
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terpantau mengalami tekanan cukup dalam pada perdagangan hari ini. Pada 15 menit awal perdagangan IHSG sempat terkoreksi hingga 1,30%.
Pergerakan indeks tidak mampu bertahan di zona hijau seiring dengan sentimen negatif yang datang secara beruntun, baik dari sisi teknis infrastruktur maupun faktor alam yang melanda wilayah pusat ekonomi Indonesia.
Pasar keuangan pada akhir pekan ini cenderung bergerak dalam kewaspadaan tinggi seiring dengan sikap hati-hati para investor.
SIMAK JUGA: Investor Saham “Ngamuk” di X: Stockbit Dikira Error, Ternyata Jaringan Telkomsel yang Bapuk!
Sentimen pasar sangat dipengaruhi oleh kombinasi faktor geopolitik global, kebijakan perdagangan Amerika Serikat yang dinamis, serta rilis data ketenagakerjaan AS yang menjadi acuan penting.
Meskipun Presiden Donald Trump memberikan sedikit angin segar dengan menangguhkan rencana tarif impor 10% terhadap delapan negara Eropa yang semula dijadwalkan berlaku 1 Februari 2026, hal tersebut belum cukup kuat untuk mengangkat bursa domestik.
Akibatnya, IHSG tercatat masih terkoreksi cukup tajam dengan penurunan mencapai 1% pada pembukaan perdagangan Jumat pagi (23/1/2026).
Analis Teknikal MNC Sekuritas, Herditya Wicaksana memperkirakan, indeks saham masih rawan terkoreksi dalam waktu dekat karena saat ini masih berada di fase konsolidasi.
Dalam kondisi itu, indeks berpeluang melemah menguji area 8.988-8.956, sementara jika menguat, pergerakan terdekat diperkirakan menuju 9.024-9.034.
Senada, Analis Binaartha Sekuritas Ivan Rosanova mengatakan IHSG berpeluang melanjutkan pelemahan setelah gagal menembus level 9.100 dan kembali ditekan aksi jual.
“IHSG berpotensi melanjutkan koreksi menuju rentang 8.840-8.900,” ujar Ivan.
Dia pun memprediksi IHSG bergerak di level support 8.890, 8.773, dan 8.619, dan resistance 9.174, 9.261, dan 9.335 hari ini.
Kombinasi Sentimen Negatif: Kripto Hingga Gangguan Jaringan
Anjloknya IHSG hari ini sejatinya juga dipengaruhi oleh beberapa faktor krusial domestik yang saling bersinggungan:
Gangguan Massal Telkomsel & IndiHome
Sebagaimana dilaporkan lumpuhnya jaringan internet Telkomsel secara nasional telah menghambat akses ke berbagai platform investasi.
Hal ini memicu kepanikan investor ritel yang kesulitan melakukan eksekusi order, sehingga likuiditas pasar terganggu.
Pergeseran Selera Risiko Gen Z
Berdasarkan laporan OJK, adanya tren pergeseran investasi anak muda ke aset berisiko tinggi seperti kripto perlahan mulai memberikan tekanan pada pasar saham konvensional, terutama di tengah volatilitas global.
Bencana Hidrometeorologi
Banjir yang merendam 20 ruas jalan di Jakarta dan pemukiman padat di Bekasi memicu kekhawatiran pelaku pasar terhadap potensi perlambatan distribusi logistik dan aktivitas ekonomi emiten besar.
Sektor Properti dan Telekomunikasi Tertekan
Sektor properti menjadi salah satu yang paling terdampak menyusul pernyataan Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, mengenai pengetatan izin perumahan akibat masalah banjir.
Di sisi lain, saham sektor telekomunikasi, khususnya $TLKM, menjadi sorotan investor pasca terjadinya penurunan kualitas layanan data secara nasional yang terjadi sejak kemarin.
SIMAK JUGA: Saham Grup Astra Rontok Hingga INRU Disuspensi, Imbas Prabowo Cabut Izin 28 Perusahaan?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply