
SMAN 24 Kabupaten Tangerang rilis aturan ketat potongan rambut hingga sepatu. Simak pro-kontra dan reaksi netizen yang viral.
TANGERANG, KalderaNews.com – Penegakan standar kedisiplinan di lingkungan sekolah kembali menjadi perbincangan hangat di jagat maya. SMAN 24 Kabupaten Tangerang baru-baru ini merilis infografis resmi melalui akun media sosialnya yang memuat aturan ketat mengenai standarisasi penampilan siswa.
Unggahan yang viral setelah dibagikan ulang oleh akun Instagram @localpridegarage tersebut merinci secara detail ketentuan potongan rambut bagi siswa laki-laki, tata cara mengenakan seragam yang rapi, hingga ketentuan khusus mengenai model dan warna sepatu.
BACA JUGA:
- Ini Alasan Disdik DKI Terbitkan Aturan Baru HP Siswa Wajib Dikumpulkan Selama Jam Sekolah
- Aturan Baru Budaya Sekolah Aman dan Nyaman Resmi Berlaku, Mendikdasmen Tekankan Pendekatan Humanis
- Sah! SMA Negeri di Jawa Barat Dilarang Jual Seragam Sekolah dan Buku Pelajaran
Langkah ini diambil pihak sekolah agar siswa, orang tua, maupun masyarakat luas memahami standar estetika dan kedisiplinan yang berlaku di lingkungan SMAN 24 Kabupaten Tangerang.
Picu Pro-Kontra Netizen: Dari Apresiasi Rapi hingga Sentilan Soal Brand
Aturan tegas ini langsung memancing beragam reaksi dari warganet. Banyak netizen senior yang menyambut positif kebijakan ini karena dinilai mengembalikan marwah sekolah negeri yang tertib, sekaligus memicu nostalgia masa sekolah era 90-an dan 2000-an.
1. Dukungan Terhadap Standar Kesopanan Berpakaian
Sebagian besar netizen mendukung aturan ini untuk membendung tren modifikasi seragam sekolah zaman sekarang yang dinilai kurang sopan dan terlalu ketat.
- Akun @leonyacel berkomentar, “Bagus aturannya… Karena yang cowok jadi ganteng dan rapi, yang cewek jadi anggun juga. Kita tahu lah ya tren seragam sekarang yang dipakai murid-murid gimana.. berkerudung tapi dada ditonjolin baju press body… 😌”
- Akun @wina_juno menambahkan, “Bagus… malas banget lihat anak sekolah pakai atasan ketat, rok mini joget-joget enggak jelas.”
- Akun @noirsoulse “Love this!!! Anak2 perlu namanya PERATURAN. Karena terbukti, dibebaskan malah jd kebablasan. Adab dan etika sejalan dengan penampilan itu wajib di tanamkan juga. Yg bilang IS ga gini gitu bodo lah, this works in our society, yg mau ke barat2 an ya sono silahkan.”
- Akun @eightshinningstars “Sekolah kita kan basisnya militer bukan seperti di negara barat, ya wajarlah aturannya seperti ini, yang penting jajaran sekolahnya dapat cuan dari brand yang kerjasama sama mereka, bodo amat siswa jadi kreatif atau pemikir kritis, yang penting patuh dan nurut seperti rombongan bebek yang paling utama wkwk”
- Akun @plengerboys66 “swasta international yg gaada aturan gini murid2nya lebih pinter, kreatif dan cerdas.”
2. Nostalgia Aturan Sepatu Sekolah
Aturan mengenai sepatu juga menjadi sorotan tersendiri. Beberapa netizen membandingkan kelonggaran warna sepatu zaman sekarang dengan aturan masa lalu yang jauh lebih kaku.
- Akun @ryu24_80 menulis, “Keren… sama kayak sekolahku dulu SMA tahun 98.. Gini ya aturan sekolah negeri harusnya.. Jadi enggak ada yang pakai Dr. Martens, Nike Jordan.. Semua seragam… Pokoknya keren namanya juga seragam. Kelihatan disiplinnya.”
- Akun @ridha_kh dan @lutfiralady justru salah fokus dengan detail warna, “Dulu sepatu full hitam, sekarang ada putihnya hihihi. Kalau dulu sepatu malah gak boleh ada warna putihnya harus full hitam,” tulis mereka.
