin pada Sabtu (11/7/2026). Dalam unggahan yang beredar cepat di platform digital tersebut, pemilik akun membagikan kesaksiannya saat berada di dalam kapal penyeberangan yang sama dengan ambulans rujukan.

“Innalillahi wainnailaihi rojiun. Satu kapal dengan ambulan yang akan merujuk pasien ke RSUP. Qadarullah pasien meninggal di kapal. Perawatnya dipukul dan diamuk oleh keluarga pasien,” tulis akun Facebook Umi Quin.

Unggahan tersebut langsung dibanjiri komentar dan dibagikan ulang oleh ribuan warganet. Banyak yang menyayangkan aksi main hakim sendiri yang menimpa nakes AR saat menjalankan tugasnya.

“Ya Allah. Nyawa itu di tangan Tuhan, bukan di tangan Nakes. Pliisss. Pliiiss. Pliisss. Sedikit bijaksana lah dalam menyikapi sebuah kehilangan,” imbuh akun tersebut.

Berdasarkan informasi yang dihimpun, pasien rujukan yang berinisial Alfa bin Munir tersebut mengembuskan napas terakhirnya di tengah perjalanan laut menuju Rumah Sakit Umum Pusat (RSUP) Nusa Tenggara Barat (NTB), yang merupakan rumah sakit rujukan utama wilayah tersebut.

Respons Resmi dan Komitmen RSUD Bima

Menanggapi situasi yang berkembang, Direktur RSUD Bima, Ihsan, langsung memberikan pernyataan resmi untuk meredam spekulasi publik sekaligus memastikan langkah penanganan internal.

1. Menyampaikan Belasungkawa Mendalam

Pihak manajemen rumah sakit pertama-tama menyampaikan rasa duka yang mendalam atas meninggalnya pasien selama proses rujukan.

“Atas nama manajemen RSUD Bima, kami menyampaikan belasungkawa yang sedalam-dalamnya kepada keluarga almarhum,” kata Ihsan.

2. Investigasi Internal dan Evaluasi SOP

Terkait dugaan pengeroyokan dan penganiayaan terhadap perawat AR, Ihsan menegaskan bahwa pihaknya tengah melakukan penelusuran menyeluruh secara objektif. Pemeriksaan dilakukan mulai dari hulu hingga hilir proses rujukan, meliputi:

  • Persiapan keberangkatan pasien dari RSUD Bima.
  • Kesiapan unit ambulans beserta seluruh sarana medis penunjang.
  • Pelaksanaan prosedur pendampingan medis oleh nakes selama perjalanan.

3. Ketegasan Hukum dan Transparansi

Ihsan memastikan bahwa proses evaluasi ini berjalan ketat untuk mengungkap fakta yang utuh. Jika ditemukan adanya ketidaksesuaian prosedur, pihak RSUD akan mengambil langkah tegas sesuai aturan yang berlaku.

“RSUD Bima berkomitmen menjunjung tinggi keselamatan pasien, transparansi, akuntabilitas, dan peningkatan mutu pelayanan kesehatan sebagai bentuk tanggung jawab kepada masyarakat,” tegas Ihsan.

Viral Kesaksian Sejawat Perawat

Gelombang simpati dan kecaman di media sosial kian membesar setelah seorang dokter yang merupakan rekan sejawat korban, melalui akun Threads @santy_dr, membagikan kesaksian pilu mengenai dedikasi perawat AR serta beratnya medan rujukan yang harus dihadapi para tenaga kesehatan di daerah tersebut.

Perjuangan Nakes di Medan Ekstrem

Dalam utasnya, @santy_dr mengungkapkan rasa sedih yang mendalam karena proses rujukan pasien dari kota mereka menuju rumah sakit provinsi membutuhkan perjuangan fisik yang luar biasa ekstrem.

