Edy Susanto: Bukan Nunggu Meletus Baru Lari

Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto
Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto (KalderaNews/Dok. Pribadi)

MAGELANG, KalderaNews.com – Hasil pengamatan Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) terkini terkait perkembangan aktivitas Gunung Merapi per Sabtu, 21 November 2020, terjadi guguran dengan jumlah 15, aplitudo 4-7 mm dalam durasi 13-90 detik.

Hembusan terjadi dengan jumlah 23, amplitudo 2-11 mm dalam durasi 10-19 detik, sedangkan gempa vulkanik dangkal berjumlah 14 dengan amplitudo yang teramati 40-75mm dalam durasi 14-42 detik.

Sementara itu, gemuruh guguran yang terdengar keras sebanyak satu kali dengan amplitudo 75mm pada pukul 8.19 WIB dari Pos Pantau Babadan dan Kaliurang.

BACA JUGA:

BPPTKG menyampaikan potensi bahaya saat ini adalah berupa guguran lava dari aktivitas erupsi efusif dan lontaran material vulkanik apabila terjadi letusan eksplosif serta awan panas sejauh maksimal lima kilometer dari puncak kawah.

BPPTKG pun memberikan rekomendasi untuk wilayah KRB III dalam radius lima kilometer dari puncak kawah merapi agar dikosongkan dari segala jenis aktivitas manusia dan tidak boleh ditinggali oleh penduduk. Hal itu dimaksudkan agar apabila kemudian Gunung Merapi meletus sewaktu-waktu maka tidak terjadi korban jiwa maupun kerugian harta benda.

Tidak Nunggu Meletus

Menyikapi kondisi terkini, Kepala Pelaksana (Kalak) BPBD Kabupaten Magelang, Edy Susanto saat dihubungi KalderaNews menegaskan saat ini baru kelompok rentan yang diungsikan, sementara itu mereka yang tetap tinggal di lereng Gunung Merapi tetap beraktivitas sambil menunggu informasi peningkatan status.

“Kalau ada informasi peningkatan status, mereka sudah mengerti siapa lagi yang akan mengungsi dengan mobil yang mana. Jadi, tidak berharap akan ada mobil dari bawah yang naik karena takutnya malah membuat macet di jalan. Mereka yang akan turun,” tandasnya.

Ia menambahkan yang terpenting adalah komunikasi dari bawah yang terus mengalir ke atas terkait kondisi dan status Gunung Merapi.

“Harapannya bukan meletus baru lari. Begitu ada peningkatan status yang signifikan, mereka justru turun sebelum ada letusan. Kalau ada letusan baru turun, ora nyandak (tidak cukup). Nggak bisa.”

“Mereka paham, sebelum letusan sudah akan turun. Kalau menunggu meletus pasti telat,” imbuhnya.

Ia pun menegaskan prinsip evakuasi adalah jiwa manusia karena inilah target pertama. Rumusan selanjutnya jiwa dan harta benda. Meski target pertama jiwa, evakuasi harta benda (seperti ternak) juga dilayani. Kalau mau diungsikan, tempat juga sudah tersedia.

Total 817 Pengungsi

Hingga berita ini diturunkan, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Magelang mencatat sudah ada 817 warga kelompok rentan dari wilayah Kawasan Rawan Bencana (KRB) III yang diungsikan ke 9 titik pengungsian.

  • Sebanyak 118 warga dari Desa Krinjing mengungsi di Balai Desa Deyangan, Kecamatan Mertoyudan
  • Sebanyak 115 warga dari Desa Ngargomulyo mengungsi di Gedung NU Ketaron, Gedung Futsal Tejowarno, Gedung PPP Prumpung dan PAY Muhammadiyah di Desa Tamanagung, Kecamatan Muntilan
  • Sebanyak 110 warga dari Desa Keningar mengungsi di SDN 1 Ngrajek dan kediaman Kepala Desa Ngrajek, Desa Ngrajek, Kecamatan Mungkid
  • Sebanyak 476 warga dari Desa Paten mengungsi di Desa Banyurojo dan Desa Mertoyudan di Kecamatan Mertoyudan.

Dari data akumulasi yang dihimpun pengungsi tersebut terdiri dari 279 laki-laki dan 538 perempuan. Adapun ibu hamil sebanyak 13 orang, ibu menyusui 33 orang, lansia laki-laki 46 orang, lansia perempuan 122 orang, balita laki-laki 81 orang, balita perempuan 70 orang, anak laki-laki 57 orang, anak perempuan 61 orang, difabel laki-laki 7 orang, difabel perempuan 12 orang, warga yang sakit/rentan ada 2 orang laki-laki dan 7 perempuan serta pendamping dewasa ada 86 laki-laki dan 220 perempuan.

Edy menegaskan angka pengungsi ini tidak tetap alias naik turun. Meski yang mengungsi kelompok rentan, tapi ada yang mendampingi dan melayani. Ada anggota keluarga kelompok produktif yang melayani.

Nah, mereka ini kadang pulang ke dusun di lereng Gunung Merapi. Jadi, naik turunnya jumlah pengungsi ini karena kelompok produktif yang kadang bergantian melayani kelompok rentan.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*