Dr. Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA: Orangtua Adalah Guru Pertama, Guru Utama dan Guru Paling Lama




Entrepreneurship Educator & Online Learning Specialist yang pernah menjadi President CEC (Ciputra Entrepreneurship Center), Dr.Ir. Antonius MBA, MSc, MA
Entrepreneurship Educator & Online Learning Specialist yang pernah menjadi President CEC (Ciputra Entrepreneurship Center), Dr.Ir. Antonius MBA, MSc, MA (Foto: Uc.ac.id)

JAKARTA, KalderaNews.com – Entrepreneurship Educator & Online Learning Specialist yang pernah menjadi President CEC (Ciputra Entrepreneurship Center), Dr. Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA menegaskan bahwa orangtua adalah guru pertama, guru utama dan guru paling lama.

Hal ini ditegaskannya saat menjadi narasumber seminar unik yang patut dicontoh yang diselenggarakan SDK 11 PENABUR Jakarta, yakni Seminar Parenting Online Webiner bertajuk “Aktivitas Kreatif & Berkualitas Bersama Anak Saat #Dirumahaja” melalui live streaming di YouTube Channel BPK PENABUR Jakarta, Jum’at, 17 April 2020 bersama istrinya Design Thinking Trainer, Dra. Jeni Putri Tanan MPS.

“Sekarang kita sebagai orangtua berperan makin besar, khususnya karena Covid-19, karena ketemu dengan muridnya lebih lama,” tandas penulis disertasi berjudul Blended Online Course (BOC): A Blended Learning Project to Train Indonesian Female Migrant Workers Who Work in Hong Kong dalam Distance Education di Athabasca University.

BACA JUGA:

Ia menegaskan kata krisis merujuk pada krisis saat ini karena Covid-19 dalam kata Mandarin memuat dua kata penting yakni danger dan opportunity.

“Covid-19 bahayanya sudah jelas. Kita sudah bertemu dengan bahaya itu. Kita sudah mengalami kesulitan dengan bahaya itu. Namun suatu kali, Covid-19 akan berakhir. Kita semua berharap berhasil melaluinya,” tandas pria yan pernah menjadi Senior Director Ciputra Group untuk Project Director of CE-O (Ciputra Entrepreneurship-Online).

Namun kalau hanya menemu bahaya maka yang didapatkan hanya kerugian. Di masa Covid-19 saat ini, ada baiknya siapa pun bersentuhan tidak hanya dengan bahaya, tetapi juga dengan peluang. Supaya kelak ketika nanti berakhir, juga mendapatkan peluang baru, hal-hal baru dan pengalaman baru, khususnya untuk anak-anak.

“Anak-anak sekarang ini akan menuju masa depan. Kalau kita ditanya anak kita itu ingin jadi anak yang berhasil atau yang bahagia maka biasanya banyak yang menjawab dua-duanya. Tetapi kalau ditanya mana yang lebih ingin dulu dicapai dulu maka mulai bingung jawabnya.”

Cinta Kasih Dialami Lewat Relasi

Ia lantas mengudar makna sukses dan bahagia secara lebih mendalam melalui elaborasi dua buku riset. Hasil riset dalam buku “The Great at American Succes Story” menjawabi apa yang dilakukan di masa kecil sehingga menjadi orang sukses di masa depan. Ia menegaskan riset kebahagiaan menyimpulkan IQ dan latar belakang keluarga kaya tidak menentukan kebahagiaan.

“Pertama adalah cinta kasih dan yang kedua adalah menemukan cara untuk menghadapi kehidupan yang tidak mengenyahkan cinta kasih. Happiness is live. Full stop. Anak-anak yang mengalami cinta kasih sewaktu kecil diprediksikan akan menjadi anak-anak yang bahagia di masa tua,” tandas alumni The University of Connecticut (2012-2015) untuk MAEducational Psychology-Gifted Education.

