Ismunandar Ungkap Problematika Riset di Indonesia

Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ismunandar
Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ismunandar (KalderaNews/Ristekdiksi)

BANDUNG, KalderaNews.com – Direktur Jenderal Pembelajaran dan Kemahasiswaan (Belmawa), Kementerian Riset, Teknologi, dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) Ismunandar menegaskan tantangan hidup di era revolusi industri 4.0 itu penuh tantangan.

“Tantangan di zaman ini penuh dengan knowledge atau internet of things, yang intinya membuat kita semakin dituntut untuk menjadi manusia yang lebih kreatif lagi. Jadi kalau tadi judulnya ‘Riset dan Teknologi itu nyata atau maya?’ sudah lelas jawabannya, tidak usah dijawab lagi karena kepentingannya semakin ke depan semakin sangat penting,” tandasnya di acara Talkshow IRAMA (Inspirasi Ramadhan) di Ruang Utama Masjid Salman Institut Teknologi Bandung (ITB) beberapa waktu lalu.

Ismunandar menjelaskan, terlebih untuk dunia riset Indonesia, itu merupakan ladang amal yang sangat besar. Pasalnya, peta dunia riset kita masih samar-samar.

BACA JUGA:

“Maka dari itu tugas dari para mahasiswa sebagai generasi yang akan datang adalah untuk membuat peta riset di tanah air menjadi semakin besar, semakin nyata, dan semakin dilihat oleh orang. Setiap riset yang di publish, lalu disitasi oleh orang lain, itu merupakan ilmu yang tidak akan pernah putus,” lanjutnya.

“Kita itu negara dengan penduduk terbanyak nomor 4 di dunia. Dari sisi ekonomi pun kita sekarang sudah mulai maju dengan masuk ke dalam 16 besar, dan berpotensi untuk menjadi negara terbesar ke-4 di tahun 2050. Bisa atau tidaknya, semua tergantung bagaimana kita menyiapkan generasi yang pada tahun 2050 kelak akan memimpin dan akan banyak berkontribusi, dan semuanya harus dipersiapkan dari sekarang,” tandasnya.

Pada kesempatan ini ia juga memaparkan beberapa tantangan riset di Indonesia:

  • Sumber Daya Manusia
    Sumber daya riset di Indonesia terbilang masih kecil (jika dihitung dari jumlah peneliti per-juta penduduk). Riilnya peneliti aktif kita angkanya masih ratusan kurang bila bandingkan dengan negara-negara maju yang angkanya memang sudah puluhan ribu, bahkan ada yang sudah mendekati hampir ratusan ribu.
  • Dana
    Anggaran riset Indonesia terbilang kecil per-GDP (Gross Domestic Product) yang masih di angka 0,25 persen. Sebagian besar angka tersebut berasal dari dana pemerintah, sementara dari pihak swasta masih kurang. Dana yang kecil ini yang benar-benar untuk riset juga kecil, karena total anggaran riset itu banyak terdapat di Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) di berbagai Departemen, tidak semuanya dana riset itu berkumpul di Kemenristekdikti. Namun, riset yang mereka lakukan belum tentu sesuai dengan rencana strategis pemerintah. Akan tetapi, yang kini sudah mulai dibenahi adalah mulai sekarang masing-masing Balitbang boleh menganggarkan riset, tapi strategi nasionalnya ditetapkan dan kita (Kemenrisetdikti-Red) ditugasi untuk menyeleksi proposalnya, dan semuanya harus sesuai dengan agenda dari riset nasional.
  • Kelembagaan Riset
    Balitbang yang ada di semua Departemen sistem kerja risetnya belum bisa bersinergi.
  • Relevansi
    Menentukan apakah riset-riset kita sudah sesuai dengan kebutuhan industri, dan kebutuhan pembangunan.

“Kalau ada sesuatu yang bisa dipatenkan, patenkan! Ini sekarang jumlah patennya juga naik. Namun, kadang komentarnya ada yang membeli tidak? Ada yang menjadikan produk tidak? Karena kadang-kadang paten hanya sekedar paten, tidak menjadi produk. Sebetulnya paten juga harus dipelihara, setiap tahun harus bayar, dan sebagainya. Ini juga menjadi PR berikutnya, bagaimana kita meningkatkan itu, riil menjadi produk yang kemudian bias dijual,” bebernya.

Ismunandar kemudian mempresentasikan beberapa penelitian terkini yang berada di bawah naungan Kemenristekdikti, seperti pesawat N219 (LAPAN dan PT. DI), motor listrik Gesits (mulai dari baterai dan semua komponennnya merupakan kontribusi dari riset-riset yang ada di Indonesia), bioteknologi sapi potong (mulai dari bibit, makanan, dan inseminasinya diteliti oleh para peneliti dari LIPI dan IPB), juga Katalis Merah Putih (hasil riset tim peneliti ITB yang merubah minyak kelapa sawit menjadi bahan bakar nonfosil berkualitas tinggi). (LF)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*