
Pagi mencekam di Sulawesi Utara, gempa dahsyat M 7,7 memicu alarm tsunami, gelombang air laut dilaporkan mulai naik!
MANADO, KalderaNews.com – Gempa bumi tektonik berkekuatan magnitudo 7,7 yang berpusat di Pantai Selatan Mindanao, Filipina, pada Senin, 8 Juni 2026 pukul 06.37.42 WIB, dilaporkan telah memicu gelombang tsunami kecil di beberapa wilayah pesisir Indonesia utara.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG, Wijayanto, mengonfirmasi bahwa mega-guncangan ini merupakan jenis gempa bumi dangkal.
Berdasarkan data teknis terbaru, episenter berada di laut pada koordinat 5,80° LU dan 125,14° BT, tepatnya berjarak 244 kilometer arah barat laut Pulau Karatung, Sulawesi Utara, dengan kedalaman 47 kilometer.
BACA JUGA:
- Gempa M 7,7 Manado Berpotensi Tsunami, BMKG Rilis Status Siaga
- Pasifik “Membara”, Jejak Horor Super El Niño yang Mengguncang Dunia
- Siap-Siap Menggigil! Udara Dingin ‘Bediding’ Mulai Kepung Indonesia
“Gempa bumi yang terjadi merupakan akibat adanya aktivitas subduksi lempeng dengan mekanisme pergerakan naik (thrust fault),” jelas Wijayanto.
Tsunami mulai terdeteksi, warga diminta evakuasi
Bukan sekadar potensi di atas kertas, data terbaru dari Deputi Bidang Geofisika BMKG, Nelly Florida Riama, mengonfirmasi bahwa instrumen mereka telah mendeteksi kedatangan gelombang tsunami di tiga titik pengamatan muka air laut.
Meskipun masih tergolong minor, pergerakan air ini menjadi alarm bahaya yang nyata.
Berikut wilayah yang telah mencatat kedatangan gelombang tsunami awal:
- Melonguane (Kepulauan Talaud): Tinggi gelombang mencapai 0,19 meter (19 cm) pada pukul 07.27 WIB.
- Ulusiau (Sitaro): Tinggi gelombang tercatat 0,18 meter (18 cm) pada pukul 07.27 WIB.
- Loloda (Halmahera Barat): Tinggi gelombang berada di angka 0,09 meter (9 cm) pada pukul 07.20 WIB.
Getaran hingga Kalimantan dan Maluku
Dampak guncangan dari subduksi lempeng ini dirasakan sangat luas. Di Kota Morotai dan Halmahera Utara, intensitas guncangan mencapai skala IV MMI, membuat pintu berderik dan gerabah pecah.
Sementara itu, wilayah padat seperti Manado, Gorontalo, Palu, Ternate, hingga Bitung merasakan getaran skala III MMI, di mana warga merasakan efek nyata seperti truk besar yang melintas tepat di samping rumah.
Parameter awal BMKG bahkan sempat mendeteksi kekuatan guncangan berada di angka M 8,2 sebelum akhirnya dimutakhirkan menjadi M 7,7.
Setelah gempa utama, BMKG setidaknya telah mencatat dua gempa susulan (aftershock) yang cukup kuat dengan magnitudo M 6,7 dan M 5,9.
Status ancaman tsunami
Hingga saat ini, Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama pemerintah daerah terus berkoordinasi ketat untuk menyisir dampak kerusakan. BMKG membagi wilayah terdampak ke dalam dua level peringatan dini:
- Wilayah Berstatus SIAGA (Wajib Evakuasi ke Tempat Tinggi): Kepulauan Sangihe, Kepulauan Talaud, Kota Manado, Minahasa Utara, Minahasa Selatan, Bolaang Mongondow, Buol, Gorontalo, Toli-Toli, Kota Palu, Donggala, Kota Ternate, dan Kota Bitung.
- Wilayah Berstatus WASPADA (Dilarang Beraktivitas di Pantai & Sungai): Kota Tidore, Halmahera, Halmahera Utara, Bulungan, Nunukan, Kota Tarakan, Kutai Timur, Kota Bontang, dan Berau.
BNPB mengimbau dengan sangat agar masyarakat yang berada di wilayah berstatus Siaga segera melakukan evakuasi mandiri secara tertib menuju titik kumpul yang lebih tinggi.
Bagi warga di area Waspada, diwajibkan untuk menghentikan total seluruh aktivitas di kawasan pantai dan tepian sungai hingga status peringatan ini resmi dicabut oleh BMKG.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply