
Spanyol minta maaf ke Perancis usai mantan PM Mariano Rajoy memicu polemik rasisme terhadap skuad Les Bleus di Piala Dunia 2026.
JAKARTA, KalderaNews.com – Tensi tinggi sempat mewarnai jelang laga semifinal Piala Dunia 2026 antara Spanyol dan Perancis yang akhirnya dimenangkan Spanyol dengan skor 2:0 tidak hanya terjadi di dalam lapangan hijau.
Jagat sepak bola dan diplomasi internasional justru diguncang oleh skandal besar setelah mantan Perdana Menteri (PM) Spanyol, Mariano Rajoy, mengeluarkan pernyataan kontroversial yang dinilai rasis dan xenofobia terhadap skuad Les Bleus.
BACA JUGA:
- Sosok YouTuber Korea Yoon Su-jin, Korban Rasisme Piala Dunia 2026
- Apa Itu “Viking Row”, Viral Ritual Suporter Norwegia di Piala Dunia 2026
- Jadwal Live TVRI Big Match Piala Dunia Spanyol vs Prancis & Inggris vs Argentina 15-16 Juli 2026
Pernyataan tersebut langsung memicu kecaman keras lintas negara, hingga memaksa Pemerintah Spanyol menyampaikan permohonan maaf resmi kepada Pemerintah Perancis untuk meredam krisis diplomatik.
Kronologi Kontroversi Kolom Opini Mariano Rajoy
Mariano Rajoy, yang menjabat sebagai Perdana Menteri Spanyol pada periode 2011–2018, menulis sebuah kolom opini di media daring El Debate.
Dalam tulisan tersebut, Rajoy sebenarnya memuji kualitas teknis tim asuhan Didier Deschamps, namun ia kemudian mempertanyakan identitas nasional para pemain Perancis.
“Perancis memiliki skuad dengan kualitas tertinggi. Namun, tidak ada pemain Perancis di dalamnya,” tulis Rajoy.
Kalimat ini langsung dipahami secara luas sebagai sindiran tajam terhadap komposisi skuad Perancis yang banyak dihuni oleh pemain keturunan Afrika dan Afro-Karibia.
Ujaran yang menilai kelayakan warga negara berdasarkan latar belakang etnis ini pun langsung memantik bola panas di panggung politik Eropa.
Respons Tegas Pemerintah Spanyol: “Tidak Dapat Ditoleransi”
Antisipasi cepat langsung diambil oleh internal eksekutif Spanyol. Menteri Luar Negeri Spanyol, Jose Manuel Albares, mengonfirmasi bahwa dirinya telah menghubungi langsung Menteri Luar Negeri Perancis untuk menyampaikan permohonan maaf resmi. Albares menegaskan bahwa opini Rajoy sama sekali tidak mencerminkan pandangan mayoritas masyarakat Spanyol.
“Ini persoalan yang sangat serius ketika seseorang menggunakan warna kulit untuk menentukan apakah seseorang layak disebut warga negara atau tidak,” ujar Albares kepada media Cadena SER.
Sikap tegas juga ditunjukkan oleh Perdana Menteri Spanyol aktif, Pedro Sanchez. Melalui unggahan di media sosial X saat menghadiri perayaan Hari Nasional Perancis di Paris, Sanchez mengecam keras tindakan mengukur kewarganegaraan berdasarkan nama keluarga, tempat lahir, atau warna kulit, serta menyebut komentar pendahulunya itu sebagai hal yang memalukan.
Di sisi lain, upaya pembelaan datang dari Borja Semper, juru bicara Partai Rakyat (PP), partai tempat Rajoy bernaung. Semper berdalih bahwa tulisan tersebut tidak bermaksud menghina dan hanya sebuah ungkapan bernada sarkastik. Namun hingga saat ini, Rajoy sendiri memilih bungkam dan belum memberikan tanggapan.
Kecaman Total dari Perancis: Persatuan Sayap Kiri hingga Sayap Kanan
Di Perancis, sentimen negatif terhadap pernyataan Rajoy menyatukan seluruh spektrum politik yang biasanya berseberangan.
- Kementerian Luar Negeri Perancis: Menlu Jean-Noel Barrot menyebut opini tersebut sangat menyedihkan dan prihatin. “Perancis tidak memiliki warna kulit. Siapa pun yang mengatakan sebaliknya menunjukkan kebodohan, rasisme, atau bahkan keduanya,” tegas Barrot kepada BFM TV.
- Partai Oposisi (National Rally): Bahkan Julien Odoul, juru bicara dari partai sayap kanan National Rally yang dikenal ketat soal isu imigrasi, secara mengejutkan mengutuk keras Rajoy. “Rajoy adalah seorang rasis. Sesederhana itu,” kata Odoul tanpa basa-basi.
Rentetan Ujaran Rasisme yang Menimpa Skuad Les Bleus
Kasus Mariano Rajoy ini memperpanjang daftar hitam serangan rasial yang diterima timnas Perancis selama gelaran Piala Dunia 2026. Hanya beberapa hari sebelumnya, kapten Les Bleus, Kylian Mbappe, juga menjadi target serangan verbal bernada rasis dari Senator Paraguay, Celeste Amarilla.
Amarilla menyebut Mbappe sebagai “orang Kamerun yang dijajah dan berusaha mengaku sebagai orang Perancis” pasca-kemenangan Perancis atas Paraguay.
Atas insiden tersebut, Mbappe langsung mengecam pernyataan itu sebagai tindakan tercela dari seorang pejabat publik. Federasi Sepak Bola Perancis (FFF) pun telah mengambil langkah hukum dengan mengajukan laporan pidana.
Mengapa Isu Ini Krusial bagi FIFA dan Hubungan Internasional?
Berdasarkan regulasi ketat FIFA terkait kampanye Anti-Racism dan Say No to Racism, insiden yang melibatkan tokoh politik top seperti mantan PM dan Senator menunjukkan bahwa tantangan diskriminasi di dunia sepak bola telah bergeser dari sekadar oknum suporter di tribune menjadi isu geopolitik yang sistemik.
Permintaan maaf instan dari Pemerintah Spanyol menunjukkan bahwa integrasi sosial melalui sepak bola adalah aset diplomasi yang sangat sensitif di Uni Eropa, dan mengusik identitas multikultural sebuah tim nasional dapat berdampak langsung pada hubungan bilateral antarnegara.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnyadi Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply