Viral Dugaan Ijazah Ditahan di SMAN 2 Jogja, Kepala Sekolah Buka Suara

Ijazah (KalderaNews/Ist)
Ijazah (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Viral dugaan penahanan ijazah di SMAN 2 Jogja, kepala sekolah akhirnya buka suara terkait tudingan tersebut.

YOGYAKARTA, KalderaNews.com- Dugaan penahanan ijazah terhadap salah satu lulusan SMAN 2 Yogyakarta mencuat setelah adanya laporan dari wali murid terkait sumbangan sukarela yang belum dilunasi.

Persoalan tersebut bahkan telah dilaporkan ke Inspektorat Jenderal Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen).

Kasus ini bermula saat LSM Sarang Lidi menerima aduan dari seorang wali murid berinisial L (54). Ia menyebut ijazah anaknya yang seharusnya dibagikan pada Jumat (29/5) belum diterima dari pihak sekolah.

BACA JUGA:

Sekretaris Sarang Lidi, Siti Zoura Humairah, menjelaskan bahwa laporan tersebut masuk sehari setelah pembagian ijazah.

Kronologi kasus penahanan ijazah SMA

Berdasarkan penelusuran pihaknya, ijazah siswa berinisial B belum diserahkan karena disebut masih memiliki tanggungan administrasi.

“Hari Sabtu kami coba mendalami kasus, kami ngobrol dengan orang tua anaknya, kami ngobrol dengan anaknya, ternyata ya memang kronologinya di hari Jumat itu anak itu sudah datang ke sekolah siap mengambil ijazah tapi oleh wali kelasnya diarahkan untuk ketemu bendahara dulu,” ujar Zoura, Jumat (5/6/2026).

“Nah, ketika akhirnya anaknya menemui bendahara di ruang bendahara, bendaharanya menyatakan bahwa ‘kamu tidak akan mendapatkan ijazahmu kalau kamu belum menyelesaikan beban administrasi ini’,” lanjutnya.

Beban administrasi yang dimaksud berkaitan dengan sumbangan sukarela saat B pindah dari SMA di Madiun, Jawa Timur ke SMAN 2 Jogja ketika naik ke kelas XI.

Menurut penuturan Zoura, B lolos seleksi perpindahan bersama tiga siswa lainnya dari total 17 pendaftar. Meski diterima juga di sekolah swasta, keluarga B memilih sekolah negeri karena kondisi ekonomi.

“Nah yang tidak diduga itu, ini dari kesaksian orang tuanya, ketika mereka sudah dinyatakan diterima di SMA 2, kemudian orang tua dikumpulkan yang empat orang ini kemudian diminta untuk mengisi blangko surat sumbangan,” katanya.

“Di situ, dari narasi yang disampaikan di sana di internal secara langsung, itu setiap orang di situ sudah dibebani biaya Rp 10 juta untuk setiap kursi. Nah tiga orang yang lain kebetulan memang punya kemampuan walaupun mereka juga kaget gitu kalau dari kesaksian si ibunya ini, mereka menyanggupi, tapi ibunya ini tidak,” sambungnya.

Meski ijazah telah diterima, laporan ke Inspektorat Jenderal Kemendikdasmen tetap berlanjut. Pihak pelapor menyebut investigasi masih berlangsung.

“Sedang ditindaklanjuti dan akan diinvestigasi lebih lanjut oleh inspektorat. Mereka menunggu bukti-bukti yang lebih mendalam lagi dan kami juga bersiap untuk diajak bekerja sama untuk mendalami bukti-bukti tersebut. Jadi ini memang semua masih berproses,” tegasnya.

Kepsek bantah sekolah menahan ijazah

Sementara itu, Kepala SMAN 2 Jogja, Suprihatin, membantah sekolah menahan ijazah siswa.

“Sebenarnya itu tidak benar Mas. Jadi kami kan kami berikan ijazah itu hari Jumat kemarin secara serentak ini semua siswa kami undang untuk apa mengambil ijazah gitu ya. Jadi kalau diberitakan bahwa kami menahan ijazah, itu adalah tidak benar,” kata Suprihatin.

Ia membenarkan adanya sumbangan sukarela serta pemanggilan siswa ke bendahara pembantu komite saat pengambilan ijazah. Namun menurutnya, hal tersebut hanya sebatas konfirmasi.

“Siswa tersebut sebenarnya hanya dimohon ke bendahara pembantu komite, untuk konfirmasi. Dari pihak sekolah ini hanya ingin mengonfirmasi apa benar bahwa masih belum bisa melunasi sumbangan sukarela gitu,” jelasnya.

“Dimohon untuk konfirmasi ke bendahara. Setelah itu silakan kembali ke wali kelas untuk mengambil ijazah. Nah (B) tidak mengambil ijazah, kemudian pulang. Kami tanya, misalnya ada kesulitan, itu mengapa tidak segera menemui saya di ruang saya. Ternyata jawabannya ‘Bapak tidak ada di sekolah’. Padahal saat itu, hari Jumat itu, kami dari pagi sampai jam 4 sore di sekolah,” lanjut Suprihatin.

Terkait nominal sumbangan, pihak sekolah juga membantah telah menentukan jumlah tertentu kepada wali murid.

“(Besaran sumbangan) Sesuai apa yang dulu disanggupi oleh orang tua. Iya sesuai apa yang dituliskan oleh orang tua. Semua diserahkan kepada orang tua gitu, kan namanya sumbangan sukarela, tidak membayar pun tidak apa-apa,” ujarnya.

“(Hari Rabu) orang tuanya datang ke sini untuk mengambil ijazah. Kemudian kami tidak membicarakan terkait dengan kekurangan itu. Silakan ijazah kami berikan gitu,” pungkasnya.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*