
Peringatan HUT ke-35 Kemerdekaan Ukraina di Jakarta menyingkap duka anak-anak Ukraina yang kehilangan masa kecilnya akibat perang.
JAKARTA, KalderaNews.com – Gemerincing kunci pintu rumah beradu di tengah keheningan Main Lobby World Trade Centre (WTC) 2, Jakarta pada Senin malam (24/8/2026).
Puluhan diplomat dan tamu undangan berdiri terpaku sambil memegang benda kecil tersebut.
Kunci, yang biasanya menjadi pintu masuk menuju hangatnya pelukan keluarga dan rasa aman, malam itu menjelma simbol duka yang teramat berat: pengingat bagi ribuan anak-anak Ukraina yang hingga hari ini belum bisa pulang ke rumahnya.
BACA JUGA:
- When House Keys Can No Longer Open the Door Home for Ukrainian Children
- Apa Urgensi Riset Jauh-Jauh Sampai Antartika BRIN-NASC Ukraina?
- Mengenal Sejarah Ukraina, Negeri di Eropa Timur yang Selalu Diperebutkan
Momen haru ini mengiringi peringatan sederhana HUT ke-35 Proklamasi Kemerdekaan Ukraina yang digelar Kedutaan Besar Ukraina di Indonesia di tengah bayang-bayang perang.
Peringatan tersebut dirangkaikan dengan pembukaan pameran foto dan dokumentasi “Living The War: Children”, sebuah kolaborasi antara gerakan kemanusiaan BringKidsBackUA dan Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia.
Suara-Suara yang Berubah Arti
Dalam sambutannya, Kuasa Usaha Ad Interim (Chargé d’affaires) Ukraina untuk Indonesia, Yevhenia Shynkarenko, mengungkapkan betapa perang telah merenggut kepolosan anak-anak di negaranya. Bagi generasi muda Ukraina, hal-hal biasa kini memancarkan ketakutan yang berbeda.
Gemuruh petir tak lagi dianggap sebagai petanda hujan, melainkan kecemasan akan bom yang jatuh. Dentuman kembang api tak lagi membawa kegembiraan festival, melainkan kilatan pertahanan udara.

Bahkan ruang kelas tak lagi sepenuhnya menjadi tempat belajar yang tenang, sebab sewaktu-waktu sirine bahaya udara bisa meraung menuntut mereka berlari ke tempat perlindungan.
Agresi yang bermula sejak 2014 dan meluas menjadi perang skala penuh sejak Februari 2022 telah menyita masa kecil mereka. Anak-anak yang lahir di era konflik ini bahkan tak pernah tahu rasanya hidup dalam kedamaian.
Menolak Romantisasi Ketangguhan
Foto-foto yang terpajang di WTC 2 memang merekam anak-anak yang tetap berusaha menggambar, bermain, dan bermimpi di tengah keterbatasan. Namun, Yevhenia menegaskan bahwa ketangguhan tersebut bukanlah sesuatu yang pantas dipuji atau diromantisasi.
“Tidak ada anak yang seharusnya dipaksa menjadi tangguh akibat perang,” tegas Yevhenia.
Di balik ketegaran di atas kertas foto, ada luka mendalam dan statistik memilukan: lebih dari 20.000 laporan mencatat pemindahan paksa dan deportasi ilegal anak-anak Ukraina dari keluarga mereka.
Meskipun sebagian telah berhasil dipulangkan, ribuan lainnya masih terpisah di bawah kendali asing. Di balik setiap angka tersebut, ada nama, rupa anak, dan keluarga yang cemas menunggu di pintu rumah.
Senada dengan Yevhenia, Duta Besar Delegasi Uni Eropa untuk Indonesia dan Brunei Darussalam, Denis Chaibi, menyoroti kontras kehidupan anak-anak.
Jika anak-anak di Indonesia menganggap suara sirine sebagai ambulans atau polisi yang lewat, anak-anak Ukraina harus berlari menyelamatkan nyawa.
Ia menegaskan kembali pesan kemanusiaan paling mendasar: setiap anak berhak untuk tumbuh dalam kedamaian.
Manusia Adalah Kunci
Melalui kampanye global “People are Key”, Kedubes Ukraina mengajak dunia menempatkan manusia dan keselamatan jiwa sebagai pusat utama dari setiap pembahasan perdamaian.
Bagi Ukraina, kemerdekaan yang memasuki usia ke-35 tahun ini bukan sekadar garis batas di peta atau dokumen politik formal. Kemerdekaan adalah hak anak-anak untuk tumbuh tanpa rasa takut, menjaga bahasa serta budaya mereka, dan memilih masa depannya sendiri.
Diplomasi geopolitik mungkin bisa ditunda dan diperdebatkan berlarut-larut di meja perundingan. Namun, masa kecil seorang anak yang terenggut oleh ketakutan perang tidak akan pernah bisa diputar kembali.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.c


Leave a Reply