“Saya sedih, karena proses rujukan dari Kota kami ke provinsi sangat rumit dengan medan yang sulit. Bayangkan, perjalanan darat 12 jam dengan menyeberang laut 2-3 jam. Perjalanan pribadi saja terasa melelahkan, apalagi perjalanan dengan tugas merawat pasien penyakit berat agar tetap stabil dalam perjalanan,” tulisnya.

Ia menjelaskan bahwa “medan sulit” yang dimaksud bukanlah kiasan, melainkan realitas perjalanan nyata yang harus melewati jalan berliku, tebing, dan jurang. Hal inilah yang membuat hati para rekan sejawat teriris melihat perlakuan kasar yang diterima AR.

“Bayangkan, sudah lelah mengikuti perjalanan sambil merawat pasien kritis, lalu pasiennya meninggal dalam perjalanan dan anda dipukuli. Sakit sekali hati saya membayangkan rasa lelahnya lalu mendapatkan perlakuan yang kasar,” imbuh dokter tersebut.

Sosok Perawat AR di Mata Sejawat

Dokter @santy_dr juga memberikan kesaksian mengenai integritas dan kinerja perawat AR yang selama ini dikenal sangat berdedikasi tinggi dan cekatan di lingkungan kerja.

“Perawat tersebut saya kenal baik. Karena setiap ada pasien gawat, beliau selalu mendampingi saya tanpa mengeluh. Orangnya tanggap dan cekatan, rasanya tidak pantas untuk mendapatkan perlakuan seperti ini.”

Melalui momentum ini, ia menegaskan bahwa seluruh tenaga kesehatan dan Persatuan Perawat Nasional Indonesia (PPNI) telah bersuara guna menuntut perlindungan hukum yang nyata dari pihak rumah sakit dan perangkat daerah agar kasus kekerasan serupa tidak terulang kembali.

Reaksi dan Sorotan Netizen

Unggahan Threads tersebut langsung memicu respons emosional dari warganet. Kolom komentar dibanjiri desakan agar kasus ini diusut tuntas melalui jalur hukum tanpa kompromi.

  • Tuntutan Jalur Hukum: Akun @refamedshop berkomentar tegas, “Lapor polisi. Jgn mau damai.” Sementara akun @junita_lia mengungkapkan keprihatinannya hingga merasa enggan melanjutkan profesi medis karena kerentanan ini.
  • Sorotan pada Pemerataan Infrastruktur Kesehatan: Di sisi lain, netizen juga menyoroti ketimpangan fasilitas dan sulitnya akses transportasi medis di daerah. Akun @juwita_78 mempertanyakan kelayakan rujukan dengan medan seberat itu untuk pasien kritis. Bahkan, akun @haniallhaddar melayangkan kritik keras kepada pemerintah pusat dan daerah terkait pemerataan akses: “Pak Presiden, Pak Menkes… kenapa akses kesehatan ga rata, kenapa akses jalan sulit, kenapa ga disediakan transport mumpuni utk merujuk, helikopter misalnya..”

Kesaksian ini semakin mempertegas urgensi jaminan keselamatan bagi nakes yang bertugas di wilayah dengan tantangan geografis yang berat, sekaligus menjadi rapor penting bagi pembenahan sistem rujukan kesehatan di Indonesia.

Imbauan untuk Masyarakat

Pihak manajemen RSUD Bima juga meminta masyarakat dan warganet untuk tidak berasumsi liar atau menyebarkan informasi yang belum terverifikasi sebelum investigasi selesai dilakukan.

“Kami mengajak seluruh pihak untuk memberikan ruang bagi proses evaluasi agar dapat berjalan secara objektif dan tidak berspekulasi terhadap penyebab kejadian sebelum seluruh fakta terverifikasi,” pungkas Ihsan.

Hingga berita ini diturunkan, kasus dugaan penganiayaan tenaga kesehatan ini masih dalam proses penanganan internal dan diharapkan dapat diselesaikan melalui jalur hukum yang berlaku demi keadilan kedua belah pihak.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*