Wahana Visi Indonesia: 42 Persen Anak Bosan di Rumah dan Ingin Belajar di Sekolah

Ilustrasi: Banyak anak yang bosa di rumah dan ingin kembali ke sekolah. (Ist.)
Ilustrasi: Banyak anak yang bosa di rumah dan ingin kembali ke sekolah. (Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Yayasan sosial kemanusiaan Wahana Visi Indonesia memaparkan data dampak aspek kehidupan anak akibat pandemi Covid-19 di Indonesia. “Hasil penilaian cepat ini mengkaji pendidikan, perlindungan anak, akses layanan kesehatan, serta pemenuhan kebutuhan dasar akan makanan bergizi saat pandemi,” kata Program Quality and Accountability Manager Wahana Visi Indonesia Cahyo Prihadi dalam webinar yang dilakukan secara daring.

BACA JUGA:

Cahyo mengatakan, studi ini menggunakan metode kuantitatif dan kualitatif yang dilakukan 12 sampai 18 Mei. Penilaian ini melibatkan 900 rumah tangga dari kalangan menengah ke bawah dengan responden 943 anak di 251 desa di 35 kabupaten/ kota di Sumatera Utara, DKI Jakarta, Jawa Timur, Bengkulu, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Sulawesi Tengah, Papua, Maluku Utara, dan Nusa Tenggara Timur.

Cahyo mengungkapkan, penutupan sekolah selama masa pandemi memang memaksa anak untuk belajar dari rumah. Tapi pada kenyataannya, hanya 68 persen anak yang memilik akses program belajar dari rumah. “Selebihnya kesulitan mendapatkan akses karena diliburkan, kurang arahan atau kurangnya fasilitas.”

Hanya sekitar 30 persen anak yang memiliki akses untuk mengikuti program belajar dari rumah secara daring melalui berbagai aplikasi, seperti Zoom, Google Meet, dan WhatsApp. Cahyo menambahkan, sekitar 36 persen anak belajar dengan metode luring (luar jaringan) dengan kunjungan ke rumah, belajar melalui televisi dan radio.

“Sekitar 57,4 persen anak menikmati belajar dari rumah, sementara sekitar 42,6 persen anak merasa bosan dan ingin kembali ke sekolah untuk belajar dan bertemu dengan teman-temannya,” paparnya.

Cahyo mengakui, metode belajar dari rumah menghadapi tantangan, seperti koneksi dan kuota internet, kurangnya fasilitas belajar mengajar, seperti papan tulis dan buku teks, hingga minimnya panduan dan kapasitas sekolah. Selain itu, ada perubahan pola asuh dan anak kurang mendapatkan pengawasan dari orang dewasa.

“Dua dari tiga anak tidak mendapat pengawasan berkala saat mengakses internet yang dapat meningkatkan risiko terpapar konten negatif,” katanya.

Survei ini juga menemukan bahwa hampir dua per tiga anak mengaku mengalami kekerasan verbal dari orangtua, walau pun hasil survei kepada orangtua menunjukkan hal yang kontradiktif. Lebih dari separuh anak tidak mengetahui mekanisme rujukan kasus kekerasan terhadap anak.

Metode belajar jarak jauh ini juga meningkatkan risiko anak mengalami tekanan psikososial, karena khawatir ketinggalan pelajaran serta khawatir tertular virus. Selain itu tekanan sosial ekonomi yang dialami orang tua juga turut dirasakan anak. “Hal ini tentu berdampak langsung pada kecukupan nutrisi anak. Lebih dari 50 persen rumah tangga tidak dapat memenuhi kebutuhan makanan bergizi seimbang karena menurunnya pendapatan keluarga,” imbuh Cahyo. (yp)

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*