JAMBI, KalderaNews.com – Sebuah video yang memperlihatkan seorang guru SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), Jambi, dikeroyok oleh sejumlah murid beredar luas dan menjadi perbincangan di media sosial.
Terdapat dua versi berbeda terkait kronologi kejadian tersebut. Dari keterangan para siswa, insiden bermula dari ucapan oknum guru yang dianggap merendahkan kondisi ekonomi murid.
Sementara menurut versi sang guru, peristiwa ini dipicu oleh teguran siswa yang dinilainya tidak sopan. Akibat teguran tersebut, guru bersangkutan mendatangi ruang kelas untuk meminta penjelasan.
Namun situasi justru memanas hingga membuat emosi memuncak dan guru tersebut secara refleks menampar salah satu murid.
BACA JUGA:
- Viral Perjuangan Guru di Aceh Menyeberang Sungai dengan Tali Sling Demi Bisa Mengajar
- Viral! Akses Sekolah Terendam Banjir, Guru di Lamongan Jemput Siswanya Naik Perahu
- Viral Guru SD di Lampung Protes Paket MBG Busuk, Belasan Siswa Diduga Keracunan
Berawal dari Teguran
Peristiwa pengeroyokan itu terjadi di sebuah SMK di Kabupaten Tanjung Jabung Timur, Jambi, dan melibatkan beberapa siswa. Kejadian yang kemudian viral ini berlangsung pada Selasa (13/01/2026).
Usai video tersebut menyebar luas, korban melaporkan insiden pengeroyokan ke Dinas Pendidikan Provinsi Jambi. Laporan itu disampaikan langsung oleh guru bernama Agus Saputra.
Agus menjelaskan, kejadian bermula ketika dirinya ditegur oleh seorang siswa dari dalam kelas saat kegiatan belajar mengajar berlangsung, sekitar pukul 09.00 hingga 10.00 WIB. Menurutnya, teguran tersebut disampaikan dengan nada tidak pantas dan bahkan sempat direkam olehnya.
“Dia menegur dengan tidak sopan dan tidak hormat kepada saya dengan meneriakan kata yang tidak pantas saat dia belajar,” katanya, pada Rabu (14/01/2026).
Setelah itu, Agus mengaku masuk ke kelas untuk menanyakan siapa siswa yang memanggilnya dengan cara tersebut.
“Kemudian, saya masuk ke kelas saya tanyakan siapa yang memanggil saya seperti itu,” tuturnya.
“Dia langsung menantang saya, katanya seperti itu. Akhirnya saya refleks satu kali menampar muka dia itulah kejadiannya awal,” lanjutnya.
Agus menambahkan, pada jam istirahat siswa tersebut kembali menantangnya. Permasalahan kemudian berlanjut hingga siang hari, sekitar pukul 13.00 sampai 16.00 WIB.
“Terjadi mediasi sebelum ada pengeroyokan terhadap saya. Saya sudah berusaha tenang. Pada saat itu saya masih berada di dalam kantor dengan ada CCTV sebagai pembuktian,” jelasnya.
Sudah Lakukan Proses Mediasi
Dalam proses mediasi, Agus mengaku menanyakan keinginan para siswa.
“Mereka meminta saya meminta maaf untuk hal yang tidak saya lakukan. Kemudian saya membeli alternatif kepada mereka,” terangnya.
Alternatif yang ditawarkan berupa pembuatan petisi.
“Membuat petisi, kalau seandainya mereka tidak menginginkan saya lagi untuk mengajar di sana. Atau, mereka mengubah perangai (perilaku) mereka menjadi lebih baik lagi dari sekarang,” ujarnya.
Usai mediasi, Agus menyebut dirinya diajak komite sekolah masuk ke ruang kantor. Namun, di lokasi tersebut justru terjadi aksi pengeroyokan.
“Saya diajak komite masuk ke ruang kantor, di saat itulah terjadi pengeroyokan oleh anak kelas 1, kelas 2, kelas 3,” ucapnya.
“Ada videonya, ini sudah viral mungkin. Kemudian juga setelah itu, ini kan banyak nih yang viral di video itu, ada juga yang bawa senjata kita jadinya,” pungkasnya.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply