Memperingati Konferensi Asia-Afrika ke-66, Begini Sejarah, Peserta, dan Hasilnya




Ilustrasi: Bendera negara peserta Konferensi Asia Afrika. (KalderaNews.com/Ist.)
Ilustrasi: Bendera negara peserta Konferensi Asia Afrika. (KalderaNews.com/Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Konferensi Asia-Afrika (KAA) yang digelar di Bandung pada 1955 merupakan warisan Indonesia untuk perdamaian dunia. KAA melahirkan Gerakan Non-Blok untuk menahan Perang Dingin antara Amerika Serikat dengan Uni Soviet.

KAA digelar pada 18-24 April 1955 dan dihadiri 29 pemimpin negara dari Asia dan Afrika. Mereka adalah perwakilan dari separuh penduduk dunia. Pengusung dan penyelenggara KAA adalah Indonesia, India, Birma (Myanmar), Pakistan, dan Sri Lanka.

BACA JUGA:

Kelima negara ini punya keresahan masing-masing, di antaranya keengganan dunia Barat untuk berunding terkait nasib bangsa Asia, ketegangan antara Cina dan Amerika Serikat, keinginan untuk menciptakan perdamaian dengan Cina dan dunia Barat, perlawanan terhadap kolonialisme terutama pengaruh Perancis di Afrika Utara, serta sengketa Indonesia dengan Belanda atas Irian Jaya.

Peserta KAA berasal dari negara-negara di Afrika, Asia, hingga Timur Tengah. Selain lima penyelenggara peserta KAA adalah Afghanistan, Kamboja, Cina, Mesir, Ethiopia, Pantai Emas (Ghana), Iran, Irak, Jepang, Yordania, Laos, Lebanon, Liberia, Libya, Nepal, Filipina, Arab Saudi, Sudan, Suriah, Thailand, Turki, Vietnam Utara, Vietnam Selatan, dan Yaman.

Aspirasi negara-negara Asia-Afrika menghasilkan Dasasila Bandung. Dasasila Bandung juga memuat prinsip-prinsip Piagam PBB dan Lima Prinsip Jawaharlal Nehru, Perdana Menteri India.

Berikut isi Dasasila Bandung:

  1. Menghormati hak-hak dasar manusia dan tujuan-tujuan serta asas-asas yang termuat di dalam Piagam PBB.
  2. Menghormati kedaulatan dan integritas teritorial semua bangsa
  3. Mengakui persamaan semua suku bangsa dan persamaan semua bangsa, besar maupun kecil
  4. Tidak melakukan intervensi atau campur tangan dalam soalan-soalan dalam negeri negara lain
  5. Menghormati hak-hak setiap bangsa untuk mempertahankan diri secara sendirian ataupun kolektif yang sesuai dengan Piagam PBB
  6. Tidak menggunakan peraturan-peraturan dari pertahanan kolektif untuk bertindak bagi kepentingan khusus dari salah satu negara besar dan tidak melakukannya terhadap negara lain
  7. Tidak melakukan tindakan-tindakan ataupun ancaman agresi maupun penggunaan kekerasan terhadap integritas wilayah maupun kemerdekaan politik suatu negara
  8. Menyelesaikan segala perselisihan internasional dengan jalan damai, seperti perundingan, persetujuan, arbitrasi, ataupun cara damai lainnya, menurut pilihan pihak-pihak yang bersangkutan sesuai dengan Piagam PBB
  9. Memajukan kepentingan bersama dan kerjasama
  10. Menghormati hukum dan kewajiban–kewajiban internasional

KAA Bandung di kemudian hari menginspirasi Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, Perdana Menteri India Jawaharlal Nehru, dan Presiden Mesir Gamal Abdel Nasser membentuk Gerakan Non-Blok.

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*