
Erupsi Anak Krakatau sebarkan abu hingga Jakarta & Jawa Barat. Peneliti BRIN ungkap rahasia arah angin & solusinya.
JAKARTA, KalderaNews.com – Letupan erupsi Gunung Anak Krakatau pada 4–5 September 2026 kembali menyita perhatian publik.
Material abu vulkanik dari gunung berapi di Selat Sunda tersebut dilaporkan tidak hanya menyelimuti wilayah terdekat, tetapi melayang jauh hingga ke Banten, Lampung, Jawa Barat, bahkan DKI Jakarta.
Bagaimana mungkin material vulkanik tersebut melesat ratusan kilometer hingga menyeberangi provinsi?
BACA JUGA:
- Waspada! Potensi Erupsi Dahsyat Gunung Anak Krakatau Seperti 1883
- Antisipasi Status Anak Krakatau Berpotensi Siaga (Level 3) Naik Jadi Awas (Level 4)
- Erupsi Memang Reda, Potensi Bahaya Anak Krakatau Masih Mengintai!
Kajian ilmiah terbaru dari Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) membeberkan rahasia di balik fenomena alam ini: pergerakan abu vulkanik di udara ternyata jauh lebih kompleks daripada sekadar “ditiup angin biasa.”
Angin Berlapis: Alasan Abu Vulkanik Bergerak Beda Arah
Peneliti dari Pusat Riset Kebencanaan Geologi BRIN, Dini Nurfiani, menjelaskan bahwa material abu yang terlontar dari kawah Anak Krakatau tidak bergerak secara seragam ke satu arah.
Atmosfer bumi memiliki dinamika angin yang berbeda di setiap ketinggiannya. Hal inilah yang membuat abu di lapisan bawah bergerak ke satu wilayah, sementara abu di lapisan atas melayang ke arah yang bertolak belakang.
“Secara keseluruhan, profil ini menunjukkan bahwa transportasi abu paling kuat terjadi ketika material erupsi mencapai lapisan sekitar 200–300 hPa, sedangkan abu pada lapisan rendah cenderung bergerak lebih lambat dan lebih terbatas secara spasial,” ungkap Dini Nurfiani.
Sebagai gambaran, lapisan 200–300 hPa berada di ketinggian sekitar 9 hingga 12 kilometer dari permukaan bumi—ketinggian jelajah yang rata-rata digunakan oleh pesawat komersial.
Perbedaan Angin Atas dan Bawah: Hasil Simulasi BRIN
Menggunakan data angin tiga dimensi dari NOAA Global Forecast System (GFS) serta pemodelan Ash3d di platform VICTOR Jupyter Notebook, Kelompok Riset Vulkanologi Fisik BRIN memetakan dua dinamika atmosfer utama selama periode erupsi 4–5 September:
- Lapisan Bawah (0,1 – 5,6 km / 1000–500 hPa): Kecepatan angin tergolong lemah hingga sedang (< 10 m/s). Abu yang berada di rentang ini cenderung tertahan dan sebarannya terbatas secara spasial.
- Lapisan Atas (9 – 12 km / 200–300 hPa): Angin melesat kencang hingga kecepatan 20–30 meter per detik. Di lapisan inilah abu terdorong sangat cepat ke arah barat hingga barat daya, memicu sebaran lintas wilayah yang luas.
Skenario simulasi selama 36 jam memperlihatkan sebaran utama mengarah ke barat daya, namun sebagian material terdispersi ke utara hingga menjangkau kawasan Bandar Lampung.
Estimasi Pengendapan Abu di Pulau Sebesi dan Lampung
Selain pola sebaran di udara, pemodelan BRIN mengidentifikasi deposit atau pengendapan abu di daratan. Pulau Sebesi (15 km dari kawah) dan Pulau Sebuku (24 km dari kawah) menjadi lokasi yang menerima akumulasi abu vulkanik dalam simulasi.
Sementara untuk wilayah Lampung, model menghasilkan estimasi ketebalan deposit rata-rata sekitar 12 milimeter. Meski demikian, BRIN memberikan catatan penting terkait data ini.
“Besaran maupun pola spasial deposisi masih memiliki ketidakpastian karena sangat bergantung pada parameter erupsi dan kondisi atmosfer yang digunakan sebagai input model. Karena itu, hasil ini perlu divalidasi dengan data lapangan,” tegas Dini.
Tantangan Erupsi Malam Hari dan Validasi Sampel Fisik
Merekonstruksi pergerakan abu vulkanik bukan tanpa kendala. Salah satu tantangan terbesarnya adalah menentukan ketinggian pasti dari kolom erupsi.
Erupsi yang terjadi pada malam hari membuat pengamatan visual secara langsung terhalang oleh kegelapan dan kabut. Di sisi lain, pembacaan citra satelit tidak selalu mencerminkan titik awal injeksi material di kawah.
Untuk menyempurnakan data pemodelan, tim periset BRIN telah mengumpulkan sampel abu fisik langsung dari lokasi terdampak, termasuk Cilegon dan Lampung. Sampel-sampel tersebut kini tengah melalui analisis laboratorium untuk meneliti:
- Distribusi ukuran partikel abu
- Morfologi dan tekstur permukaan
- Komponen penyusun serta komposisi mineral
Kunci Mitigasi Bencana Berbasis Sains
Langkah integrasi antara pemodelan cuaca digital dan analisis laboratorium material fisik merupakan standar krusial dalam mitigasi kebencanaan modern.
Penyempurnaan data ini bukan sebatas konsumsi akademik, melainkan menjadi dasar vital bagi otoritas keselamatan penerbangan, evaluasi bahaya kesehatan publik, serta penentuan strategi mitigasi bencana yang akurat di masa depan.
Cek Berita dan Artikel KalderaNews.com lainnya di Google News
*Jika merasa artikel ini bermanfaat, silakan dishare pada saudara, sahabat dan teman-temanmu. Tertarik menjalin kerjasama dengan KalderaNews.com? Silakan hubungi WA (0812 8027 7190) atau email: kalderanews@gmail.com.


Leave a Reply