Entrepreneurship Educator & Online Learning Specialist yang pernah menjadi President CEC (Ciputra Entrepreneurship Center), Dr. Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA  bersama istrinya Design Thinking Trainer, Dra. Jeni Putri Tanan MPS saat menjadi narasumber Seminar Parenting Online Webiner bertajuk “Aktivitas Kreatif & Berkualitas Bersama Anak Saat #Dirumahaja” yang diselenggarakan SDK 11 PENABUR Jakarta melalui live streaming di YouTube Channel BPK PENABUR Jakarta, Jum’at, 17 April 2020
Entrepreneurship Educator & Online Learning Specialist yang pernah menjadi President CEC (Ciputra Entrepreneurship Center), Dr. Ir. Antonius Tanan MBA, MSc, MA bersama istrinya Design Thinking Trainer, Dra. Jeni Putri Tanan MPS saat menjadi narasumber Seminar Parenting Online Webiner bertajuk “Aktivitas Kreatif & Berkualitas Bersama Anak Saat #Dirumahaja” yang diselenggarakan SDK 11 PENABUR Jakarta melalui live streaming di YouTube Channel BPK PENABUR Jakarta, Jum’at, 17 April 2020 (KalderaNews/BPK PENABUR Jkt/JS de Britto)

Cinta kasih dialami lewat relasi. Oleh sebab itu, membangun relasi yang menciptakan kebahagiaan anak itu menjadi bagian penting supaya anak bahagia di masa depan.

“Tetapi tidak bisa dibalik, tidak bahagia di masa kecil, tidak bahagia di masa tua, karena orang bisa berubah. Orang bisa berdamai dengan masa lalunya. Orang bisa mengambil keputusan untuk bertumbuh.”

Sementara itu riset dalam Triumphs of Experience menjawabi apa faktor-faktor di masa kecil hingga menjadi orang yang sukses di masa dewasa. Riset menemukan pengaruh dalam keluarga yang menentukan untuk kesuksesan yakni tiga hal yang terkuat: happiness of home life, strong support of parent dan strong of family members. Tiga-tiganya ada di lingkungan rumah.

Ayah, Masuklah dalam Kehidupan Anak!

Dari dua riset di atas ia pun mengutip pernyataan peraih Nobel Albert Schweitzer yakni bahwa succes ist not the key to happiness. Happiness is the key to success.

“Ketika kita membangun rumah kita menjadi rumah yang bahagia untuk anak-anak, kita mempersiapkan anak untuk bahagia dan berhasil.”

Ia menambahkan kata kunci relasi adalah waktu. Relasi yang dekat dan baik itu butuh waktu. Saat program di rumah karena virus Corona ini, sebenarnya terbuka peluang waktu lebih banyak bagi orangtua untuk memulai, membangun atau menata ulang suasana rumah untuk jadi sebuah “rumah bahagia” untuk menumbuhkan anak menjadi anak yang bahagia dan berhasil.

“Saat wabah Corona, tidak kondangan, tidak melayat, tidak shooping hingga tidak berlama-lama di jalan saat ke kantor, itu peluang investasi untuk masa depan anak,” tandasnya.

“Kita akan menjadi orang yang paling dirugikan untuk anak-anak kita kalau kita tidak memanfaatkan waktu yang sudah terbuka ini untuk membangun relasi dengan anak-anak, untuk menolong anak-anak menikmati relasi yang baik dengan orangtuanya untuk fondasi kebahagiaan dan keberhasilan dalam hidupnya,” imbuhnya.

Ia menjelaskan di dalam hati anak ada ruangan yang khhusus disediakan untuk ayahnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menggantikannya termasuk ibunya. Oleh sebab itu untuk para ayah, masuklah dalam kehidupan anak.

“Anak-anak mengharapkan kehadiran Anda. Gunakan waktu di rumah karena Covid-19 untuk masuk dalam kehidupan anak. Lalu waktu yang berkualitas dengan anak itu apa? Pertama, membangun relasi. Kedua, membangun kompetensi. Relasi menciptakan kebahagiaan, kompetensi bekal masa depannya. Oleh sebab itu, aktivitas selama di rumah sebaiknya mencakup 4 hal yakni relational zone, growth zone, dangerous zone dan difficult zone,” pungkasnya peraih gelar MSc Urban Development University College London, U. of London, MBA Business & Management Universitas Prasetiya Mulya dan Civil Engineer Engineering Universitas Katholik Parahyangan.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu.




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*