
Profil Om Zein atau Saepul Bahri Binzein, Bupati Purwakarta yang menjadi sorotan usai lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” menuai kontroversi.
PURWAKARTA, KalderaNews.com– Bupati Purwakarta, Saepul Bahri Binzein atau yang lebih dikenal dengan sapaan Om Zein, tengah menjadi perhatian publik.
Kepala daerah yang mulai memimpin Purwakarta pada 2025 itu ramai diperbincangkan setelah lagu berbahasa Sunda berjudul “Lalaki Langit Lalanang Bejat” memicu polemik.
Lagu tersebut pertama kali diperkenalkan dalam acara Hajat Bumi di Lingga Mukti dan semula disebut sebagai ungkapan rasa syukur.
BACA JUGA:
- Profil Kontroversial Bupati Suhardiman Amby yang Serahkan Diri ke KPK
- Sosok Kontroversial dan Profil Pendidikan Bupati Langkat Syah Afandin Kena OTT KPK
- Terjaring OTT KPK, Ini Profil Pendidikan Bupati Tulungagung Gatut Sunu Wibowo
Lagunya mengandung stereotip gender
Namun, setelah liriknya menyebar luas di media sosial, sejumlah pihak menilai beberapa bagian lagu mengandung stereotip gender, merendahkan perempuan, hingga menjadikan persoalan biologis perempuan sebagai bahan candaan.
Salah satu kritik datang dari Atalia Praratya. Melalui unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mempertanyakan pesan yang ingin disampaikan melalui lagu tersebut.
Menurutnya, lirik lagu itu tidak mencerminkan nilai budaya Sunda yang selama ini menjunjung tinggi penghormatan terhadap perempuan.
Di tengah ramainya perdebatan, banyak masyarakat kemudian mencari tahu sosok Saepul Bahri Binzein. Siapa sebenarnya Bupati Purwakarta yang akrab disapa Om Zein tersebut? Berikut profil lengkapnya.
Profil Om Zen atau Saepul Bahri Binzein
Saepul Bahri Binzein lahir di Subang, Jawa Barat, pada 14 Agustus 1972. Politikus Partai Gerindra ini dikenal luas dengan panggilan Om Zein.
Ia resmi menjabat sebagai Bupati Purwakarta ke-10 untuk masa jabatan 2025-2030 setelah dilantik Presiden Prabowo Subianto di Istana Negara, Jakarta, pada 20 Februari 2025. Dalam menjalankan pemerintahan, Om Zein didampingi oleh Wakil Bupati Abang Ijo Hapidin.
Pada Pilkada Purwakarta 2024, pasangan Saepul Bahri Binzein dan Abang Ijo Hapidin berhasil meraih kemenangan dengan memperoleh 251.998 suara atau sekitar 48,48 persen dari total suara sah.
Saat berkampanye, Om Zein mengusung visi Purwakarta Istimewa, sebuah slogan yang dikenal memiliki kemiripan dengan jargon yang sebelumnya dipopulerkan Gubernur Jawa Barat Dedi Mulyadi.
Riwayat pendidikan
Om Zein lahir dan besar di lingkungan keluarga religius. Masa kecilnya banyak dihabiskan di lingkungan pondok pesantren.
Pendidikan dasar ditempuh di SDN Simpar 2 pada 1980-1986. Setelah lulus, ia melanjutkan pendidikan di MTs Matlaul Anwar pada 1986-1989, kemudian meneruskan studi di MAN Subang hingga menyelesaikan pendidikan pada 1992.
Setelah itu, Saepul Bahri Binzein melanjutkan pendidikan tinggi di Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) Miftahul Huda dan berhasil meraih gelar Sarjana Agama Islam (S.Ag.) pada 1997.
Kontroversi Lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat”
Nama Om Zein kembali menjadi sorotan setelah lagu “Lalaki Langit Lalanang Bejat” viral di media sosial. Lagu tersebut memicu kontroversi karena dinilai memuat lirik yang merendahkan perempuan.
Atalia Praratya menjadi salah satu tokoh publik yang menyampaikan kritik secara terbuka melalui media sosial.
“Jujur, saya tidak habis pikir. Sepositif apa pun saya mencoba memaknai lagu ini, saya tidak menemukan sedikit pun ruang untuk menganggap lirik ini sebagai bentuk penghormatan kepada perempuan,” tulis Atalia Praratya di Instagram.
Menurut Atalia, polemik tersebut bukan hanya berkaitan dengan kebebasan berekspresi, tetapi juga menyangkut nilai budaya Sunda yang selama ini dikenal menjunjung tinggi penghormatan terhadap sesama.
“Dari begitu banyak pilihan kata dalam Bahasa Sunda yang indah… Dari begitu banyak pesan yang bisa mengangkat nilai kehidupan… Mengapa justru narasi seperti ini yang dipilih? Sebodoh apa pun saya memahami Budaya Sunda, saya tahu bahwa Budaya Sunda dibangun di atas nilai silih asih, silih asah, silih asuh, silih wawangi..Dan saya percaya, Budaya Sunda tidak pernah mengajarkan kita untuk menertawakan beban biologis seorang perempuan,” jelasnya.
Ia juga menyoroti perjuangan melawan budaya patriarki yang dinilai masih menjadi tantangan hingga kini.
“Hari ini kita mati-matian melawan budaya patriarki yang merendahkan perempuan. Namun mengapa justru narasi yang sangat patriarkal lahir dari karya seorang kepala daerah?” pungkasnya.
Kontroversi semakin meluas setelah publik menyoroti salah satu penggalan lirik lagu yang berbunyi:
“Makasih Tuhan sudah menciptakan aku sebagai laki-laki, aku jadi enggak usah beli kutang yang busanya lebih besar daripada payudara.”
Lirik Lagu Lalaki Langit, Lalanang Bejat dan Artinya
Berikut lirik lagu dalam bahasa Sunda beserta terjemahan bahasa Indonesianya:
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)
Cacak mun jadi awewe (Andai saja menjadi perempuan)
ES-Em-Pe kelas tilu (SMP kelas tiga)
Tos karuron tujuh kali (Sudah keguguran tujuh kali)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)
Teu kudu meuli kutang (Tidak perlu membeli bra)
Nu busana leuwih gede batan susu (Yang busanya lebih besar daripada payudara)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)
Teu kudu ngaprak-ngaprak apotek (Tidak perlu mondar-mandir ke apotek)
Alatan telat bulan (Karena telat datang bulan)
Nuhun Gusti (Terima kasih Tuhan)
Tos nyiptakeun kuring jadi lalaki (Sudah menciptakan aku menjadi laki-laki)
Teu kudu ngalukis halis jeung bulu mata (Tidak perlu melukis alis dan bulu mata)
Sakalina ngiceup hese beunta (Sekali berkedip susah membuka mata)
Lalaki langit (Lelaki langit)
Lalanang bejad (Lelaki bejat)
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply