
Tren JOMO dorong anak muda bebas stres finansial lewat mindful investing. Cek strategi alokasi aset & reksa dana aman di sini!
The Path To Financial Freedom, EduFulus – Fenomena Fear of Missing Out (FOMO) atau rasa takut ketinggalan tren kerap membuat generasi muda terjebak dalam keputusan finansial yang impulsif.
Derasnya arus informasi di media sosial sering kali memicu kepanikan untuk mengalokasikan uang pada instrumen investasi yang sedang viral tanpa memahami risikonya.
SIMAK JUGA: 7 Tip yang Wajib Diketahui Para Investor Kripto Pemula, Simak Di Sini!
Kini, timbul kesadaran baru yang menjadi tandingan FOMO, yaitu JOMO (Joy of Missing Out). Konsep ini menggambarkan kenyamanan seseorang untuk mengambil jeda dari tekanan sosial dan secara sadar memilih keputusan yang paling sesuai dengan kebutuhan serta nilai personalnya.
Pergeseran Pola Pikir: Dari Ikut-Ikutan Menjadi Mindful Investing
Dalam dunia keuangan, penerapan prinsip JOMO melahirkan pendekatan mindful investing, yaitu mengambil keputusan investasi secara sadar, rasional, dan tidak reaktif terhadap dinamika tren pasar.
Direktur PT Insight Investments Management (PT IIM), Ria M. Warganda, menjelaskan bahwa JOMO mencerminkan transformasi positif dalam cara generasi muda mengelola aset mereka.
“JOMO menunjukkan adanya perubahan cara generasi muda memandang tren. Mereka mulai merasa tidak harus selalu mengikuti apa yang sedang ramai… Dalam konteks keuangan, pola pikir ini dapat menjadi hal yang positif karena mendorong seseorang untuk lebih selektif dalam menentukan ke mana uangnya akan dialokasikan,” ungkap Ria dalam keterangan resminya pada Jumat (25/9/2026).
Ria menegaskan bahwa kemudahan akses platform digital tidak boleh memicu perilaku investasi yang agresif tanpa kalkulasi matang. Popularitas suatu instrumen tidak menjamin kesesuaian dengan profil risiko setiap individu.
Langkah Menerapkan Mindful Investing Bagi Investor Muda
Menerapkan JOMO finansial bukan berarti menutup diri dari peluang pasar, melainkan menyaring peluang yang paling relevan. Sebelum mengalokasikan dana, investor disarankan untuk memetakan empat pilar utama:
- Tujuan Keuangan (Financial Goals): Menentukan target alokasi (misalnya untuk dana darurat, DP rumah, atau pensiun).
- Profil Risiko: Mengenali batas toleransi terhadap fluktuasi nilai aset (konservatif, moderat, atau agresif).
- Jangka Waktu Investasi: Menyesuaikan kebutuhan horizon investasi (pendek, menengah, atau panjang).
- Analisis Karakteristik Produk: Mempelajari prospektus serta laporan lembar fakta (Fund Fact Sheet) sebelum membeli instrumen.
Penerapan pada Reksa Dana: Studi Kasus Reksa Dana Pasar Uang
Salah satu bentuk implementasi JOMO adalah memilih reksa dana yang sesuai dengan profil risiko konservatif serta horizon investasi pendek hingga menengah, seperti Reksa Dana Insight Money (I-Money).
Berdasarkan data Fund Fact Sheet per 31 Agustus 2026, reksa dana pasar uang ini membukukan kinerja yang konsisten melampaui tolok ukurnya (benchmark Infovesta Money Market Fund Index):
- Kinerja Year to Date (YTD): 3,29% (vs. Benchmark 2,65%)
- Kinerja 1 Tahun: 5,20% (vs. Benchmark 4,20%)
- Kinerja 5 Tahun: 30,76% (vs. Benchmark 21,72%)
- Kinerja Sejak Diluncurkan: 94,71% (vs. Benchmark 59,78%)
Kinerja masa lalu tidak menjamin hasil di masa depan. Setiap investor wajib membaca dan memahami prospektus secara objektif sebelum mengambil keputusan investasi.
Investasi Adalah Maraton, Bukan Perlombaan
Melewati tren investasi yang tidak sesuai dengan kebutuhan pribadi bukanlah sebuah kerugian. Mengambil jeda justru memberikan ruang bagi investor untuk mengidentifikasi risiko dan menjaga kesehatan finansial jangka panjang secara berkelanjutan.
SIMAK JUGA: Akun Dormant: Mengapa Investor Pemula Gagal Mulai Investasi Saham?
* Kuy cerdas investasi dan trading dengan artikel edukatif EduFulus lainnya di Google News. Dus, jika Anda ingin bekerjasama dengan kanal EduFulus, silakan hubungi tim di WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply