
TANGERANG SELATAN, KalderaNews.com – Nama Leony Vitria Hartanti kembali mencuat ke publik, bukan karena karier musiknya, melainkan karena keberaniannya mengkritik alokasi anggaran Pemerintah Kota Tangerang Selatan (Pemkot Tangsel).
Kritik pedas Leony terhadap penggunaan uang pajak rakyat yang dinilainya janggal ini membuatnya menjadi sorotan dan dielu-elukan sebagai “pahlawan” baru bagi warganet yang peduli akan transparansi anggaran. Lantas, siapakah sosok Leony Vitria Hartanti ini?
Profil dan Perjalanan Karier
Leony lahir di Jakarta pada 20 September 1987. Namanya mulai dikenal luas sebagai anggota grup vokal anak-anak legendaris, Trio Kwek Kwek, bersama Dhea Ananda dan Alfandy.
BACA JUGA:
- Uang Pajak Rakyat Jadi Bancakan Pejabat di Tangerang Selatan? Pemkot Bungkam!
- 5.000 Santri di Pati akan Demo, Tolak Kenaikan Pajak 250 Persen dan Program 5 Hari Sekolah
- Potret Miris Pendidikan Pati, Kadisdikbud Saja Comot Sana-Sini
Grup ini sangat populer di era 90-an dan menghasilkan banyak lagu hits. Setelah Trio Kwek Kwek bubar pada 2001, Leony mencoba bersolo karier dan merilis album perdananya pada 2004.
Selain di dunia musik, Leony juga aktif di dunia seni peran. Ia membintangi sejumlah sinetron dan film, termasuk sinetron “Si Cemplon” dan film “Arisan!” (2003).
Seiring berjalannya waktu, Leony memilih untuk tidak lagi tampil di layar kaca secara reguler, namun ia tetap aktif di media sosial dan menunjukkan ketertarikannya pada isu-isu sosial.
Pendidikan dan Aksi Kritisnya
Di balik sosoknya sebagai mantan penyanyi cilik, Leony dikenal sebagai pribadi yang cerdas dan kritis. Ia pernah menempuh pendidikan di Universitas Pelita Harapan (UPH) mengambil program studi Desain Komunikasi Visual (DKV).
Meskipun tidak menyelesaikannya, Leony melanjutkan studi di universitas yang sama dan berhasil lulus dari program studi Psikologi. Pendidikan inilah yang turut membentuk pola pikir analitis dan kepeduliannya terhadap isu-isu di masyarakat.
Sikap kritis Leony kembali terlihat ketika ia secara terbuka membedah Laporan Keuangan Pemkot Tangsel tahun 2024.
Awalnya, ia tergerak setelah mengalami kesulitan dan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk mengurus pajak warisan rumah orang tuanya.
Dari situlah, ia mulai mempertanyakan penggunaan uang pajak yang dibayarkan oleh masyarakat.
Dengan bekal kemampuan analisis yang baik, Leony berhasil menyoroti pos-pos anggaran yang dinilai tidak proporsional, seperti anggaran untuk perjalanan dinas, konsumsi rapat, dan suvenir yang mencapai miliaran rupiah.
Ia secara gamblang membandingkan angka-angka fantastis ini dengan minimnya alokasi untuk pemeliharaan jalan dan bantuan sosial yang langsung dirasakan oleh rakyat.
Tindakan Leony ini membuktikan bahwa latar belakang pendidikan dan kesadaran sosial bisa menjadi alat yang kuat untuk mengawal transparansi pemerintahan.
Meskipun bukan seorang ahli ekonomi atau politik, ia menggunakan platformnya untuk menyuarakan keresahan masyarakat, membuka diskusi publik, dan menuntut akuntabilitas dari para pejabat.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply