
Rifaldy Fajar akui mencatut nama UMB dan ibu kandungnya dalam 51 riset palsu yang dikirim ke konferensi ilmiah.
JAKARTA, KalderaNews.com– Kasus dugaan riset palsu yang menyeret nama Rifaldy Fajar terus menjadi sorotan publik. Terkini, Rifaldy muncul di public.
Setelah ramai diperbincangkan karena diduga membuat penelitian palsu untuk dikirim ke berbagai forum ilmiah internasional, Rifaldy kini mengakui telah mencatut nama ibu kandungnya serta Universitas Muhammadiyah Bulukumba (UMB) dalam puluhan karya ilmiah.
Pengakuan tersebut disampaikan Rifaldy melalui unggahan Instagram resmi Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UMB pada Rabu (3/6/2026).
BACA JUGA:
- Status S2 Rifaldy Fajar Jadi Sorotan, Erasmus Beri Klarifikasi Resmi
- Profil Rifaldy Fajar dan Prihantini, Sosok di Balik Kasus Riset Palsu
- Geger Pelesiran Riset Palsu, UNY dan Mendiktisaintek Buka Suara
Mohon maaf ke pihak kampus
Dalam klarifikasinya, ia menyampaikan permintaan maaf kepada pihak kampus atas pencatutan nama institusi tanpa izin.
“Saya mengucapkan mohon maaf yang sebesar-besarnya kepada Universitas Muhammadiyah Bulukumba karena telah melakukan kesalahan saya itu mencatut Universitas Muhammadiyah Bulukumba tanpa melakukan konfirmasi kepada Universitas Muhammadiyah Bulukumba secara langsung,” ujar Rifaldy dalam unggahan Instagram @lp2m_umbulukumba.
Sebelumnya, Rifaldy diduga membuat riset palsu dengan memanfaatkan teknologi kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Karya-karya tersebut kemudian dikirimkan ke berbagai konferensi internasional dan dipresentasikan seolah merupakan hasil penelitian akademik yang sah.
Dalam sejumlah abstrak yang dikirimkan ke forum ilmiah internasional, Rifaldy mencantumkan nama Elfiany Syafruddin sebagai peneliti yang terafiliasi dengan Universitas Muhammadiyah Bulukumba.
Setelah ditelusuri, Elfiany diketahui merupakan ibu kandung Rifaldy yang sama sekali tidak terlibat dalam penelitian tersebut.
“Kondisinya ibu saya tidak mengetahui tentang hal ini sehingga saya mencatut secara langsung nama ibu saya dan menggunakan Universitas Muhammadiyah Bulukumba sebagai afiliasinya,” jelas Rifaldy.
Catut afiliasi UMB di 51 karya ilmiah
Tak hanya mencatut nama ibunya, Rifaldy juga mengaku menggunakan afiliasi UMB dalam total 51 karya ilmiah yang telah ia buat.
Berdasarkan pendataan ulang yang dilakukannya dalam beberapa hari terakhir, terdapat 15 karya yang menempatkan nama ibunya sebagai penulis pertama dan 36 karya lain sebagai penulis kedua, ketiga, maupun keempat.
“Setelah saya rekap di dua sampai tiga hari terakhir ini, sebelum saya ke Universitas Muhammadiyah Bulukumba, itu sekitar ada untuk total karya yang menyangkut nama ibu kandung saya dan juga Universitas Muhammadiyah Bulukumba itu ada sekitar kalau ditotal yang nama pertama itu ada sekitar 15 nama, kemudian yang sebagai nama kedua, ketiga, keempat itu ada sekitar 36 nama. Sehingga total ada 51 karya,” tuturnya.
Dalam klarifikasinya, Rifaldy juga menjelaskan alasan dirinya menggunakan nama UMB dan ibu kandungnya dalam riset-riset tersebut. Ia mengaku hal itu dilakukan agar karya ilmiahnya terlihat lebih kuat dan memiliki banyak kolaborasi penelitian.
Bahkan, dalam beberapa abstrak penelitian bidang ilmu komputer dan matematika, Rifaldy mencantumkan departemen Computer Science UMB yang ternyata tidak pernah ada di kampus tersebut.
“Saya menggunakan seperti departemen computer science dari Universitas Muhammadiyah Bulukumba yang mana sama sekali tidak ada,” ujar Rifaldy.
“Dan saya mengakui kesalahan saya dalam hal itu memang semata-mata untuk seperti membuat sebuah karya seolah-olah itu banyak kolaborasi penelitian di dalamnya,” sambungnya.
Berupaya menarik abstrak yang telah terpublikasi
Ia juga berupaya menarik abstrak yang sudah terpublikasi, meskipun belum dapat memastikan seluruh karya tersebut dapat dihapus atau ditarik kembali. Sebab, beberapa konferensi diketahui telah menerbitkan abstrak tersebut sejak 2024 hingga 2025.
“Saya berusaha melakukan penarikan dari abstrak-abstrak yang sudah terpublish-publish Tapi saya belum tahu pasti apakah semua abstrak itu bisa untuk ditarik karena beberapa konferensi ada yang sudah dari 2024,” ujarnya.
Kasus ini menuai perhatian luas dari dunia akademik karena dinilai dapat mencoreng integritas penelitian ilmiah dan nama baik institusi pendidikan Indonesia.
Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi sebelumnya juga telah menyoroti kasus dugaan riset palsu tersebut karena berpotensi menimbulkan citra negatif bagi peneliti Indonesia di forum internasional.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply