Reli Bitcoin Dekati US$65.000, Kripto Masih Rapuh Aksi Jual Marak

Kripto
Kripto (EduFulus/Ist)
Sharing for Empowerment

Reli Bitcoin menuju US$65.000 memicu aksi ambil untung dari investor jangka pendek dan LTH. Simak analisis pasar kripto terbaru di sini.

The Path To Financial Freedom, EduFulus – Pasar aset kripto kembali menunjukkan volatilitas tinggi. Harga Bitcoin (BTC) terpantau sukses mencatatkan reli dari kisaran US$61.500 hingga hampir menyentuh level US$65.000 sepanjang pekan ini.

Namun, data pasar terbaru menunjukkan pergerakan ke atas ini dibayangi oleh aksi ambil untung yang masif, memicu kekhawatiran bahwa kelanjutan reli masih sangat rapuh.

Saat ini, Bitcoin diperdagangkan di sekitar level US$64.026 (turun tipis 0,20%), sementara Ethereum (ETH) terkoreksi 1,81% ke posisi US$1.838,37.

SIMAK JUGA: Mengapa BTSE Indonesia Berani Meluncur di Tengah Pasar Kripto yang Sedang Lesu?

Koin kapitalisasi besar lainnya seperti BNB dan XRP juga berada di zona merah, mencerminkan sikap hati-hati para investor.

Data Inflasi AS Jadi Bahan Bakar Utama Reli

Melesatnya harga Bitcoin dalam beberapa hari terakhir didorong oleh sentimen makroekonomi positif dari Amerika Serikat.

Data inflasi berdasarkan Consumer Price Index (CPI) bulan Juni tercatat melambat di angka 3,5% secara tahunan (year-on-year/yoy), lebih rendah dari proyeksi pasar sebesar 3,8%. Sementara itu, inflasi inti bertahan di level 2,6% yoy.

Penurunan ini diperkuat oleh laporan Producer Price Index (PPI) Juni 2026 yang juga berada di bawah perkiraan. Melambatnya data-data inflasi ini meredakan kekhawatiran pasar terhadap potensi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve (The Fed).

Dampaknya, indeks dolar AS dan imbal hasil (yield) obligasi pemerintah AS mengalami tekanan, yang secara teoritis menguntungkan aset berisiko seperti kripto.

Data On-Chain: Investor Jangka Panjang & Pendek Kompak Lepas Aset

Meskipun sentimen makro mendukung, data on-chain yang dihimpun dari CoinDesk menunjukkan sinyal bahaya. Kenaikan harga menuju US$65.000 justru dimanfaatkan oleh dua kelompok investor besar untuk melepas kepemilikan mereka, menambah tekanan pasokan di pasar:

  • Investor Jangka Panjang (Long-Term Holders/LTH): Pemegang Bitcoin yang telah menyimpan aset minimal lima bulan terpantau mulai menjual kepemilikannya. Ironisnya, sebagian dari mereka rela melepas aset meski masih dalam kondisi merugi (realized loss). Kondisi ini mencerminkan rendahnya keyakinan LTH terhadap keberlanjutan reli jangka panjang Bitcoin.
  • Investor Jangka Pendek (Short-Term Holders/STH): Investor yang membeli BTC di harga bawah mulai melakukan aksi ambil untung (profit taking). Nilai realisasi keuntungan mereka kini menembus lebih dari US$4 juta per hari, mendekati pola historis pada Mei 2026 saat Bitcoin menyentuh rekor di atas US$82.000.

Mengapa Kenaikan Pasar Kripto Masih Rapuh?

Analis pasar menilai penurunan inflasi AS pada bulan Juni belum sepenuhnya aman karena utamanya hanya dipicu oleh penurunan harga bensin.

Di sisi lain, eskalasi konflik geopolitik antara AS dan Iran telah mendongkrak harga minyak Brent ke level tertinggi dalam sebulan, yang berisiko memicu kembali tekanan inflasi global.

Analis Bitget, Ryan Lee, bersama trader OTC Wintermute, Jasper De Maere, sependapat bahwa data makro yang melandai ini belum cukup kuat untuk membalikkan tren minat investor secara permanen.

Risiko geopolitik di Timur Tengah tetap menjadi sumber ketidakpastian utama yang memicu volatilitas jangka pendek.

SIMAK JUGA: Inilah 228 Pedagang Kripto Ilegal yang Diblokir, Kamu Jadi Korban?

* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika ada yang tertarik menjalin kerjasama dengan di konten EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*