JAKARTA, KalderaNews.com – Hari Bumi Internasional atau World Environment Day diperingati setiap 5 Juni. Hari Bumi Internasional menjadi pengingat untuk bergandeng tangan, bersama menjaga bumi dari kerusakan. Sebab menjaga bumi saat ini berarti meninggalkan warisan alam yang baik untuk generasi penerus.
European Union in Indonesia atau Uni Eropa di Indonesia mengadakan webinar untuk memperingati Hari Bumi Internasional ini pada Jumat, 4 Juni 2021. Dengan mengundang penggiat lingkungan dari berbagai unsur, acara tersebut berlangsung secara interaktif juga.
BACA JUGA:
- 15 Inspirasi Ucapan Hari Lingkungan Hidup Sedunia, Bahasa Indonesia dan Inggris, Cocok untuk Update Media Sosial
- Inilah Tema dan Sejarah World Environment Day, 5 Juni 2021
- Tasya Kamila: Aktivitas Kita Sehari-hari Pasti Punya Dampak ke Lingkungan Hidup
Terdapat enam narasumber dengan bidangnya masing-masing. Sesi pertama terdapat tiga narasumber, yakni Poetoet Soedarjanto, Ketua Bike to Work (B2W) Indonesia, Ajeng Kartika Sari dari Lestari & Econic Kid, Rara Sekar, musisi dan peneliti yang juga menyukai home gardening.
Sedangkan pada sesi kedua terdapat tiga narasumber dari Program Rare Indonesia, Hari Kushardanto; Program Hutan Itu Indonesia, Christian, serta mantan Puteri Indonesia 2005, Nadine Chandrawinata yang merupakan pendiri Seasoldier.
Acara yang ditayangkan langsung melalui zoom dan kanal resmi YouTube dari EU. Dalam sambutan pembukanya, Henriette Faergemann, Konselor Pertama Lingkungan, Aksi, Iklim Digital-Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam- menyampaikan kampanye #GenerationRestoration yang harus diikuti oleh berbagai pihak untuk menjaga kelestarian alam.
Henriette juga menyampaikan tujuan kampanye #GenerationRestoration ini adalah memotivasi setiap orang dalam aksi nyata untuk melindungi dan peduli terhadap lingkungan.
Aspek yang terkait dalam menjaga kelestarian alam adalah dnegan melakukan penghematan pemakaian bahan bakar yang terbuat dari fosil makhluk hidup, mengurangi polusi, menjaga keseimbangan ketersediaan pangan yang cukup serta andil dalam kampanye perubahan iklim.
Sedangkan sambutan kedua disampaikan oleh Didy Wuryanto yang menjabat Kepala Kelompok Kerja Perencanaan Anggaran dan Hukum Badan Restorasi Gambut dan Mangrove (BRGM). Menurut Didy, Indonesia mempunyai laham gambut terluas ke-4 di seluruh dunia dengan luas 14,9 hektar.
Lahan gambut yang dimaksud paling banyak terdapat di dalam tujuh propinsi yaitu Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Papua.
Rusaknya lahan gambut yang ada di Indoensia itu karena dikeringkan untuk dimanfaatkan. Gambut sebenarnya merupakan ekpsistem yang unik yang terdiri dari batasan sungai dan laut yang terkena air pasang surut.
“Restorasi gambut dapat dilakukan dengan melibatkan banyak pihak dan juga masyarakat. Salah satunya dengan memanfaatkan secara optimal seperti untuk menanam sayuran dan buah,” ujar Didy dalam sambutannya itu.
Semua Narasumber yang diundang merupakan perwakilan komunitas penggiat lingkungan dari segmen yang berbeda-beda. Perwakilan komunitas tersebut mengajak audiens yang sebagian besar berusia 17 hingga 24 tahun untuk berperan aktif dalam menjaga dan melindungi lingkungan sekitar.
Poetoet sebagai wakil dari komunitas B2W Indonesia mengajak pekerja untuk mulai menggunakan sepeda. Karena dengan bersepeda berarti telah aktif menjaga udara bersih dari polusi asap.
Sementara itu Ajeng Kartika Sari yang membawakan tema sustainable fashion mengajak para ibu dan perempuan untuk meninggalkan popok dan pembalut sekali pakai demi menjaga bumi bebas dari sampah tersebut.
Nadine Chandrawinata, pendiri Seasoldier menceritakan awal kisah dia mendirikan Seasoldier adalah saat sering traveling dan berfoto, mantan Puteri Indonesia 2005 itu kerap terganggu dengan adanya sampah di pantai, laut, dan terumbu karang.
Dalam acara webinar World Environment Day 2021 tersebut juga diputar film dokumenter pendek tentang pelestarian gajah di Tangkahan yang telah memasuki fase kritis. Fase kristis merupakan satu langkah sebelum punah untuk hewan yang dilindungi.
Acara webinar ini berlangsung lebih dari tiga jam yang dimulai sejak pukul 14.00 WIB, berlangsung interaktif dengan memberikan polling dan tanya jawab. Pada sambutan penutupnya, Henriette mengajak seluruh audiens untuk aktif melalui media sosial dengan mengunggah kegiatan bukti kita peduli pada lingkungan dengan menggunakan tagar #GenerationRestoration.
Tidak hanya mengajak berperan aktif dalam media sosial, Henriette juga memberikan contoh aksi yang dapat dilakukan dari diri sendiri dan saat ini seperti misalnya menanam tanaman pangan di rumah seperti sayur hijau dan buah yang dikonsumsi sehari-hari atau bila tidak mempunyai lahan dapat secara aktif memberikan dukungan pada lingkungan sekitar yang mempunyai home gardening.
Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam itu juga mengimbau untuk mengonsumsi makanan organic, mengikuti kampanye anti plastic seperti menghindari penggunaan kantong plastik saat belanja dan menghindari botol minum plastik sekali pakai. Membersihkan pantai, merestorasi mangrove, dan menjaga kebersihan saat melakukan pendakian gunung merupakan beberapa kegiatan yang disarankan oleh Henriette Faergemann ini.
Uni Eropa di Indonesia mengadakan peringatan World Environment Day tahun ini di tanggal 4 Juni, satu hari sebelum peringatan yang sebenarnya, yakni 5 Juni karena tanggal tersebut merupakan akhir pekan.
Dari contoh kegiatan yang diungkapkan tersebut di atas, kamu memilih peduli dan melindungi lingkungan sekitarmu dengan cara yang mana? Yuk, kita mulai peduli pada lingkungan sekitar.
* Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan share pada saudara, sahabat dan teman-temanmu!


Leave a Reply