Kisah Apriyanti, Guru Beragama Kristen yang Mengajar di MTs Negeri, Merawat Keberagaman Tanpa Batas

Apriyanti Br Marpaung (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

TAPANULI, KalderaNews.com – Kisah seorang guru bernama Apriyanti Br Marpaung menjadi perhatian karena perjalanan kariernya yang unik.

Guru CPNS Kementerian Agama (Kemenag) ini merupakan seorang kristiani yang kini mengajar mata pelajaran matematika di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Tapanuli Utara.

Ketika pertama kali bertugas di madrasah tersebut, ia sempat mendengar komentar seperti,

“Kok guru Kristen ngajar di madrasah,” ujarnya saat mengawali kisahnya, dikutip dari laman Kemenag, Kamis (20/11/2025).

BACA JUGA:

Meskipun begitu, Apriyanti mengaku tidak merasa terganggu oleh pertanyaan tersebut. Justru situasi itu digunakannya sebagai momentum untuk memperkuat nilai-nilai moderasi beragama.

Lulusan Universitas Negeri Medan (Unimed) ini resmi menjadi calon pegawai negeri sipil (CPNS) tahun 2025 dan ditempatkan di MTsN Tapanuli Utara, tempat ia mengabdi hingga sekarang.

Apriyanti Br Marpaung merupakan putri dari pasangan Sahala Marpaung dan Harinta Br Purba. Ia adalah anak bungsu dari empat bersaudara dan lahir di Rantau Perapat dalam keluarga Nasrani.

Mengajar dengan Cinta di Tengah Perbedaan: Perjalanan Inspiratif Guru Kristiani di Madrasah

Setiap hari, Apriyanti mengaku mendapatkan banyak pelajaran baru. Ia menyaksikan bagaimana para siswa dan rekan-rekan guru menjalankan nilai-nilai ajaran Islam dengan tulus.

Pengalaman itu membuatnya belajar memahami budaya, tradisi, dan aktivitas keagamaan mereka, bukan sebagai batasan, tetapi sebagai wawasan yang memperkaya dirinya. Ia menceritakan,

“Yang membuat hati saya terharu, mereka pun menerima saya apa adanya mereka menghargai keyakinan saya, cara saya beribadah, dan setiap langkah yang saya ambil sebagai seorang pendidik,” ungkapnya.

Di lingkungan madrasah, perbedaan bukan menjadi penghalang, tetapi justru menjadi jembatan untuk saling mengenal, mendengar, dan menguatkan satu sama lain.

Pengalaman tersebut membuat Apriyanti semakin yakin bahwa moderasi beragama tidak hanya berhenti pada materi pembahasan dalam seminar atau modul pelatihan.

Moderasi merupakan sikap yang tercermin dari cara seseorang berinteraksi, memahami perbedaan, dan berkolaborasi meski memiliki keyakinan yang tidak sama.

Mengajar matematika di madrasah membuatnya menyadari bahwa keberagaman bukan sesuatu yang patut dihindari. Sebaliknya, keberagaman adalah kekuatan yang mendorong masyarakat untuk berkembang dan lebih terbuka.

Keberagaman juga mengingatkan bahwa di balik identitas agama yang berbeda, setiap manusia tetap memiliki kebutuhan yang sama: dihargai dan menghargai.

Apriyanti merasa bangga menjadi bagian dari perjalanan tersebut. Ia bangga bisa berdiri di madrasah, mengajar dengan sepenuh hati, dan membuktikan bahwa perbedaan bukan alasan untuk menjauh, melainkan kesempatan untuk lebih dekat, saling belajar, dan menebarkan kasih. Ia menutup kisahnya dengan penyataan,

“Karena pada akhirnya, damai itu lahir ketika kita berani menjadikan perbedaan sebagai kekuatan, bukan ancaman. Dan saya menemukan kedamaian itu di tempat yang mungkin tidak semua orang sangka, sebuah madrasah yang menjadi rumah bagi harmoni di tengah keberagaman,” pungkas Apriyanti.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*