Mendiktisaintek Dorong Kampus Bawa Riset ke Desa dan Dorong KKN Tematik

Mendikti Saintek, Prof.Brian Yuliarto. (Ist.)
Mendiktisaintek, Prof.Brian Yuliarto. (Ist.)
Sharing for Empowerment

Mendiktisaintek Brian Yuliarto tegaskan riset perguruan tinggi harus hadir di masyarakat sebagai teknologi tepat guna, bukan sebatas laporan jurnal.

JAKARTA, KalderaNews.com – Riset perguruan tinggi tidak boleh hanya berakhir sebagai tumpukan kertas laporan atau publikasi ilmiah di jurnal internasional.

Kebijakan tegas ini disampaikan oleh Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Mendiktisaintek), Brian Yuliarto, saat membuka Festival Desa Energi Berdikari Pertamina 2026 pada Kamis (27/8/2026).

Mendiktisaintek menekankan pentingnya peran kampus untuk turun langsung menyelesaikan persoalan nyata di masyarakat melalui pengembangan riset terapan dan teknologi tepat guna.

BACA JUGA:

“Riset itu tidak hanya berhenti sampai di ruang kelas, tidak hanya berhenti sampai di laboratorium-laboratorium, atau tidak hanya berhenti sampai di paper-paper di jurnal-jurnal ilmiah. Tetapi lebih dari itu, apa yang bisa dikembangkan, apa yang bisa diselesaikan di masyarakat sekitar,” ujar Menteri Brian.

Desa Binaan sebagai Laboratorium Hidup dan KKN Tematik

Guna mewujudkan riset yang berdampak langsung, Mendiktisaintek mendorong perguruan tinggi memanfaatkan desa binaan sebagai ruang penerapan inovasi. Salah satu skema strategis yang disorot adalah optimalisasi Kuliah Kerja Nyata (KKN) Tematik yang melibatkan dosen serta mahasiswa secara aktif.

Beberapa isu utama yang dinilai krusial dan membutuhkan intervensi teknologi akademisi di antaranya:

  • Pengembangan Energi Baru Terbarukan (EBT)
  • Sistem Pengelolaan Sampah Berkelanjutan
  • Penyediaan dan Pengolahan Air Bersih

Selain membawa teknologi, Menteri Brian menggarisbawahi bahwa masyarakat tidak boleh sekadar menjadi penonton atau objek kegiatan. Pelatihan, penguatan kapasitas, hingga sertifikasi bagi pemuda desa harus diberikan agar teknologi yang diserahkan dapat dioperasikan dan dirawat secara mandiri dalam jangka panjang.

Sinergi Kampus dan Industri: Model Desa Energi Berdikari Pertamina

Langkah hilirisasi riset ini sejalan dengan program yang dijalankan oleh PT Pertamina (Persero). Dalam kesempatan yang sama, Wakil Direktur Utama PT Pertamina (Persero), Oki Muraza, memaparkan praktik baik pemanfaatan teknologi di Pulau Sembur, Kepulauan Riau.

Di lokasi tersebut, Pertamina memanfaatkan energi surya untuk memasok kebutuhan energi nelayan lokal, termasuk mengoperasikan pabrik es dan cold storage. Inovasi ini terbukti mampu meningkatkan nilai tambah hasil perikanan masyarakat pesisir.

Hingga Agustus 2026, Pertamina telah mengelola 269 program Desa Energi Berdikari dan menargetkan bertambah hingga 332 program pada akhir tahun 2026. Fokus program ini meliputi:

  • Pemanfaatan energi baru terbarukan (EBT)
  • Penguatan ketahanan pangan lokal
  • Pemberdayaan masyarakat pesisir
  • Pengelolaan lingkungan dan teknologi tepat guna

Kolaborasi Tiga Pilar untuk Keberlanjutan

Keberhasilan pembangunan desa di masa depan tidak lagi diukur hanya dari seberapa banyak jumlah desa yang dibantu, melainkan dari tingkat kemandirian masyarakat dalam mengelola inovasi tersebut.

Sinergi antara perguruan tinggi (penyedia riset dan SDM), dunia usaha/industri (pendukung program dan pendanaan), serta Local Heroes / masyarakat desa (pengelola lapangan) menjadi kunci utama agar hasil riset dan inovasi akademis benar-benar menjawab potensi serta kebutuhan spesifik tiap daerah.

Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News

*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmuTertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.

Be the first to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published.


*


11 views