
JAKARTA, KalderaNews.com – Indonesia sedang tidak baik-baik saja. Data terbaru dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mengungkap kenyataan pahit: dalam kurun waktu 16 tahun terakhir (2010–2025), angka kejadian banjir dan tanah longsor terus merangkak naik.
Fenomena ini bukanlah kebetulan, melainkan dampak nyata dari pemanasan global yang membuat cuaca di tanah air semakin sulit ditebak dan bersifat merusak.
Dalam diskusi “Dialektika Demokrasi” di Gedung DPR RI, Kamis (5/2/2026), Plt. Deputi Bidang Meteorologi BMKG, Andri Ramdhani, memaparkan bahwa tahun 2024 bahkan dinobatkan sebagai tahun terpanas sepanjang sejarah.
BACA JUGA:
- Indonesia Dikepung La Nina Hingga Siklon Penha, BMKG: Siaga Cuaca Ekstrem 6-8 Februari 2026
- Rentetan Gempa Beruntun Hantam Indonesia 3 Hari Terakhir, Masihkah Aman?
- Jadwal Gerhana Matahari Cincin, Bisa Diamati di Indonesia?
Suhu rata-rata nasional melonjak hingga 27,52°C, sebuah rekor yang memicu lahirnya cuaca ekstrem secara masif. Akibatnya, lebih dari 90 persen bencana nasional saat ini didominasi oleh bencana hidrometeorologi seperti banjir, longsor, hingga kebakaran hutan.
Langit yang Semakin “Marah”
Peningkatan suhu ini berdampak langsung pada intensitas hujan yang turun ke bumi. Jika dulu hujan lebat dianggap biasa, kini curah hujan ekstrem di atas 150 mm per hari semakin sering terjadi.
Bahkan, dalam beberapa kasus, langit seolah “tumpah” dengan curah hujan mencapai 300 hingga 400 mm per hari.
Wilayah yang paling babak belur dihantam tren bencana ini meliputi:
- Jawa Barat (Tingkat kejadian tertinggi)
- Jawa Tengah & Jawa Timur
- Aceh dan beberapa wilayah di Sumatra.
Kondisi ini diperparah dengan anomali suhu global yang telah melampaui ambang batas kritis 1,5°C dibandingkan masa praindustri.
Artinya, energi di atmosfer semakin besar, dan potensi bencana akan terus mengintai jika mitigasi tidak segera diperkuat.
Menanti “Aksi Nyata” di Tingkat Hilir
Meski BMKG memiliki golden time peringatan dini yang cukup panjang—mulai dari tujuh hari hingga hitungan jam sebelum kejadian—kuncinya tetap ada pada kesiapan di lapangan.
BMKG menegaskan bahwa peringatan dini hanyalah sekadar angka dan teks jika pemerintah daerah tidak menerjemahkannya ke dalam pemetaan risiko yang konkret.
“Peringatan dini dapat menyelamatkan nyawa jika seluruh komponen bekerja bersama,” tegas Andri.
Tantangan terbesarnya saat ini adalah memastikan informasi tersebut sampai ke tangan masyarakat dan direspons dengan cepat oleh pihak terkait seperti BNPB, Basarnas, hingga BPBD di daerah.
Pendidikan Bencana Sejak Dini
Senada dengan BMKG, Anggota Komisi V DPR RI, Sudjatmiko, menyoroti pentingnya literasi bencana yang harus disuntikkan bahkan sejak tingkat sekolah dasar.
Melalui program seperti Sekolah Lapang BMKG, masyarakat diharapkan tidak lagi hanya menjadi penonton saat bencana datang, tetapi paham betul langkah kontingensi yang harus diambil.
Sinergi lintas sektor kini bukan lagi pilihan, melainkan keharusan untuk menekan risiko kehilangan harta benda dan nyawa di tengah kepungan perubahan iklim yang kian nyata di tahun 2026 ini.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply