IPO 2025 Turun, Ini Dalih BEI dan OJK

Saham-saham IPO
Saham-saham IPO (EduFulus/Ist)
Sharing for Empowerment

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Menjelang penutupan tahun 2025, Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan dinamika menarik pada aktivitas penghimpunan dana (IPO) di pasar modal.

Meski jumlah perusahaan yang melakukan pencatatan saham perdana atau Initial Public Offering (IPO) tercatat sebanyak 26 emiten atau menurun dibandingkan realisasi tahun 2024 yang mencapai 41 perusahaan, namun nilai dana yang berhasil dihimpun justru melonjak signifikan.

Total dana segar dari IPO tahun ini menembus angka Rp18,11 triliun, melampaui capaian tahun lalu yang hanya sebesar Rp14,35 triliun.

SIMAK JUGA: Target 66 IPO 2025 Jebol Jauh dari Target, BEI Berdalih Kejar Kualitas, Bukan Jumlah Emiten

Angka-angka ini mengindikasikan bahwa meskipun secara kuantitas lebih sedikit, profil emiten yang melantai di bursa tahun ini memiliki skala aset yang lebih besar dan fundamental yang lebih kuat.

Direktur Penilaian Perusahaan BEI, I Gede Nyoman Yetna, menjelaskan bahwa pipeline atau daftar antrean aksi korporasi tetap terjaga sebagai gambaran tingginya minat perusahaan dalam memanfaatkan pasar modal sebagai sumber pendanaan jangka panjang.

Hingga 24 Desember 2025, BEI masih mengantongi sembilan perusahaan dalam antrean IPO, yang didominasi oleh perusahaan aset skala besar di atas Rp250 miliar.

Sektor keuangan menjadi motor utama dalam antrean tersebut dengan porsi 33,3 persen, disusul oleh sektor industrials.

Nyoman menilai ketersediaan pipeline ini menunjukkan bahwa pasar modal tetap menjadi alternatif utama bagi korporasi untuk melakukan ekspansi dan memperkuat struktur permodalan.

Sengaja Pangkas Target IPO

Kebijakan pasar modal tahun ini juga mengalami pergeseran strategis. Kepala Eksekutif Pengawas Pasar Modal OJK, Inarno Djajadi, menyebutkan bahwa otoritas sengaja memangkas target IPO dari 66 menjadi 45 perusahaan.

Penyesuaian ini mencerminkan fokus OJK dan BEI untuk lebih menekankan kualitas dibandingkan semata mengejar jumlah. Fokus utama diarahkan pada emiten yang memiliki tata kelola (governance) yang baik dan keberlanjutan usaha yang memadai untuk melindungi kepentingan investor.

Selain itu, banyak calon emiten yang memilih untuk menahan diri dan menunggu momentum pasar yang lebih tepat, sebuah langkah yang dinilai sebagai bagian dari proses pendalaman pasar yang sehat dan berorientasi jangka panjang.

Tidak hanya di pasar saham, instrumen Efek Bersifat Utang dan Sukuk (EBUS) juga mencatatkan performa yang luar biasa dengan nilai emisi mencapai Rp215,6 triliun dari 181 emisi sepanjang tahun 2025.

Sementara itu, dari sisi aksi korporasi rights issue, sebanyak 14 perusahaan telah merealisasikan penghimpunan dana sebesar Rp34,47 triliun.

Memasuki tahun 2026, otoritas pasar modal optimistis aktivitas akan semakin bergairah dengan target 50 perusahaan baru yang melantai.

Optimisme ini didorong oleh proyeksi stabilitas makroekonomi dan likuiditas yang membaik, yang diharapkan mampu mendorong lebih banyak korporasi untuk melakukan penggalangan dana di bursa nasional.

SIMAK JUGA: OJK Omon-omon Ubah Aturan Free Float IPO Berdasarkan Kapitalisasi Pasar, Target Naik Jadi 10%

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


592 views