
BRIN ungkap endapan Danau Bandung Purba pemicu amplifikasi gempa dan likuifaksi. Pahami risiko geologi Cekungan Bandung.
BANDUNG, KalderaNews.com – Kota Bandung hari ini dikenal sebagai metropolitan yang dipadati permukiman, gedung bertingkat, dan infrastruktur modern.
Namun, jauh di bawah permukaan tanah yang kita pijak, wilayah Cekungan Bandung menyimpan jejak sejarah geologi yang berdampak langsung pada tingkat risiko bencana hari ini.
Penelitian geologi mengonfirmasi bahwa kawasan ini dulunya merupakan danau purba raksasa. Karakteristik material endapan Danau Bandung Purba yang belum sepenuhnya memadat kini menjadi perhatian serius para ahli kebencanaan karena potensinya dalam memperkuat dampak guncangan gempa bumi.
BACA JUGA:
- Apa Urgensi Riset Jauh-Jauh Sampai Antartika BRIN-NASC Ukraina?
- Studi ITB: Sektor Transportasi Biang Kerok Polusi Udara Jakarta
- BRIN Targetkan Uji Terbang Roket Dua Tingkat pada 2029
Asal-usul Danau Bandung Purba: Sejarah Geologi 90 Ribu Tahun Lalu
Keberadaan Danau Bandung Purba bukanlah sekadar mitos lokal, melainkan fakta ilmiah yang dibuktikan melalui pengeboran dan analisis lapisan tanah.
Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Edi Hidayat, menjelaskan bahwa danau ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik dahsyat Gunung Sunda purba sekitar 90.000 tahun lalu.
Meskipun genangan air telah menyusut ribuan tahun lalu, material yang diendapkan di dasar danau purba tersebut tidak serta-merta hilang dan tetap berada di bawah Cekungan Bandung hingga saat ini.
Karakteristik Lapisan Bawah Tanah: “Aknalogi Agar-agar”
Hasil pengeboran tanah di Cekungan Bandung menunjukkan komposisi lapisan bawah permukaan yang bervariasi, meliputi:
- Lapisan lempung dan endapan rawa kaya material organik.
- Endapan vulkanik muda.
- Sisipan lapisan pasir jenuh air.
Edi Hidayat menekankan bahwa material endapan ini belum mengalami proses litifikasi (pembentukan batuan), konsolidasi, dan pemadatan secara sempurna.
“Posisi endapan ini sebenarnya sekarang belum terlitifikasi, belum terkompaksi dan terkonsolidasi dengan baik. Kalau diibaratkan seperti agar-agar, sebagian masih lunak. Bagian permukaan saja yang keras yang kita tinggali, tetapi sebenarnya di bawah itu masih ada bagian-bagian endapan yang belum terkonsolidasi…,” tegas Edi Hidayat, Peneliti Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN.
2 Ancaman Bencana Geologi Utama di Cekungan Bandung
Kombinasi antara lapisan tanah lunak dan posisi geofisika Bandung yang dekat dengan jalur sesar aktif melahirkan dua ancaman utama saat terjadi guncangan gempa:
1. Bahaya Amplifikasi Guncangan Gempa
Cekungan Bandung dikelilingi oleh batuan keras produk gunung api tua dan sedimen purba, sementara bagian tengahnya diisi oleh material endapan danau yang lunak.
Ketika gelombang gempa merambat dari batuan keras menuju material lunak di tengah cekungan, terjadi fenomena yang disebut amplifikasi, yaitu penguatan guncangan tanah secara signifikan. Penguatan guncangan ini sangat berbahaya bagi ketahanan bangunan di atasnya.
2. Potensi Likuifaksi dan Penurunan Tanah
Di dalam lapisan endapan danau, terdapat sisipan pasir dengan porositas tinggi yang jenuh air. Ketika terjadi guncangan gempa yang kuat, tekanan air di dalam pori-pori pasir meningkat tajam dan dapat mendorong material pasir serta air naik ke permukaan.
Kondisi ini dapat memicu penurunan tanah (subsidence). Meskipun karakteristiknya berbeda dengan likuifaksi berskala masif seperti yang pernah terjadi di Palu, potensi ini tetap menjadi faktor risiko kritis yang wajib diperhitungkan dalam kajian teknis konstruksi.
Ancaman Sesar Lembang dan Patahan Bawah Permukaan
Risiko geologi ini menjadi sangat krusial mengingat posisi Cekungan Bandung yang berdekatan dengan berbagai sumber gempa darat:
Sesar Lembang: Patahan aktif sepanjang ±29 kilometer yang membentang dari barat ke timur, berjarak hanya sekitar 10 kilometer di sebelah utara Kota Bandung.
Patahan Tersembunyi (Blind Faults): Penelitian geofisika mengindikasikan adanya struktur rekahan atau patahan lain yang berada di bawah permukaan Cekungan Bandung dan tidak terlihat langsung di topografi atas.
Langkah Mitigasi: Konstruksi Tahan Gempa dan Penataan Ruang
Mengingat Cekungan Bandung kini telah berkembang menjadi pusat pemukiman padat dan pusat ekonomi, pemahaman atas kondisi bawah tanah harus diterjemahkan ke dalam tata kelola pembangunan yang konkrit.
Penerapan Kode Bangunan (Building Code) Ketat: Setiap pembangunan infrastruktur dan pemukiman wajib mengacu pada standar teknis bangunan tahan gempa yang mempertimbangkan efek amplifikasi tanah setempat.
Mitigasi Struktural: Penguatan struktur bangunan eksisting serta rekayasa fondasi yang mampu menjangkau lapisan tanah keras di bawah endapan lunak.
Mitigasi Non-Struktural: Peningkatan edukasi, simulasi kebencanaan, dan kesiapsiagaan masyarakat di wilayah Cekungan Bandung secara berkelanjutan.
Pengetahuan mengenai sejarah Danau Bandung Purba bukan sekadar catatan geologi masa lalu, melainkan fondasi penting bagi mitigasi risiko bencana demi keselamatan jutaan jiwa yang kini menghuni Cekungan Bandung.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply