
BMKG tegaskan video viral air laut surut dekat Gunung Anak Krakatau bukan tanda tsunami, melainkan pasang-surut normal.
JAKARTA, KalderaNews.com – Sebuah unggahan video yang memperlihatkan kondisi air laut surut hingga mengekspos area dasar pantai di pesisir dekat Gunung Anak Krakatau, Selat Sunda, mendadak viral di platform media sosial Threads.
Video tersebut memicu kekhawatiran publik akan potensi munculnya gelombang tsunami pasca-aktivitas erupsi gunung api tersebut.
BACA JUGA:
- Erupsi Memang Reda, Potensi Bahaya Anak Krakatau Masih Mengintai!
- Gas SO2 Anak Krakatau Kepung Jabodetabek? Ini Kata Badan Geologi
- Sungai Kapuas dan Barito Mengering, Alarm Krisis Iklim dan Urgensi Transisi Energi
Menanggapi kepanikan warga, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) secara resmi memberikan klarifikasi bahwa fenomena surutnya air laut tersebut bukan merupakan tanda-tanda awal bencana tsunami.
Analisis BMKG: Fenomena Pasang-Surut Astronomis Normal
Kepala BMKG Wilayah II, Hartanto, mengonfirmasi bahwa berdasarkan pemantauan data ilmiah, tidak ditemukan keterkaitan antara air laut surut dalam video tersebut dengan aktivitas vulkanik Gunung Anak Krakatau.
Hasil pemantauan multisensor BMKG menunjukkan beberapa poin penting:
- Sensor Tide Gauge Normal: Pemantauan dari 20 stasiun tide gauge di kawasan Selat Sunda per Minggu (6/9/2026) menunjukkan bahwa tinggi muka air laut masih berada dalam pola pasang-surut astronomis harian yang normal.
- Tidak Ada Sinyal Pemicu Tsunami: Jaringan seismik BMKG tidak mencatat adanya sinyal longsoran skala besar pada tubuh gunung, perpindahan massa tanah di bawah laut, maupun gempa tektonik yang berpotensi membangkitkan tsunami.
- Kondisi Lokal: BMKG mengimbau agar rekaman video yang beredar diperlakukan sebagai fenomena atau kondisi dinamika pantai secara lokal, bukan bukti ancaman bencana tsunami.
Catatan Aktivitas Erupsi Gunung Anak Krakatau
Mengenai status gunung api itu sendiri, BMKG membenarkan adanya aktivitas erupsi terkini yang terekam pada Jumat (4/9/2026) pukul 22.03 WIB.
Berdasarkan data teknis pemantauan:
- Erupsi terekam di stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi singkat sekitar 29 detik.
- Karakter letusan yang terjadi teridentifikasi sebagai tipe Strombolian, di mana kolom abu vulkanik tidak teramati secara visual.
- Rekaman muka air laut hingga Sabtu (5/9/2026) dan Minggu (6/9/2026) dipastikan tetap stabil tanpa ada lonjakan anomali.
Saat ini, tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau bertahan pada Status Level III (Siaga) di bawah pemantauan ketat secara real-time oleh BMKG, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), dan Badan Geologi.
Panduan Keselamatan & Imbauan untuk Masyarakat
Meskipun fenomena dalam video terbukti aman, BMKG tetap mengingatkan warga pesisir untuk memahami langkah mitigasi mandiri.
Masyarakat diminta tetap waspada dan segera melakukan evakuasi mandiri menuju tempat yang lebih tinggi hanya jika menemui indikasi alam berikut:
- Air laut mendadak surut secara sangat cepat dan tidak wajar (di luar siklus harian).
- Terdengar suara gemuruh yang sangat kuat dari arah laut.
- Muncul gelombang laut dengan bentuk atau dinamika yang abnormal.
Masyarakat diimbau untuk tidak mudah terprovokasi oleh narasi yang belum terverifikasi di media sosial dan selalu merujuk informasi kebencanaan pada kanal resmi BMKG, PVMBG, serta BPBD setempat.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply