Stop Kekerasan dan Pelecehan Seksual di Kampus dan Tempat Kerja




Ilustrasi: Stop kejahatan seksual di dalam kampus. (Ist.)
Ilustrasi: Stop kejahatan seksual di dalam kampus. (Ist.)

JAKARTA, KalderaNews.com – Salah satu isu pekerja yang masih luput dari sorotan adalah pelecehan dan kekerasan di tempat kerja. Permasalahan ini masih menjadi masalah yang berkelanjutan mengingat Indonesia belum meratifikasi Konvensi ILO tentang Penghapusan Kekerasan dan Pelecehan Di Dunia Kerja pada Juni 2019.

“Saya pernah mengalami pelecehan maka dari itu saya berinisiasi untuk menciptakan wadah untuk membantu menolong pekerja lainnya untuk bebas dari isu serupa. Layanan Bullyid mencakup dukungan mental atau emosional dan hukum. Kami juga memiliki fitur pelaporan pelecehan yang memungkinkan siapa pun melaporkan pelecehan di tempat kerja secara anonim,” tegas Direktur Eksekutif Bullyid Indonesia, Agita Pasaribu dalam keterangan pers pada KalderaNews.

Ia menjelaskan sebuah riset independen yang dilakukan oleh Never Okay Project dalam Laporan Data Kekerasan Dan Pelecehan Seksual Di Dunia Kerja, terdapat lebih dari 100 kasus dari berbagai sektor yang berhasil terdokumentasi selama tahun 2018-2020. Data ini didukung oleh Catatan Tahunan dari Komnas Perempuan dimana terdapat 299.911 kasuskekerasan terhadap perempuan sepanjang 2020.

BACA JUGA:

Selebriti Hannah Al-Rasyid, pernah mengungkap di akun instagram pribadinya tentang pelecehan seksual yang seringkali terjadi di lokasi syuting. Sejak itu Hannah aktif untuk merangkul dan mengadvokasi korban korban pelecehan seksual dari industri entertainment.

“Tidak hanya pelecehan di lingkungan entertainment namun dalam industri formal pun tidak luput dengan pelecehan terhadap karyawan. Disamping pelecehan dan kekerasan di tempat kerja, pelecehan dan kekerasan juga marak terjadi di tingkatan civitas akademik perguruan tinggi.”

Ia menjelaska perguruan tinggi yang merupakan tempat kalangan intelektual dan terdidik diharapkan dapat memberikan dukungan moril dan moral kepada korban kekerasan dan pelecehan serta menetapkan prosedur yang jelas dan tegas dalam menangani kasus kekerasan dan pelecehan seksual yang terjadi. Namun hal ini berbanding terbalik dengan fakta yang ditemukan di lapangan.

Berdasarkan data yang disampaikan oleh Komnas Perlindungan Perempuan tentang “Tingkat Pendidikan KorbanPelaku Pengaduan Langsung ke Komnas Perempuan CATAHU 2018”, tercatat bahwa kekerasan seksual paling banyak terjadi di lingkungan perguruan tinggi.

Tak hanya itu, maraknya kasus pelecehan dan kekerasan di lingkungan kampus-kampus Indonesia terjadi karena minimnya perspektif gender dalam penanganan kasus pelecehan dan kekerasan di tingkat akademik perguruan tinggi. Hal ini dapat dilihat dari lambannyapenanganan kasus kekerasan seksual yang terjadi di lingkup Universitas Gadjah Mada tahun 2019 dimana kasus ditangani dengan cara yang berbelit-belit dan waktu yang lama. Hal ini justru menghambat korban untuk mencapai keadilan.

“Kami menjamin kerahasiaan korban dengan fitur anonim dan layanan kami tersedia secara online. Sejak diluncurkan pada Mei 2020, kami telah membantu lebih dari 45.000 orang dimana dari jumlah ini sebagian besar pelapor adalah korban pelecehan di tempat kerja.”

* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu




Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*