- Akun @wjsamudro “Ini sekolahnya dapet endors dari warrior apa gimana? Tulisannya sepatu hitam polos, tapi yang dipajang hitam putih, malah yg sepatu olahraga hitam full malah g boleh.”
3. Sorotan Terhadap Aturan Merek dan Esensi Disiplin
Meski mayoritas mendukung, ada pula netizen yang mengkritisi atau bingung dengan visualisasi aturan tersebut. Akun @nerdycatto menyentil, “Sepatu pakai diatur brand-nya anjir 🤣”, sementara akun @cerita_guruhonor menimpali dengan kebingungan logistik, “Sepatu hitam polos… tapi bukan hitam.. bingung aku.”
Di sisi lain, akun @rindusalsabilala membagikan cerita sukses sekolah lain di Sragen yang menerapkan aturan serupa dengan pendekatan solutif, seperti mengadakan cukur rambut massal gratis di sekolah agar standarnya seragam tanpa membebani siswa.
Pentingnya Standarisasi Seragam di Sekolah Negeri
Penerapan aturan berpakaian di sekolah pada dasarnya memiliki esensi sosiologis yang mendalam, yakni menghapus pembatas sosial ekonomi (kesenjangan) antar-siswa. Ketika semua siswa mengenakan model seragam dan sepatu yang setara, fokus utama remaja di sekolah akan kembali pada fungsi akademik dan pembentukan karakter, bukan ajang pamer fasilitas atau tren fesyen.
Bagi pihak sekolah, transparansi aturan yang diunggah ke media sosial seperti yang dilakukan SMAN 24 Kabupaten Tangerang ini menjadi langkah preventif yang baik agar tidak terjadi salah paham atau komplain dari orang tua murid di kemudian hari ketika penertiban dilakukan.
Netizen Bandingkan dengan Budaya De Britto
Di tengah dominasi komentar yang mendukung standarisasi kaku di SMAN 24 Kabupaten Tangerang, muncul diskusi menarik dari netizen yang membandingkan sistem sekolah negeri dengan SMA Kolese De Britto Yogyakarta. Sekolah swasta tersebut memang terkenal di Indonesia karena membebaskan siswanya berambut gondrong dan tidak mewajibkan seragam formal.
- Akun @andreas_beng berkomentar, “Kalau mau lihat yang antipodesnya ya SMA De Britto Jogja. Rambut gondrong bebas, baju bebas, tapi lulusannya pada jadi orang dan disiplinnya kuat di otak, bukan di potongan rambut.”
- Akun @gondrongers_id menimpali, “Rambut rapi emang bagus buat dilihat, tapi jangan sampai paradigma kita mandek kalau cowok rapi itu pasti disiplin. Tuh De Britto buktinya, gondrong-gondrong tapi tanggung jawab akademiknya ngeri.”
- Akun @cylen.verenaide “Kalo sman 24 tangerang dan sekolah negeri lain gak banyak yg mampu masuk PTN top seperti UI, UGM, ITB maka tidak perlu imlementasi penyeragaman sepatu, rambut, seragam, dll,, sementara para remaja pria gondrong di de britto jogja lebih hebat dari aspek kecerdasan, kepribadian, kesopanan, dll bahkan lebih banyak masuk PTN.. ini bukti tidak terbantahkan”
- Akun @masssbe_ “Pada bandingin ama sekolah-sekolah elit kaya de Britto dkk. Kalian ga mikir apa kalo yg masuk situ dasarnya udah punya attitude oke, pinter, & dari keluarga kalangan atas bin konglo bin sultan. Ya otomatis ga make sense kalo lu pada bandingin ama sekolah negeri yg isinya banyakan dari kelas menengah bawah, tau sendirikan kualitas anak-anaknya gimana? pasti beda. Bayangin aja le, anak-anak udah kaga ada attitude, “liar”, kaga pinter (akademik/non akademik) masuk sekolah yg bebas, jelas makin2.”
Diskusi komparatif ini menarik kesimpulan bahwa terdapat dua mazhab dalam membentuk karakter siswa. SMAN 24 Tangerang memilih jalur keseragaman fisik untuk menjaga kesetaraan sosial dan ketertiban umum, sementara sekolah seperti De Britto berfokus pada kebebasan ekspresi luar yang diimbangi dengan tuntutan tanggung jawab personal yang tinggi.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply