
Mahasiswa Undip ciptakan Roach Detect, kecoak biohybrid pelacak korban bencana di celah reruntuhan sempit. Cek kecanggihannya!
SEMARANG, KalderaNews.com – Sekelompok mahasiswa dari Jurusan Teknik Elektro dan Teknik Mesin Universitas Diponegoro (Undip) menciptakan inovasi teknologi penyelamatan (search and rescue/SAR) yang unik dan mutakhir.
Mereka berhasil mengintegrasikan teknologi mikro-elektronika dengan kecoak hidup melalui konsep biohybrid robotics yang diberi nama Roach Detect.
BACA JUGA:
- Rahasia Gaharu! Luka Tumbuhan Ini Hasilkan Aroma Mewah
- Abu Anak Krakatau Tersebar Sampai Jauh! BRIN Singkap Rahasia Arah Angin
- Petani Jombang Viral Terbang Naik Drone, Analisis Teknologi dan Keamanannya
Inovasi ini dirancang khusus untuk menelusuri celah reruntuhan bangunan yang sangat sempit dan rawan longsor—wilayah yang sulit dijangkau oleh anjing penyelamat, alat berat, maupun robot mekanis konvensional.
Mengapa Kecoak Madagaskar?
Beda dari kecoak rumahan yang biasa kita jumpai di celah-celah rumah, tim peneliti Undip secara khusus memilih serangga spesies Madagascar Hissing Cockroach (Gromphadorhina portentosa). Ada beberapa keunggulan biologis utama yang menjadi alasannya:
Kecoak Madagaskar (Tak Bersayap + Fisik Kuat) ──► Stabil Saat Diberi Stimulasi ──► Navigasi Presisi & Higienis
- Tidak Memiliki Sayap: Kecoak ini hanya merayap di permukaan sehingga tidak akan terbang liar saat diberi sinyal kontrol elektrik. Kecoak lokal yang hiperaktif justru dapat merusak pembacaan sensor orientasi.
- Cangkang Kuat & Ukuran Ideal: Cangkangnya yang keras mampu menggendong beban hardware tanpa membuat serangga cepat lelah.
- Lebih Higienis & Etis: Berbeda dengan kecoak lokal yang hidup di gorong-gorong dan membawa kuman penyakit, kecoak Madagaskar berasal dari habitat hutan sehingga aman dan bebas dari bahaya infeksi bagi korban bencana.
Cara Kerja Sistem Roach Detect
Sistem inovatif ini mengombinasikan kemampuan mekanis alami tubuh serangga dengan perangkat mikro-elektronika berbentuk “ransel” (electronic backpack).
Karena pergerakan tubuh menggunakan energi biologis alami kecoak, daya baterai pada ransel sepenuhnya dihemat untuk menyokong sensor dan transmisi data.
| Komponen Perangkat | Fungsi & Spesifikasi Teknis |
| Otak Pemroses | Mikrokontroler ESP32-C6 SuperMini dengan konektivitas WiFi built-in. |
| Kamera Termal | Sensor AMG8833 dengan AI Upscaling dari resolusi 8×8 menjadi 32×32 untuk menembus debu tebal. |
| Navigasi Elektrik | Sinyal square wave (3V, duty cycle 50%) pada antena untuk membelokkan arah gerak kecoak. |
| Stabilisator Gerak | Sensor MPU-6050 Gyroscope dan sensor Time of Flight (ToF) agar tidak menabrak hambatan. |
Kamera Termal AMG8833 ──► AI Upscaling (32×32) ──► Transmisi WiFi 2.4 GHz ──► Tampilan Heat Map Real-Time
Data temperatur lingkungan dikirimkan secara real-time via sinyal WiFi 2.4 GHz ke layar monitor petugas SAR di luar area bencana dalam bentuk visualisasi peta panas (heat map) yang mendeteksi pola suhu tubuh manusia.
Mampu Dioperasikan Sebagai Swarm Robotics
Anggota tim peneliti Undip, Verrill Varian Jaya Kusuma, menjelaskan bahwa Roach Detect sangat kompatibel untuk dikembangkan menjadi skema swarm robotics.
Melalui skema ini, tim SAR dapat melepas puluhan unit kecoak sekaligus ke berbagai celah reruntuhan secara bersamaan. Seluruh unit terhubung ke satu router utama yang sama, sehingga posisi serta temuan indikasi korban dari setiap kecoak dapat dipantau secara kolektif dalam satu dashboard kontrol.
Saat ini, tim Undip terus melakukan penyempurnaan dengan fokus memperkecil ukuran hardware, mengintegrasikan navigasi berbasis AI secara otonom, serta memperkuat jangkauan sinyal di area terhalang beton tebal.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com


Leave a Reply