
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Menkeu Purbaya Yudhi Sadewa bongkar penyebab IHSG dan Rupiah anjlok parah. Ternyata bukan karena ekonomi Indonesia memburuk.
Pasar keuangan domestik diguncang sentimen negatif pada perdagangan Rabu (3/6). Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) ditutup ambruk hingga 4,11 persen ke level 5.941, bahkan sempat anjlok hampir 5 persen pada sesi I.
Kondisi ini kian diperparah dengan nilai tukar rupiah yang resmi jebol ke level Rp18.000 per dolar AS pada Kamis (4/6) pagi.
SIMAK JUGA: Rabu Kelabu IHSG Longsor Nyaris 6%, Rupiah Sekarat Menuju Rp18.000!
Di tengah kepanikan pasar dan aksi jual bersih (net sell) investor asing yang masif, Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa akhirnya angkat bicara dan mengungkap dalang di balik kejatuhan ini.
Bukan Karena Fundamental Ekonomi Memburuk
Purbaya menegaskan bahwa anjloknya IHSG dan melemahnya mata uang Garuda bukan disebabkan oleh memburuknya fundamental ekonomi Indonesia. Menurutnya, kondisi domestik saat ini masih sangat solid.
“Fundamental ekonomi bagus. Ini mungkin ada ketakutan orang jangka pendek saja. Fondasi ekonomi bagus, enggak ada masalah. Pendapatan pajak di Mei aja masih kencang,” ujar Purbaya saat ditemui di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta.
Ia juga mematahkan anggapan bahwa inflasi Mei yang naik menjadi 3,08 persen menjadi pemicu utamanya. Menurut Menkeu, angka tersebut masih berada dalam rentang target Bank Indonesia, yaitu 2,5 persen plus minus 1 persen. Selain itu, daya beli masyarakat terbukti masih kuat yang terlihat dari ramainya aktivitas ekonomi di sektor perhotelan dan tempat hiburan di berbagai daerah.
Isu dan Rumor Jadi Biang Kerok
Lantas, apa yang membuat pasar modal dan rupiah kebakaran? Purbaya menunjuk hidung banyaknya rumor negatif dan hoaks yang sengaja diembuskan di dalam negeri untuk memicu kepanikan investor jangka pendek.
Salah satu rumor yang paling santer beredar adalah kabar bahwa lembaga pemeringkat internasional, Standard & Poor’s (S&P), akan menurunkan (downgrade) peringkat kredit Indonesia.
“Banyak rumor di dalam negeri. Ada rumor S&P akan mendowngrade. Padahal saya baru mau ketemu nanti malam,” jelasnya.
Nyatanya, hingga saat ini S&P masih mempertahankan outlook stabil untuk Indonesia.
Tekanan Global dan Analisis Pasar
Meski Menkeu optimis, para analis melihat ada faktor lain yang membuat investor global mulai menahan diri.
Direktur Asosiasi Riset dan Investasi Pilarmas Investindo Sekuritas, Maximilianus Nicodemus, menyebut adanya pengaruh eksternal seperti kekhawatiran konflik Timur Tengah yang mengancam pasokan energi, serta rencana tarif baru dari Presiden AS Donald Trump.
Di sisi lain, Head of Research Kiwoom Sekuritas Indonesia, Liza Camelia Suryanata, menilai pasar saat ini sedang menguji kredibilitas kebijakan Indonesia, terutama setelah Moody’s dan Fitch memberikan outlook negatif.
Investor asing pun tercatat melakukan net sell sebesar Rp864 miliar pada perdagangan Rabu, dengan saham-saham pelat merah dan perbankan raksasa seperti BBCA dan BBRI menjadi sasaran jual terbesar.
Menghadapi situasi ini, Menkeu Purbaya meminta masyarakat dan pelaku pasar untuk tidak panik. Pemerintah berkomitmen akan terus mengawal fondasi ekonomi riil sekaligus menjaga komunikasi kebijakan demi memulihkan sentimen pasar.
SIMAK JUGA: Rupiah Anjlok Terus! 5 Tanda Krisis Nyata di Depan Mata!
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply