Oleh: Naftali Djoru, Mantan Pembina UKSW (YPTKSW), Mantan Mahasiswa dan Mantan Ketua Badan Perwakilan Mahasiswa Univeritas Kristen Satya Wacana (UKSW)
SALATIGA, KalderaNews.com – Catatan refleksi ini terinspirasi dari sebuah buku kecil berjudul “A Peacock in The Land of Penguins”, karangan Hately & Smith. Buku ini saya temukan di Perpustaskaan UKSW Salatiga pada dekade 90-an.
Saya yakin banyak kalangan akademisi apalagi yang bergerak dalam bidang manajemen organisasi memahami atau sekurangnya mengetahui buku ini.
Dalam konteks buku ini, Negeri Pinguin mewakili lingkungan kerja atau organisasi yang memiliki peraturan dan norma yang sudah jelas sejak hari pertama. Kehidupan selalu serasi, selama siapa saja bermain mengikuti peraturan penguin.
BACA JUGA:
- Tolak dan Tak Percayai Open Forum Rektorat, LK UKSW Tuntut Diadakan Pembina YPTKSW Sebagai Mediator
- Dosen FH UKSW Tantang Rektor Bukti Tuduhan Mangkir 1,5 Tahun dan Hentikan Pembohongan Publik
- Open Forum UKSW Hanya Jadi Ajang Pembelaan Diri, Pencitraan dan Cari Simpati, Satya Wacana Bergerak Ingin Jawaban Atas Tuntutan
Sementara “Merak” melambangkan individu yang unik dan berbeda, sosok yang eksotis dan cerdas, serta memiliki ambisi yang tinggi untuk menantang “status quo”.
Merak mencari tempat di “Negeri Penguin” yang beragam untuk menjalankan semua ambisinya dan menjadi dirinya sendiri. Ia sadar bahwa ia berbeda dengan Penguin.
Namun ia merasa cerdas, berbakat dan mempunyai bulu indah berwarna-warni. Semua ini adalah modal yang dapat diandalkan untuk mengalahkan para pemimpin Penguin yang lain.
Pada akhirnya Merak menjadi pemimpin di Negeri Penguin. Ia berupaya melakukan apa yang dipandangnya terbaik. Negeri Pinguin harus dirubah untuk menghargai keberadaan burung lain. Semua warga Penguin dipaksa untuk taat pada tagline “Satu Hati” dalam versinya.
Siapa yang membangkang, diberikan sanksi atau diusir keluar dari negerinya sendiri. Dengan energi yang luar biasa dan didukung oleh banyak kekuatan kelompok burung lain yang bukan Penguin, bahkan dari sejumlah pinguin tertentu yang juga berambisi mendapatkan keuntungan dari sang Merak, ia berupaya membongkar tatanan hidup dan identitas komunal Pinguin yang dianggap kuno.
Namun sayang ketika ia ingin mencoba hidup dengan dirinya sendiri di negeri Penguin, ia menghadapi masalah. Sebab, pinguin mempunyai iklim organisasi yang dingin, formal, birokratis, memiliki banyak aturan dan standar nilai dan norma idealisme yang tertulis maupun tidak tertulis.
Walaupun bakat Merak diakui di negeri ini, gayanya yang berbeda membuat Penguin merasa tidak nyaman atau tidak tenang. Terlalu banyak hal yang harus di korbankan kalau mengikuti irama hidup dan prinsip “Satu Hati Versi Merak”.
Kalangan Penguin sadar bahwa semakin lama membiarkan Merak beraksi, maka semakin cepat pula negeri Penguin menuju pada kehancuran dan tercerai berai. Mereka sadar bahwa mereka tidak memiliki kemampuan lagi untuk bertahan dari ancaman predator-predator yang sedang mengintai. Gelombang penolakan terhadap kepemimpinan Merak pun terjadi secara massif.
Pada akhirnya Merak menyadari bahwa dia memang tidak pantas berada lama di negeri Penguin. Untuk mempertahankan eksistensinya dan nama besarnya, ia harus pergi ke negeri kesempatan, untuk berkesempatan mengekspresikan dirinya.
Jadi jikalau Anda merasa seperti “Merak” di UKSW maka pergilah ke negeri kesempatan. Bertahan untuk harga diri dan ambisi hanya akan semakin merusak citra dirimu dan terutama merusak tatanan kehidupan yang telah “membudaya” di UKSW.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply