
JAKARTA, KalderaNews.com – Temuan mengejutkan terungkap dalam survei terbaru mengenai program Makan Bergizi Gratis (MBG). Sebanyak 52% siswa tidak puas!
Lebih dari separuh peserta program, tepatnya 52 persen siswa, secara terbuka menyatakan ketidakpuasan mereka terhadap rasa dan kualitas makanan yang disediakan.
Hasil studi ini dipublikasikan peneliti anak dengan dukungan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) dan Chief of Research and Policy (CISDI).
BACA JUGA:
- Lagi-lagi! 25 Siswa SD di Ternate Keracunan Usai Santap Menu MBG, Sekolah Langsung Minta Stop Distribusi
- Viral! Siswa MBG Pangkalpinang Kerap Tulis Surat Cinta dan Request Menu, Bikin Haru Petugas Dapur
- Heboh MBG Bengkulu! Ortu Dilarang Menuntut Jika Anak Keracunan, Wadah Makanan Hilang Wajib Ganti Rugi Rp80.000!
3 masalah utama MBG yang dikeluhkan siswa
Rasa dan kualitas makanan menjadi alasan utama yang paling banyak dipilih siswa sebagai pemicu keengganan mereka untuk menghabiskan jatah MBG.
Namun, ada beberapa keluhan lain yang juga signifikan:
- Rasa dan kualitas makanan: 52% siswa tidak suka, menjadikannya masalah nomor satu.
- Menu makanan: sekitar 33,5 persen siswa mengeluhkan variasi menu yang kurang menarik atau tidak sesuai selera.
- Jadwal pengantaran: sebanyak 22,1 persen siswa kecewa karena jadwal pengantaran makanan yang sering terlambat, berpotensi mengganggu jam belajar atau waktu istirahat mereka.
Peneliti anak teresebut menekankan bahwa faktor “rasa dan kualitas” inilah yang paling banyak mendapat sorotan negatif dari para pelajar.
Keluhan berbeda di tiap wilayah
Survei yang melibatkan analisis dari 1.624 data responden di 12 provinsi ini menunjukkan adanya perbedaan pola keluhan di berbagai wilayah:
- Keluhan dominan soal rasa dan kualitas makanan ditemukan di Yogyakarta, Jakarta, Jawa Barat, Kalimantan Barat, NTB, dan NTT.
- Sementara itu, masalah keterlambatan jadwal pengantaran justru menjadi alasan utama ketidaknyamanan siswa di wilayah Aceh, Jawa Tengah, dan Sulawesi Tengah.
Studi ini menggunakan metode mix method kajian suara anak (Child Led Research/CLR), sebuah pendekatan kualitatif yang dipimpin langsung oleh anak-anak peneliti.
Temuan ini menjadi alarm serius bagi pemerintah untuk segera melakukan perbaikan menyeluruh, tidak hanya pada komposisi gizi, tetapi juga pada manajemen distribusi dan, yang terpenting, cita rasa menu MBG.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply