Viral! Es Abadi Puncak Jaya Papua Punah Akhir 2026, IG BMKG Digeruduk Netizen

Salju di Jayawijaya
Salju di Jayawijaya (KalderaNews/Ist)
Sharing for Empowerment

Unggahan BMKG soal punahnya es abadi Papua viral. Netizen serbu kolom komentar, kritik deforestasi dan kebijakan pemerintah.

JAKARTA, KalderaNews.com – Sebuah unggahan dari akun media sosial resmi Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mendadak viral dan menjadi perbincangan hangat di kalangan netizen.

Melalui akun Instagram resmi @infobmkg dan @ppid_bmkg, institusi tersebut menyampaikan kabar duka bagi ekologi Indonesia: es abadi di Puncak Jaya, Papua, diprediksi akan hilang sepenuhnya dalam waktu dekat.

“🚨 Tidak lama lagi, Indonesia mungkin akan kehilangan es abadinya untuk selamanya.. Es di Puncak Jaya, Papua terus menyusut dari tahun ke tahun. Menurut pakar klimatologi BMKG, es abadi yang telah bertahan ribuan tahun ini diperkirakan bisa hilang sepenuhnya pada akhir 2026 atau awal 2027. Sulit dipercaya, tapi mungkin kita adalah generasi terakhir yang masih sempat melihat es abadi di Indonesia,” tulis akun @ppid_bmkg.

BACA JUGA:

Peringatan dari para pakar klimatologi ini langsung memicu gelombang respons emosional, kritik tajam, hingga perdebatan sengit di kolom komentar.

Duka dan Kemarahan Netizen di Kolom Komentar @infobmkg

Unggahan tersebut tidak hanya memancing rasa sedih, tetapi juga memicu kritik keras dari warganet yang menyoroti isu lingkungan, kebijakan pemerintah, hingga korporasi besar yang dituding menjadi dalang di balik percepatan pemanasan global melalui deforestasi.

Berikut adalah beberapa komentar asli netizen yang mencerminkan keresahan publik:

1. Desakan Agar BMKG Menegur Pemerintah secara Langsung

Banyak netizen yang mengingatkan bahwa BMKG merupakan lembaga pemerintah yang bertanggung jawab langsung kepada kepala negara, sehingga mereka meminta BMKG ikut menyuarakan isu ini di tingkat kabinet.

  • @warna.angin: “Kalian BMKG kan ada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada presiden. Jadi tolong sampaikan kepada presiden, hutan Papua jangan dibabat 🔥 nanti es Puncak Jaya makin cepat mencair”
  • @ratnarifi: “Admin BMKG @infobmkg kalian kan institusi pemerintah. Seharusnya video reels ini dishare ke presiden, menteri Kehutanan, menteri lingkungan hidup, menteri ESDM dan menteri2 terkait. Rakyat sudah menjaga lingkungan tapi pemerintah ugal-ugalan membabat hutan, mencemari sungai dg pertambangan dan sampah tidak dikelola dengan baik. Tag aja deh @prabowo @rajaantoni”
  • @pinkatriyuni: “Akun ini apakah punya BMKG beneran ? Kan sama2 pemerintah ya? Apakah ga bs dkirimin gt pemerintahnya atas efek deforestasi yg mereka lakukan ya? Krn saat ini rakyat mau teriak2 cem apa jg udh ga didenger tuh ma pemerintah 🔥”

2. Tudingan Deforestasi, Alih Fungsi Lahan, dan Industri Sawit

Kritik tajam juga diarahkan pada pembukaan lahan skala besar di wilayah Papua dan industri kelapa sawit yang dianggap merusak ekosistem penyejuk bumi.

  • @sofia_chasas: “jutaan hektar hutan yg dibuka deket sana lah yg paling berpengaruh”
  • @nhf.studio: “Sawit kan pohon😍😍😍” (nada sarkasme)
  • @baihaqi.abdulloh: “Hutan diganti sawit kok gamasuk faktor bro? 🙈”
  • @pillo.firro: “Jangankan salju di puncak jaya yg hilang, Lahh hutan papua aja mau dibikin hilang sama pejabat dn pemerintahnya”

3. Kritik terhadap Kebijakan dan Edukasi yang “Salah Sasaran”

Warganet menilai edukasi menjaga lingkungan jangan hanya dibebankan kepada masyarakat kecil, sementara izin korporasi besar terus dilegalkan.

  • @ririzkakaka: “Coba min di tag para pejabat yang menurutmu harus ikut andil menjaga lingkungan. Jangan hanya masyarakat aja yang di edukasi🙃”
  • @hartiandikha: “Ini postingan buat pemerintah kan? Ga diputar di kantor2 mereka & rumah2nya? Yg paling banyak merusak hutan justru pemerintah dg kebijakannya”
  • @wbng10: “Pegiat lingkungan dan ahli, bahkan netizen yg waras dah banyak yg kritik kan? Oke. Terima kasih sudah diingatkan. Tapi PEMERINTAH juga punya peran sangat jelas. Siapa yang melakukan deforestasi besar-besaran disini? Konten ini bagus, tapi jangan cuma jadi romantisasi untuk ‘quotes sedih pengingat menjaga lingkungan.'”

4. Sudut Pandang Otorefleksi Lingkungan

Di tengah banjir kritik ke pemerintah, beberapa netizen mengingatkan bahwa gaya hidup modern masyarakat secara global juga memiliki andil besar dalam memicu pemanasan global (global warming).

  • @selli.sellivia: “Ya mau gimana lagi, bukan hanya salah pemerintah, masyarakat dunia terutama Indonesia juga bertanggung jawab. Pemanasan global dimana-mana, bukan hanya penebangan hutan… Trus warga kota siap ga hidup tanpa AC? Sekarang tinggal di gunung, dan penginapan gunung aja pasang AC. Perkantoran setiap ruangan ber-AC, tiap petak 3 meter ada ACnya, pepohonan diganti dengan AC. Bravo manusia. 👏”
  • @mansuri_ahmat: “…Ingatlah sebelum gedung gedung pencakar langit ada bumi ini sejuk walaupun musim kemarau tidak sepanas ini, tidak segersang ini. Dan untuk wilayah Indonesia coba bandingkan kota dan desa saat kemarau pasti lebih sejuk didesa yang masih banyak tumbuhan…”

Analisis Sains: Mengapa Es Puncak Jaya Mencair Begitu Cepat?

Secara ilmiah, hilangnya es abadi di Puncak Jaya (Gletser Carstensz) merupakan indikator nyata dari perubahan iklim global. Letak gletser ini yang berada di wilayah tropis membuatnya sangat sensitif terhadap kenaikan suhu atmosfer global.

Ada dua faktor utama yang mempercepat kepunahan es abadi ini:

  • Pemanasan Global & Efek Rumah Kaca: Meningkatnya emisi karbon secara global meningkatkan suhu rata-rata bumi. Di wilayah dataran tinggi seperti Puncak Jaya, kenaikan suhu ini mengubah fase presipitasi; yang seharusnya turun sebagai salju baru untuk menebalkan gletser, justru turun dalam bentuk air hujan yang justru mempercepat pencairan es.
  • Deforestasi Lokal: Keberadaan hutan hujan tropis yang masif di Papua berfungsi sebagai “pendingin alami” regional karena menyerap karbon dan melepaskan uap air melalui transpirasi. Ketika jutaan hektar hutan dibuka untuk area pertambangan, perkebunan sawit, atau infrastruktur, kemampuan alam untuk menstabilkan suhu lokal menurun drastis, meningkatkan suhu udara di sekitar pegunahan.

Peringatan Keras Lintas Sektoral

Unggahan viral dari @infobmkg ini melampaui sekadar konten sedih di media sosial. Ini adalah pembuat alarm ekologis yang nyata. Hilangnya es abadi Puncak Jaya pada akhir 2026 atau awal 2027 adalah bukti fisik bahwa perubahan iklim bukan lagi ancaman masa depan, melainkan realitas hari ini.

Sesuai dengan desakan publik di kolom komentar, penyelamatan lingkungan memerlukan komitmen radikal: tidak hanya menuntut kesadaran masyarakat dalam memilah sampah atau menanam pohon, tetapi juga ketegasan pemerintah dalam mengevaluasi kebijakan tata ruang, menghentikan deforestasi ugal-ugalan, dan memperketat izin industri ekstraktif demi masa depan bumi nusantara.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*