Remaja Hujat Ibu Jualan Live, Dosen IPB Ungkap Dampak & Solusinya

Viral nenek jualan online (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Dosen FKGiz IPB University soroti fenomena remaja hujat ibu jualan live di medsos. Simak analisis psikologis dan dampak ngerinya.

BOGOR KalderaNews.com – Aksi sekelompok remaja yang ramai-ramai melontarkan hujatan dan rundungan (bullying) terhadap seorang ibu yang sedang berjualan secara live di media sosial memicu keprihatinan publik.

Fenomena miris ini turut mendapat perhatian serius dari Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr. Yusuf Ryadi, MKM.

Menurut dr. Yusuf, fenomena tersebut merupakan gejala sosial yang mencerminkan penurunan kualitas interaksi masyarakat digital saat ini.

BACA JUGA:

Media sosial yang sejatinya berfungsi sebagai ruang komunikasi positif, kini justru kerap beralih fungsi menjadi wadah pelampiasan agresi dan emosi negatif.

“Hal ini menunjukkan adanya kesenjangan antara perkembangan teknologi dengan kesiapan budaya dan psikologis masyarakat kita. Bullying di media sosial adalah suatu bentuk kekerasan verbal yang nyata dan berdampak serius,” ujar dr. Yusuf tegas.

Analisis Psikologis: Mengapa Remaja Mudah Menghujat?

Dari sudut pandang medis dan psikologis, dr. Yusuf menjelaskan bahwa remaja berada dalam masa perkembangan di mana kontrol emosi dan pengendalian diri mereka belum matang secara sempurna.

Kondisi psikologis yang labil ini diperparah oleh karakteristik media sosial yang menawarkan anonimitas dan respons instan.

Sifat ruang digital ini membuat para remaja merasa “aman” dan kebal hukum untuk mengekspresikan kata-kata kasar secara spontan di kolom komentar tanpa memikirkan konsekuensi langsung di dunia nyata.

Jika dibiarkan tanpa pengawasan, perilaku toksik ini akan berdampak buruk pada masa depan remaja itu sendiri:

  • Tumbuh dengan pola komunikasi yang kasar dan agresif.
  • Kesulitan membangun hubungan interpersonal yang sehat di masa depan.
  • Berisiko mengalami gangguan psikologis seperti kecemasan sosial (social anxiety) serta gagap beradaptasi di dunia nyata.

Dampak Ngeri bagi Korban: Lansia Paling Rentan Trauma

Serangan verbal digital yang datang bertubi-tubi dan di luar ekspektasi ini membawa dampak psikologis yang sangat destruktif bagi korbannya.

Korban berisiko mengalami guncangan emosional hebat, stres, kecemasan akut, hingga merosotnya rasa percaya diri.

Lebih lanjut, dr. Yusuf menyoroti dampak yang jauh lebih fatal jika korban perundungan tersebut adalah seorang lansia.

“Pada lansia, dampaknya bisa lebih berat karena mereka lebih rentan secara emosional dan tidak terbiasa menghadapi tekanan sosial di ruang digital. Dalam jangka panjang, pengalaman negatif yang terjadi terus-menerus ini dapat meninggalkan luka psikologis berupa trauma, rasa malu, hingga menarik diri dari lingkungan sosial,” imbuhnya.

Solusi Kolektif: Membangun Norma Baru di Ruang Digital

Untuk memutus rantai perundungan digital ini, dr. Yusuf menegaskan perlunya strategi penanggulangan yang berfokus pada aspek psikologis dan sosial secara kolektif melalui tiga pilar utama:

1. Edukasi Berbasis Empati dan Literasi Digital

Remaja harus dibekali literasi digital sejak dini dari lingkungan sekolah, keluarga, hingga komunitas. Edukasi tidak boleh sekadar mengajarkan cara menggunakan gawai, tetapi wajib menekankan etika berkomunikasi, rasa empati, dan cara menghargai orang lain di ruang publik.

2. Gerakan Solidaritas Komunitas (Social Pressure)

Masyarakat digital harus kompak membangun norma sosial baru yang menolak mentah-mentah budaya bullying.

“Dukungan kolektif berupa limpahan komentar positif, pembelaan terhadap korban, serta pelaporan (report) konten perundungan secara massal sangat dibutuhkan untuk menciptakan tekanan sosial, sehingga tindakan menghujat tidak lagi dianggap sebagai sesuatu yang wajar,” tandas dr. Yusuf.

3. Ketegasan Institusi dan Platform Digital

Secara kelembagaan, pemilik platform media sosial wajib memperketat sistem moderasi konten dan aktif mengampanyekan etika digital. Pendekatan hukum dan regulasi yang tegas dari institusi terkait diperlukan agar fenomena ini disadari sebagai masalah bersama yang menuntut solidaritas sosial tinggi.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*