Mengapa Pendidik Perlu Menulis Artikel Ilmiah Popular?

Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.
Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta (KalderaNews/Ist)

Oleh: Eben E. Siadari *

JAKARTA, KalderaNews.com – Ada perkataan seorang dosen yang pernah cukup lama membekas di benak saya. Dia mengatakan seorang saintis sebaiknya tidak menulis di koran. Tidak menulis artikel-artikel populer. Sebaiknya menulislah di jurnal yang kredibel. Meneliti. Surat kabar bukan tempat seorang saintis yang serius.

Nasihat itu menempel cukup dalam di pikiran saya. Cukup lama saya menganggap remeh para akademisi yang menulis di surat kabar. Sebaliknya, saya semakin sering kagum pada mereka yang membanjiri artikel-artikel tulisan mereka dengan  idiom yang khas ilmu yang mereka tekuni. Semakin sulit dimengerti, semakin baik saya anggap artikel itu.

Ini membawa pertanyaan apakah sesuatu yang dipandang ilmiah harus disuguhkan dengan bahasa yang sulit? Untuk menunjukkan otoritas sebuah tulisan, kita tahu, memang ada batas-batas tertentu yang membuat penulis harus mempertahankan diksi yang lazim dalam khasanah ilmu yang digelutinya. Namun, dengan mempertimbangkan hal itu, penulis semestinya memikirkan secara sungguh-sungguh strategi menyuguhkan gagasan dan penyebaran ilmu sehingga sebanyak mungkin orang memahaminya.

Intelektual Publik Diperlukan

Saya teringat pada suatu masa di akhir dekade 1980-an hingga dekade 1990-an, ketika ekonomi Indonesia tengah pada puncak kinerjanya. Perekonomian tumbuh tinggi. Banyak praktik bisnis baru seiring dengan masuknya investasi asing. Lembaga-lembaga baru yang menjadi regulator juga diperkenalkan. Institusi lama yang mati suri, juga hidup kembali. Pasar modal bergairah. Perbankan booming.

BACA JUGA:

Semua ini membutuhkan penjelasan. Publik akan gamang di tengah perubahan yang demikian cepat. Siapa yang harus menjelaskan ini semua kepada masyarakat bila para ekonom sibuk dengan dunia mereka? Apakah masyarakat akan cukup percaya bila fenomena ekonomi ini hanya dijelaskan oleh para pelaku-pelaku di lapangan, yang notabene memiliki konflik kepentingan dan belum tentu juga dapat melihatnya dalam kacamata yang komprehensif?

Maka pada waktu itu muncullah sejumlah ekonom yang menulis di media massa. Umumnya mereka berlatar belakang kampus atau lembaga penelitian tertentu. Banyak di antara mereka dapat memenuhi harapan publik. Mereka menjadi idola. Mereka menulis dengan bahasa yang mudah dimengerti dan dapat menjawab rasa ingin tahu masyarakat. Ekonomi jadi ilmu yang sangat membumi.

Di sini saya mulai meninjau ulang pendapat lawas yang yang sempat tertanam di benak saya. Apakah betul seorang saintis harus selalu memakai bahasa sains? Apakah mereka tidak memiliki tanggung jawab untuk mencerdaskan publik dan untuk itu mereka harus berani mengorbankan ‘bahasa’ mereka?

Pada tahun 2006 dalam buku yang disunting oleh Amitai Etzioni,  “Public Intellectuals” (penerbit Rowman & Littlefield Publishers) diperkenalkan apa yang dikenal sebagai Intelektual Publik. Mereka  adalah para akademisi kampus yang melibatkan diri dalam diskursus masyarakat mengenai berbagai urusan publik disamping berkarier sebagai akademisi. Acap kali mereka memberi respons melampaui bidang ilmu mereka sendiri untuk menanggapi masalah-masalah normatif yang dihadapi masyarakat.

Mereka menjadi pemberi arah yang dipercaya, karena independensi posisi mereka. Lebih dari itu, mereka dinilai dapat berdiri melampaui para saintis yang terlalu asyik (dan mungkin lebih berpihak) dengan dunia mereka sendiri. Para intelektual publik ini dipandang dapat mewakili aspirasi publik.

Selain integritas dan otoritas keilmuan, yang harus dimiliki oleh seorang intelektual publik ialah kapasitas untuk mengemukakan pendapat yang dapat menjangkau publik secara luas. Ia harus mampu menulis dengan bahasa yang sederhana dan menarik, sehingga tulisan-tulisannya tidak hanya dapat dibaca oleh kolega-koleganya sesama akademisi.

Di Inggris masyarakat mengenal Richard Dawkins sebagai salah satu intelektual publik yang dihormati karena kemampuannya menjelaskan dan mempopulerkan Teori Evolusi yang berpusat pada gen (gen centered view of evolution). Buku ilmiah populer pertamanya, terbit tahun 1976 berjudul The Selfish Gene. Buku ini, menurut jajak pendapat untuk memperingati Royal Society Inggris pada tahun 2017, merupakan buku sains paling berpengaruh sepanjang masa.

BACA JUGA:

Kapasitas dan komitmen Richard Dawkins sebagai intelektual publik membuat Universitas Oxford memberi gelar profesor kepada Richard Dawkins pada 1995. Gelar profesor itu disiapkan secara khusus untuk kategori baru, yang disebut The Simonyi Professorship for the Public Understanding of Science.

Diadakannya gelar profesor semacam ini bertujuan memberi penghormatan sekaligus amanat kepada pemegangnya agar mengkomunikasikan sains kepada publik sehingga tercipta pengertian yang mendasar dan benar. Penganugerahan gelar ini sejalan dengan amanat Charles Simonyi, yang mengharapkan agar pemegang gelar tersebut memberikan kontribusi penting kepada pemahaman publik atas sejumlah isu sains.

Di Amerika Serikat, ada Michio Kaku,  fisikawan yang dikenal sebagai science communicator, yaitu ahli yang menginformasikan, mengedukasi dan membagikan topik-topik berkaitan dengan sanis kepada publik yang lebih luas. Kaku antara lain telah menulis buku-buku best seller di bidang sains, seperti Physics of the Impossible (2008), Physics of the Future (2011), dan The Future of the Mind (2014).

Mitos bahwa menulis di koran atau di media massa itu adalah murahan, patah ketika pada tahun 2008 Paul Krugman dinobatkan sebagai peraih nobel ekonomi. Sebagai ekonom, keahlian profesor emeritus Princeton University’s Woodrow Wilson School itu tidak diragukan. Pada saat yang sama, kolumnis di New York Times itu telah membuka mata dunia pada berbagai kerumitan ekonomi AS dan global lewat tulisan-tulisannya yang renyah di surat kabar. Ia tidak kehilangan kredensi dengan menulis secara populer.

Di Indonesia kita harapkan akan semakin banyak Intelektual Publik seperti Richard Dawkins atau Michio Kaku, khususnya di bidang-bidang Ilmu Eksakta. Mungkin dahaga kita akan artikel-artikel sains populer dulu pernah dipuaskan oleh tulisan-tulisan ahli astronomi Karlina Supelli. Tetapi Indonesia yang sebesar dan seluas ini, seharusnya perlu semakin banyak memunculkan intelektual-intelektual publik.

Saya beruntung beberapa kali mendapat kesempatan membantu penyuntingan disertasi, tesis, dan penelitian, untuk disajikan sebagai buku ilmiah populer untuk menjangkau publik yang lebih luas. Dari pengalaman itu saya mendapat kesan dan meyakini banyak pengetahuan yang berguna masih tersimpan di perpustakaan, di arsip-arsip riset, dan perlu diolah sehingga sampai ke publik dalam bahasa yang populer dan dipahami publik.

Seyogyanya para pendidik lebih banyak menulis, terutama demi kepentingan pendidikan anak didik mereka dan publik yang lebih luas. Kita sering mengeluh bahwa minat anak-anak kita terhadap sains sangat rendah bila dibandingkan dengan negara tetangga.  Barangkali ini dikarenakan kita belum dapat menyediakan bacaan yang mendorong mereka untuk bisa berkata bahwa sains itu menarik, menyenangkan, dan ada di sekitar kita.

* Eben E. Siadari adalah alumni Advanced Course for Practical Journalism, Thomson Foundation, Cardiff Wales, bekerja sebagai penulis dan trainer kepenulisan, buku karyanya antara lain Esensi Praktik Menulis (2019), tinggal di Jakarta.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*