
Sejumlah organisasi mahasiswa dan kampus membantah keterlibatan dalam BEM Bersatu. Mereka menegaskan nama organisasi dicatut.
JAKARTA, KalderaNews.com– Sejumlah organisasi mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi membantah keterlibatan mereka dalam aliansi yang menamakan diri BEM Bersatu.
Bantahan tersebut muncul setelah kelompok itu menjadi sorotan publik karena menuding adanya kepentingan politik di balik gerakan mahasiswa yang selama ini dikawal mantan Ketua BEM Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto.
BEM Bersatu sebelumnya muncul melalui konferensi pers di Jakarta dengan menghadirkan sejumlah mahasiswa yang mengaku mewakili organisasi kemahasiswaan dari berbagai kampus.
BACA JUGA:
- BEM Bersatu Soroti Dugaan Penunggangan Politik dalam Demo Tolak MBG
- Nyinyiri Demo Mahasiswa, Inilah Sosok Kontroversial Ika Damayanti Fatma Negara
- Kisruh SPMB, Wali Murid Demo di Depan Gedung DPRD Jabar
Sejumlah organisasi mahasiswa mengaku nama kampusnya dicatut
Dalam pernyataannya, aliansi tersebut menyoroti dugaan keterkaitan politik di balik aksi-aksi mahasiswa yang mengkritik sejumlah kebijakan pemerintah.
Mereka juga menyinggung penggunaan sebuah kendaraan yang dikaitkan dengan Siti Nuraini, adik Letjen TNI (Purn) Setyo Sularso.
Hubungan keluarga Setyo Sularso dengan mantan Panglima TNI Andika Perkasa kemudian dikaitkan dengan Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP).
Selain itu, BEM Bersatu turut menyoroti agenda Dialog Nasional Kebangsaan yang dijadwalkan berlangsung di Bandung pada Kamis (18/6/2026) dan disebut akan menghadirkan Tiyo Ardianto bersama sejumlah tokoh lainnya.
Namun, tak lama setelah konferensi pers tersebut, sejumlah organisasi mahasiswa dan pihak kampus mengeluarkan klarifikasi.
BEM UBSI bantah keterlibatan
BEM Fakultas Teknik dan Informatika Universitas Bina Sarana Informatika (UBSI) menegaskan tidak pernah menghadiri maupun mengirimkan perwakilan dalam kegiatan tersebut.
“BEM FTI UBSI tidak pernah memberikan mandat kepada pihak manapun untuk mewakili organisasi dalam kegiatan tersebut,” demikian pernyataan resmi yang diunggah melalui akun Instagram mereka pada Rabu (17/6/2026).
BEM FTI UBSI juga membantah memiliki pengurus, anggota, maupun ketua bernama Ahmad sebagaimana disebutkan dalam pemberitaan terkait BEM Bersatu.
Organisasi tersebut menegaskan seluruh pernyataan yang disampaikan pihak yang mengatasnamakan BEM FTI UBSI bukan merupakan sikap resmi lembaga.
BEM UNJ mengaku identitas organisasinya telah dicatut
Bantahan serupa datang dari BEM Fakultas Psikologi Universitas Negeri Jakarta (UNJ). Mereka menyatakan identitas organisasinya telah dicatut setelah nama Ahmad Ghazy disebut sebagai perwakilan dalam aliansi tersebut.
Menurut BEM Fakultas Psikologi UNJ, Ahmad Ghazy merupakan alumni angkatan 2020 dan bukan bagian dari kepengurusan maupun keanggotaan organisasi saat ini.
“Tindakan maupun pandangan yang disampaikan merupakan tanggung jawab pribadi pihak tersebut,” tegas BEM Fakultas Psikologi UNJ.
Sementara itu, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Nasional (Unas) juga meluruskan informasi terkait sosok Ardy Zulkifly yang diperkenalkan sebagai Ketua BEM FISIP Unas.
Tidak ada organisasi BEM di tingkap fakultas FISIP Unas
Dekan FISIP Unas Aos Yuli Firdaus menegaskan bahwa tidak ada organisasi BEM di tingkat fakultas dalam struktur kemahasiswaan FISIP Unas.
“Tidak terdapat jabatan ketua BEM FISIP Universitas Nasional dalam struktur organisasi kemahasiswaan yang berlaku di lingkungan FISIP Universitas Nasional,” kata Aos Yuli dalam keterangan resminya.
Ia menambahkan bahwa individu yang mengaku sebagai Ketua BEM FISIP Unas tidak memiliki kapasitas kelembagaan untuk mewakili fakultas.
Oleh karena itu, kehadiran maupun pernyataan yang disampaikan dalam forum BEM Bersatu merupakan tanggung jawab pribadi dan tidak dapat dianggap sebagai sikap resmi kampus.
FISIP Unas juga mengimbau media, organisasi mahasiswa, dan masyarakat untuk melakukan verifikasi terhadap identitas serta afiliasi kelembagaan narasumber sebelum dipublikasikan.
Kampus tersebut meminta pihak yang telah menyebut individu tersebut sebagai Ketua BEM FISIP Unas agar melakukan koreksi sesuai kondisi kelembagaan yang sebenarnya.
Jubir PDIP buka suara
Bantahan juga datang dari PDIP. Juru bicara PDIP Guntur Romli menegaskan bahwa Siti Nuraini maupun Setyo Sularso bukan kader ataupun pengurus partai.
Menurutnya, upaya menghubungkan kepemilikan kendaraan dengan relasi keluarga hingga menarik kesimpulan bahwa PDIP berada di balik gerakan mahasiswa merupakan logika yang keliru.
“Menghubungkan kepemilikan kendaraan milik warga sipil, lalu ditarik ke hubungan persaudaraan, kemudian ditarik lagi ke hubungan besan untuk melompat pada kesimpulan bahwa PDIP berada di balik aksi mahasiswa adalah sesat pikir yang nyata,” kata Guntur.
Ia juga menegaskan PDIP tidak memiliki keterkaitan dengan aksi mahasiswa yang menolak sejumlah kebijakan pemerintah, termasuk program Makan Bergizi Gratis. Menurut Guntur, tudingan tersebut merupakan fitnah yang tidak berdasar dan merendahkan independensi gerakan mahasiswa.
“Itu adalah fitnah yang tidak berdasar, absurd, dan mencederai integritas gerakan moral mahasiswa,” ujarnya.
Guntur menambahkan forum Dialog Nasional Kebangsaan yang akan dihadiri Tiyo Ardianto dan Setyo Sularso bukan agenda yang diselenggarakan PDIP. Menurut dia, kehadiran tokoh dalam forum diskusi merupakan hak konstitusional warga negara dan tidak dapat serta-merta dianggap sebagai bentuk mobilisasi partai politik.
“Mahasiswa bergerak karena panggilan nurani dan analisis kritisnya terhadap kebijakan negara yang dirasa menyentuh hajat hidup rakyat,” kata Guntur.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply